
Saat ini Gerry dan William tengah berada di rooftop lantai tertinggi di perusahaan Bagaskara. Dua cangkir kopi hitam menemani obrolan dua pria yang tengah terlibat perbincangan serius. Gerry masih menatap dengan intens wajah William yang nampak kusut.
Setelah pembicaraan bisnis mereka selesai di ruangan kerja Gerry, William memang meminta pada Gerry untuk melanjutkan obrolan yang bersifat pribadi di rooftop. Gerry menurutinya saja. Lagi pula ia memiliki waktu luang sebelum jam makan siang.
"Sepertinya perjuanganku kali ini akan berujung sia-sia." Ucap William setelah keheningan cukup lama menyelimuti mereka. Menyandarkan tubuh kekarnya di sandaran kursi sembari memejamkan kedua matanya.
"Sejak kapan kau menjadi seorang pengecut?" Cibir Gerry tanpa mempertanyakan maksud William. Bahkan wajah William kini terlihat sangat putus asa.
"Kau tahu jika kedua orang tuaku akan datang ke Indonesia minggu ini?" Tanya William tanpa menanggapi cibiran Gerry.
"Bagaimana aku bisa tahu jika kau tidak memberitahuku." Ucap Gerry seadanya. "Bukannya bagus jika Om dan Tante datang melihat keadaan anaknya?" Tanyanya merasa aneh.
William berdecak mendengar ucapan Gerry. "Akan bagus jika yang dilihat hanya aku saja. Namun kali ini Mami dan Papi ingin melihat langsung calon menantu mereka yang sudah aku janjikan selama ini." Ungkap William.
__ADS_1
"Lalu apa permasalahannya?" Tanya Gerry yang masih belum memahami ucapan William. Entah kemana pemikirannya saat ini.
"Permasalahannya wanita yang akan aku kenalkan pada Mami dan Papi sepertinya belum bisa aku dapatkan." Ucap William mendengus pasrah. "Kenapa wanita seperti Ara sangat sulit untuk aku dapatkan...." Lirih William mengusap kasar wajahnya. Telah berbagai cara ia lakukan untuk menaklukkan hati wanita itu. Namun hasilnya sepertinya sia-sia mengingat kembali bagaimana respon Kyara yang biasa-biasa saja kepadanya.
"Kyara?" Cicit Gerry. Huh, bagaimana ia bisa lupa jika wanita yang beberapa bulan ini ingin dikenalkan William pada keluarganya adalah Kyara, istrinya!
"Hanya ada satu wanita yang bisa membuat aku kacau seperti ini, Gerry. Kau jangan terlihat bodoh seperti tidak mengetahuinya saja!" Maki William melihat wajah bodoh Gerry.
"Sialan!" Umpat Gerry tak terima. Meja yang tidak bersalah pun menjadi pelampiasan umpatan Gerry.
"Apa maksudmu?" Tanya Gerry memastikan apa yang ia pikirkan saat ini.
"Aku tidak akan menjelaskan apa pun kepadamu. Doakan saja rencanaku kali ini herhasil!" Ucap William.
__ADS_1
Gerry semakin dibuat penasaran tentang rencana apa yang akan dilakukan William untuk mendapatkan istrinya itu. Entah mengapa rasa tidak suka ketika William menyebut nama istrinya itu kembali menyeruak di dadanya.
"Aku hanya ingin membicarakan itu saja kepadamu. Sepertinya aku sudah harus kembali ke perusahaan karena siang ini aku ada pertemuan penting dengan rekan bisnisku dari Semarang." William berajak dari kursi yang di dudukinya setelah sebelumnya menghabiskan kopi hitam miliknya yang masih tersisa setengah. Sebelum benar-benar meninggalkan rooftop, William sejenak memandang ke belakang dimana Gerry tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Entah mengapa aku merasa ada hal yang aneh pada Gerry setiap aku membahas Ara di depannya. Batin William. Kemudian kembali melanjutkan langkah menuju lift.
Sedangkan Gerry, setelah kepergian William, pria itu nampak mengepalkan kedua tangannya menahan emosi di dadanya.
**
Happy reading!:)
Jangan lupa like, komen, vote dan rate bintang 5 supaya author makin semangat nulisnya. Dukungan teman-teman sangat berarti untuk kinerja jari author dalam menulis😉
__ADS_1
Terimakasih sudah membaca karya recehku:)