Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Meminta bertemu


__ADS_3

Di tengah pembicaraan mereka yang diselingi canda tawa, Papa Johan tiba-tiba izin untuk keluar sejenak dengan alasan ingin menelepon rekan bisnisnya. Tanpa rasa curiga Kyara pun mengiyakan. Saat berada di luar, Papa Johan menghampiri Gerry yang masih tetap pada posisinya tadi dengan di dampingi Asisten Jimmy.


"Apa tujuanmu untuk datang menemui Kyara?" Tanya Papa Johan tanpa basa-basi.


Gerry menatap dalam kedua bola mata Papanya. "Aku tidak tahu alasan apa yang mendasari aku untuk datang melihatnya. Yang aku tahu jika saat ini aku sangat ingin berdekatan dengan anakku yang ada di dalam kandungannya."


Papa Johan nampak mengerang. "Apa kau tidak merasa bersalah sedikit pun atas semua perbuatanmu pada istrimu?" Tekan Papa Johan merasa berang.


"Tentu saja. Mungkin sangat sulit untuk ia maafkan." Gerry menghela nafasnya.


"Lantas?"


"Aku akan tetap berusaha untuk memperbaiki kesalahanku. Aku sangat ingin memberikan kasih sayang pada anakku sejak ia masih berada dalam kandungan. Walau aku tahu sudah terlambat."


"Lalu apa rencanamu?"


"Aku juga tidak tau. Namun aku bisa melihat jika Kyara masih tidak ingin bertemu denganku sampai saat ini. Sepertinya dia masih trauma akan perbuatanku dulu." Lirihnya.

__ADS_1


Papa Johan menatap iba pada anaknya. "Berjuanglah untuk mendapatkan hatinya. Dan mulailah sadari hatimu. Sejak awal Kakek sudah mengatakan bukan jika tidak akan memakan waktu lama untuk menyayangi Kyara? Anak itu memang begitu mudah membuat orang lain mencintainya dalam waktu dekat."


"Lalu aku harus bagaimana?" Gerry mengusap kasar wajah tampannya. Entah mengapa ia sungguh ingin membelai perut buncit itu saat ini. Ia juga sangat ingin berdekatan dengan anaknya. Anak yang pernah ia tolak hadir di dunia.


"Cobalah untuk berbicara dengannya. Kyara bukan wanita pendendam. Mungkin saja perlakuan burukmu menjadi trauma untuknya saat ini. Namun kau masih memiliki kesempatan untuk berbicara dengannya. Papa akan mengusahakannya dan kau pikirkan cara untuk bisa memenuhi keinginanmu saat ini."


Papa Johan pun pergi meninggalkan Gerry yang masih mematung di tempatnya.


"Minum dulu, Pa..." Ucap Kyara menyodorkan minumnan yang diantarkan Rania pada Papa Johan yang baru saja mendudukkan kembali tubuhnya di kursi.


"Kyara..." Panggil Papa Johan saat mereka sudah selesai menikmati cemilan yang dihidangkan Rania.


"Iya, Pa?"


"Ada yang ingin Papa bicarakan kepadamu. Bisakah—"


"Bicarakan saja di sini, Johan." Timpal Kakek Surya yang sudah mengetahui apa yang ingin mereka bicarakan.

__ADS_1


Papa Johan menghela nafas barang sejenak sebelum mengatakan apa yang ada di benaknya.


"Kyara... Jika Gerry putra Papa ingin menemuimu saat ini apa kau mengizinkannya untuk bertemu denganmu?" Tanya Papa Johan lembut.


Deg


Jantung Kyara berdetak lebih cepat saat mendengar nama yang sampai saat ini masih memenuhi hatinya.


"Papa jamin jika Gerry tak akan menyakitimu. Nak. Selesaikanlah permasalahan rumah tangga kalian dengan kepala dingin. Tidak baik jika selalu menghindar karena akan berujung kesalahpahaman. Papa tahu jika kau terluka karna ulah anak Papa. Tapi pasti kau juga tahu jika ada makluk kecil yang juga ingin merasakan berdekatan dengan ayahnya saat ini." Tutur Papa Johan.


Kyara nampak menghela nafas sejenak sebelum menjawab ucapan Papa Johan. "Baiklah. Kya mau menemuinya." Finalnya. Lagi pula ia sudah mendapatkan wejangan dari Rania sebelum kedatangan Kakek, Papa dan Mama mertuanya itu. Dan saat ini Kyara sudah memikirkan keputusan yang tepat untuk permasalahan rumah tangganya.


***


Kira-kira apa ya?


Ditunggu chapter selanjutnya. Banyakin like, komen dan votenya yah!:)

__ADS_1


__ADS_2