
Pagi-pagi sekali Rania sudah dikejutkan oleh kedatangan Bibi, Ibu dan ayahnya secara tiba-tiba. Rania yang sedang memasak sarapan pagi untuknya pun mematikan api kompor lalu membersihkan tangannya.
"Ibu... Ayah... Kenapa tidak mengabariku jika ingin datang kemari?" Rania mendekat pada Ibu dan Ayahnya yang sedang menunggunya di ruang tamu kemudian menyalaminya.
"Ibu datang ke sini karena ingin menjemputmu. Pagi ini kau akan dirias oleh Tini anaknya ibu Eri untuk acara nanti siang." Jelas Bu Mela.
"Kenapa aku harus di rias segala sih, Bu. Dan kenapa ibu baru bilang sekarang." Tanya Rania heran.
"Hari ini itu adalah hari lamaran kamu, Rania. Tentu saja kau harus dirias biar wajahmu terlihat lebih segar dari biasanya." Jelas Bu Mela. "Dan kau tidak boleh menolak kali ini." Tekan Bu Mela mengingat sikap keras kepala anaknya yang selalu menolak untuk dirias. Itulah sebabnya Bu Mela tidak mengatakannya pada Rania kemarin karena tidak ingin mendengar kata penolakan dari putrinya.
Rania menghembuskan nafas bebas di udara. "Baiklah. Terserah ibu saja." Balas Rania tak ingin membantah. "Apa Ibu, Ayah dan Bibi sudah sarapan?" Tanya Rania saat adiknya sudah ikut bergabung bersama mereka.
"Sudah. Kau sarapan saja lebih dulu. Ibu dan Ayah akan menunggu di sini." Tutur Ibu Mela.
Satu jam kemudian. Keluarga Rania pun sudah beranjak meninggalkan ruko Rania menuju rumah Bu Eri. Hari Itu Ibu Mela meminjam mobil saudara mereka untuk mempermudah transportasi mereka. Untung saja Bibi sudah bisa membawa mobil sehingga mereka tidak harus menyewa sopir lagi.
Perjalanan menuju rumah Bu Eri pun tak memakan waktu lama. Lima belas menit berlalu, mobil yang dikendarai Bibi pun sudah sampai di rumah model minimalis bewarna hijau. Bu Eri beserta Tini anaknya nampak keluar dari dalam rumah menyambut kedatangan mereka.
Setelah melakukan perbincangan singkat, akhirnya Rania pun diminta untuk masuk ke dalam kamar Tini untuk mulai dirias.
__ADS_1
"Kenapa wajahmu cemberut begitu?" Tanya Tini saat mereka sudah masuk ke dalam kamarnya.
"Kau tahu bukan aku paling tidak suka dirias seperti ini?" Geram Rania.
Tini terkekeh. "Hari ini adalah hari lamaranmu. Tentu saja kau harus merias wajahmu agar kau terlihat berbeda dari hari biasanya. Lagi pula apa kau mau mempermalukan Bibi Mela dengan wajahmu yang masam tanpa polesan itu?" Seloroh Tini.
Rania sontak memukul lengan saudaranya. "Banyak bicara! Sekarang rias saja wajahku ini!" Gerutu Rania menjatuhkan kasar bokongnya di atas ranjang.
Tini terkekeh. Kemudian mulai bersiap-siap untuk merias Rania.
*
"Ibu... Calon suami Rania sungguh tampan, ya..." Ucap Tini yang tak kalah heboh menatap pria gagah dan tampan itu.
Ibu Eri mengangguk. "Rania sungguh beruntung." Ucap Bu Eri.
Tini yang memang tidak memiliki jiwa iri dengki itu pun mengangguk. "Semoga saja sikapnya sejalan dengan wajahnya yang enak dipandang." Harap Tini.
Ibu Eri pun mengangguk mengaminkan.
__ADS_1
Sedangkan di dalam kamarnya, jantung Rania berdetak dengan kencang saat mulai mendengar suara orang yang sangat dikenalinya.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
__ADS_1
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...