Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Perjodohan dini


__ADS_3

"Dika..." Seru Rania dan Kyara bersamaan. Sedangkan Hana yang masih asik menemani Baby Rey bermain seketika menghentikan kegiatannya saat mendengar nama yang sering mengacaukan pemikirannya.


"Kyara... Rania..." Dika berjalan ke arah Kyara dan Rania lalu menyalaminya.


"Kau juga datang ke sini?" Tanya Rania tersenyum.


"Ya. Aku diminta Gerry untuk datang ke mansionnya hari ini." Ucap Dika apa adanya.


Kyara dan Rania mengangguk paham.


"Ayo duduk dulu." Ajak Kyara.


"Nanti saja. Aku ingin menemui Gerry dan William." Ucap Dika.


"Gerry dan William ada di taman belakang." Ucap Kyara memberitahu.


"Baiklah. Aku ke sana dulu." Pamit Dika.


"Dika..." Panggil Rania menghentikan langkah Dika.


"Ya. Ada apa Rania?" Tanya Dika.


"Kau belum menyalami Dokter Hana." Ucap Rania menunjuk ke arah Hana yang sedang tertunduk.


"Sepertinya dia sedang sibuk." Balas Dika kemudian melanjutkan langkahnya.


"Dokter Dika itu kenapa?" Tanya Rania merasa heran.


Kyara menaikkan bahunya ke atas. "Aku juga tidak tahu." Balas Kyara.

__ADS_1


Kenapa aku merasa ada yang tidak beres antara Dokter Dika dan Hana? Batin Rania bertanya-tanya. Tak ingin larut dalam pemikirannya, Rani pun segera bangkit mendekati Hana.


"Hana..." Panggil Rania lalu menjatuhkan bokongnya di samping Hana.


"Ya... Ada apa Rania?" Tanya Hana.


"Apa kau dan Dokter Dika memiliki masalah?" Tanya Rania merasa penasaran.


Hana terdiam sesaat. "Aku tidak memiliki masalah apa-apa dengannya." Balas Hana menyakinkan.


"Apa kau yakin? Aku lihat dia selalu bersikap dingin saat berada didekatmu." Tanya Rania tak yakin.


Hana mengangguk. "Dokter Dika memang seperti itu kepada rekan kerjanya yang lainnya. Sifatnya memang dingin dan itu sudah banyak diketahui oleh dokter dan perawat yang lainnya." Jalas Hana.


"Oh..." Rania mengangguk saja. Walau pun hatinya tidak sepenuhnya meyakini ucapan Hana. Aku bukan orang bodoh Hana. Aku dapat melihat tatapan Dokter Dika kepadamu sangat berbeda dengan tatapannya kepada rekan kerjanya yang lainnya. Batin Rania.


Kyara segera beranjak. "Anak Mama sudah mau bobo, ya..." Tanyanya sambil mengambil tubuh Baby Rey di atas karpet.


"Hua..." Baby Rey semakin merengek.


"Aku mau menidurkan Rey sebentar, ya. Sepertinya dia sudah mau tidur." Ucap Kyara.


"Baiklah." Jawab Hana dan Rania hampir berbarengan.


"Baby Rey itu lucu sekali, ya." Ucap Hana menatap wajah Baby Rey yang nampak menguap dalam gendongan Kyara.


Ranua mengangguk membenarkan. "Aku berharap bayiku nanti akan tampan seperti, Rey." Ucap Rania sambil mengelus perutnya yang masih rata.


"Apa kau menginginkan anak laki-laki?" Tanya Hana menatap pada wajah Rania yang sedang tersenyum.

__ADS_1


Rania mengangguk. "Aku sangat mengharapkannya." Balas Rania penuh harap.


"Tapi bagaimana jika anakmu nanti berjenis kelamin perempuan?" Tanya Hana.


"Tak masalah... Laki-laki atau perempuan aku akan tetap menyayangi bayiku. Lagi pula jika anakku nantinya perempuan, aku bisa menjodohkannya dengan Rey." Balas Rania lalu tertawa.


Hana ikut tertawa. "Dia belum lahir ke dunia tapi kau sudah berencana menjodohkannya saja." Hana menggelengkan kepalanya.


"Kau terlalu serius, Hana... Aku hanya bercanda. Namun jika anakku benar-benar perempuan, aku bisa memikirkan kembali ideku itu." Seloroh Rania.


"Rania... Rania..." Hana kembali menggelengkan kepalanya.


***


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...

__ADS_1


__ADS_2