
"Kenapa tidak dihabiskan? Apa makanannya tidak enak?" Tanya William saat Rania sudah membalikkan sendok di piringnya.
"Makanannya enak. Hanya saja aku tidak berselera." Balas Rania dengan wajah memelas.
William menghela nafasnya. "Minum obatnya, ya." Ucapnya mengingatkan Rania sambil mengarahkan pandangan pada plastik obat Rania.
"Iya. Aku akan menghabiskan obatnya." Balas Rania tersenyum.
Dia semakin manis saja.
William pun kembali melanjutkan makanannya dalam diam. Setelah menghabiskan makanannya, Rania pun segera membersihkan piring bekas makanan mereka.
"Temui aku di balkon." Ucap William saat Rania masih sibuk mengelap meja makan.
Rania terdiam. "Baiklah. Aku akan menyusul." Ucapnya kemudian.
"Apa dia akan memarahiku setelah ini?" Ucap Rania menghela nafas berat. Rania pun buru-buru membereskan meja makan lalu menyusul William di balkon.
"Duduklah." Ucap William saat Rania sudah tegak di sampingnya.
Rania menurutinya.
Keheningan malam pun mulai menyelimuti dua insan yang mulai larut dalam pemikirannya.
"Kenapa kau melakukannya?" Ucap William memecahkan keheningan diantara mereka.
__ADS_1
"Maaf jika aku melakukannya tanpa meminta persetujuanmu." Hembusan nafas Rania terdengar pelan. "Tapi aku memiliki alasan melakukan itu semua."
"Alasan apa yang membuatmu melakukannya? Kau tahu aku sungguh kecewa karena perbuatanmu. Apa kau memang tidak ingin memiliki keturuan dariku?" Ucap William mengutarakan isi hatinya.
"Aku tidak seperti yang kau pikirkan. Aku melakukan itu semua karena dirimu."
"Karena aku?" William menunjuk wajahnya. Tatapannya dan Rania beradu. Saling mengisyaratkan kekecewaan lewat mata masing-masing.
"Aku hanya belum siap memiliki anak dari seorang suami yang belum sepenuhnya menerima kehadiranku di hidupnya." Balas Rania dengan pelan.
"Bagaimana aku bisa memiliki seorang anak dari pernikahan tanpa cinta di dalamnya. Bahkan suamiku sendiri tidak memperbolehkanku untuk mencintainya dan tidak memberikan kepastian pernikahan seperti apa yang sedang kami jalani."
Deg
"Rania..." William tak dapat berkata-kata. Ternyata kesalahpahaman yang terjadi selama ini adalah kerena dirinya. Dirinya lah yang membuat hati istrinya kian terluka tanpa ada kepastian akan pernikahan mereka.
"Kau tak salah. Aku saja yang terlalu mengharapkan cinta terbalas darimu." Rania menunduk. Mencengkram erat ujung baju yang dikenakannya. Rania menggigit kuat bibir bawahnya menahan isakanya agar tidak keluar.
"Cinta terbalas?" William semakin terhenyak. Apa maksud ucapan istrinya itu?
"Sudahlah... Tak perlu dipertanyakan lagi... Namun aku benar-benar belum siap mengandung anakmu di saat hatimu belum terjatuh untukku. Dan maaf jika aku tidak bisa mewujudkan keinginanmu untuk tidak mencintaimu." Dada Rania semakin sesak. Isakan tangis yang ditahannya akhirnya pecah juga. Rania beranjak. Ia tidak ingin terlihat semakin lemah di depan pria yang sudah jelas-jelas membantengi cinta di antara mereka.
"Aku harus kembali ke kamar. Tubuhku sungguh tidak enak." Ucapnya sedikit tidak jelas lalu buru-buru meninggalkan William yang masih terdiam karena ucapannya.
Seperti orang bodoh. William terdiam dengan tatapan kosong. Pemikirannya masih terisi oleh kata-kata istrinya yang mengatakan tidak bisa mewujudkan keinginannya untuk tidak mencintainya.
__ADS_1
Beberapa detik kemudian William pun tersadar. Langkah kaki lebarnya pun terayun mengejar langkah kaki istrinya. "Rania..." Panggilnya mencoba menghentikan langkah Rania yang sedang menaiki tangga.
Rania menulikan telinganya. Kakinya terus bergerak menaiki satu persatu anak tangga. Hatinya belum benar-benar siap jika suaminya itu menyadari jika dirinya sudah jatuh sedalam-dalamnya dalam rasa cinta terhadap suaminya.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!
Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1