Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Sikap dingin Dika


__ADS_3

Hana terus melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki Dika dengan wajah menunduk. Hingga tanpa ia sadari jika kini Dika menghentikan langkahnya hingga tubuhnya menabrak punggung kokoh Dika.


"Aw..." Hana meringis memegang keningnya yang terasa sakit.


"Apa kau tidak bisa berjalan dengan benar hingga terus menabrak orang lain?" Ucap Dika dengan dingin lalu kembali berjalan tanpa memperdulikan Hana yang masih kesakitan memegang keningnya.


"Di itu selalu saja marah denganku." Hana menghela nafas panjang lalu kembali melanjutkan langkahnya.


"Dika... Kau sudah datang?" Ucap William saat Dika sudah berada di dekat mereka.


"Jika aku sudah berada di depanmu berarti aku sudah datang." Balas Dika dengan datar lalu berjalan ke arah kursi yang masih kosong.


William mendengus. "Dimana Hana? Apa kalian tidak pergi bersama?" Tanya William dengan nada meledek.


Mendengar pertanyaan konyol dari William, Dika sontak menatap William tajam. Sedangkan yang ditatap hanya menampilkan senyum kemenangan.


Rania yang melihat interaksi Dika dan suaminya hanya bisa menggeleng tanpa berbicara.


"Dimana Gerry dan Kyara?" Tanya Dika pada Rania.


"Mereka masih berada di meja makan. Sebentar lagi akan menyusul." Ucap Rania yang diangguki paham oleh Dika.

__ADS_1


Derap langkah kaki yang mengarah kepada mereka membuat perhatian Rania teralihkan ke sumber suara.


"Hana... Akhirnya kau datang juga..." Rania melebarkan senyumannya saat melihat wajah sahabat barunya.


Hana tersenyum lalu bersalaman dengan Rania dan William barang sejenak.


"Apa kau dan William sudah lama berada di sini?" Tanya Hana setelah mendaratkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Rania.


"Tidak begitu lama. Tapi kami sudah sempat makan bersama." Jelas Rania yang diangguki paham oleh Hana.


"Apa kau sudah makan, Hana?" Tanya Rania kemudian.


"Sudah. Sebelum ke sini aku sudah sempat makan bersama teman-temanku lebih dulu." Balas Hana.


"Sudah." Balas Dika dengan singkat.


William melipat bibirnya. Melihat sikap dingin Dika saat ini jika berdekatan dengan Hana membuat kesenangan tersendiri di mata William.


"Hana... Dika... kalian sudah datang?" Kyara yang baru saja kembali dari ruang makan bersama Gerry nampak mengembangkan seyumannya saat melihat kedatangan Hana dan Dika.


"Aku baru saja sampai, Kyara." Hana beranjak dari duduknya lalu memeluk tubuh Kyara barang sejenak. "Apa kau benar-benar tidak mengalami gejala awal kehamilan?" Tanya Hana memastikan kembali ucapan Kyara beberapa waktu yang lalu.

__ADS_1


"Ya begitulah." Balas Kyara tersenyum.


"Dan akulah yang menggantikan ngidamnya." Sahut Gerry dengan bangga yang membuat Hana tertawa kecil.


"Maaf sudah mengganggu waktumu karena ngidam aneh suamiku ya, Hana." Ucap Kyara merasa sungkan.


Hana tersenyum. "Tak masalah. Aku cukup senang melakukannya karena bisa dekat denganmu dan Rania. Apalagi saat ini kalian tengah hamil bersamaan." Ucap Hana dengan tulus.


Kyara dan Rania tersenyum.


"Semoga kau cepat menyusul kami ya, Hana." Ucap Kyara memegang pundak Hana.


"Semoga saja." Balas Hana dengan tersenyum kaku.


Pembicaraan ringan mereka pun terus berlanjut.


"Jika kalian sudah lelah, istirahatlah. Kita bisa melanjutkan pembicaraan esok hari." Ucap Kyara pada kedua sahabatnya saat melihat jam sudah hampir menunjukkan pukul sebelas malam.


"Baiklah. Sepertinya aku sudah mulai mengantuk." Balas Rania sambil menutup mulutnya yang menguap.


"Rania, kau tidurlah di kamar yang biasa kau tempati. Dan Hana, kau bisa memakai kamar sebelah kanan yang ada di lantai satu yang bersebelahan dengan kamar Dokter Dika."

__ADS_1


***


__ADS_2