
Gumpalan asap rokok yang melayang di udara mulai memenuhi ruangan VVIP di sebuah bar. William menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi sambil menaikkan salah satu kakinya di atas meja.
"Apa anda tidak akan kembali lagi ke apartemen, Tuan? Sekarang sudah jam tiga pagi." Ucap Steve yang dengan setia menemani William menghabiskan satu botol anggur di depan mereka.
"Aku rasa aku tidak akan pulang." William mematikan api batang rokoknya di dalam asbak. Meneguk kembali satu gelas anggur yang baru saja dituangkan oleh seorang pelayan di sampingnya.
"Bagaimana jika Nona Rania mencari anda Tuan?" Steve tak henti merayu agar Tuannya mau kembali ke apartemen.
"Akhir-akhir ini kau terlihat terlalu banyak bicara Steve!" Tekan William menatap tajam pada Steve.
"Saya hanya mengingatkan anda, Tuan. Bagaimana kalau Nona Rania mencari keberadaan anda saat ia bangun tidur nanti?" Balas Steve dengan datar.
William berdecak kemudian bangkit. "Antarkan aku pulang. Aku sudah cukup menghabiskan malam di sini." William pun berlalu begitu saja meninggalkan Steve yang masih terdiam di tempatnya.
"Anda nampak begitu kacau setelah kedatangan Nona Bianca, Tuan. Kapan anda bisa menjelaskan masalah besar yang sedang anda alami saat ini kepada Nona Rania?" Gumam Steve menatap sedih punggung William yang sudah lenyap dari pandangannya.
*
"Apa William tidak tidur di kamar tadi malam?" Gumam Rania saat bangun dari tidurnya dan tidak mendapatkan sosok William di sampingnya. "Lalu tidur dimana dia?" Gumam Rania lagi bertanya-tanya. Tak ingin larut dalam pertanyaan, Rania pun segera turun dari ranjang untuk mencuci wajahnya lebih dulu baru mencari keberadaan suaminya.
Tap
Tap
Tap
__ADS_1
Langkah kaki Rania terdengar tergesa-gesa menurini tangga.
"William?" Lirih Rania saat melihat sosok suaminya sedang tertidur di sofa dengan pakaian yang acak-acakkan. Bahkan William juga tidak melepaskan sepatu yang melekat di kakinya. "Kenapa penampilan William seperti itu?" Gumam Rania mendekat ke arah suaminya.
Wuek
Rania menutup hidungnya saat mencium bau alkohol yang sangat menyengat saat sudah berada dekat dengan suaminya. "Apa William minum alkohol? Tapi... Dimana dia meminumnya?" Batin Rania bertanya-tanya sambil menatap ke arah sekitarnya namun tidak menemukan petunjuk apapun.
"William... Bangun..." Rania mengguncang tubuh William guna membangunkan suaminya.
Mendapat gangguan pada tidurnya akhirnya kelopak mata William pun perlahan terbuka. "Rania..." Lirih William dengan suara serak.
"Kenapa kau tidur di sini?" Tanya Rania sambil membantu William bangkit dari tidurnya. "Kau ini berat sekali." Gerutu Rania dengan nafas tersengal.
Rania kembali menahan rasa mual saat mencium aroma alkohol yang sangat menyengat dari mulut suaminya.
Rania menghembuskan nafasnya bebas di udara. "Pindahlah ke dalam kamar. Kau pasti tidak akan nyaman tidur di sini." Ucap Rania.
William terdiam menatap pada wajah cantik istrinya yang terlihat sedikit sembab. Kenapa wajahnya sembab? Apa dia menangis semalaman? Batin William bertanya-tanya.
"Terimakasih. Namun lain kali kau tidak perlu repot memikirkan kenyamananku." Ucap William bangkit dari duduknya.
Deg
Lagi-lagi hati Rania terasa teriris mendengar perkataan yang menyakitkan keluar dari bibir suaminya.
__ADS_1
"William..." Lirih Rania menahan pergelangan tangan suaminya.
"Ada apa lagi?"
"Kenapa kau minum?" Tanya Rania menghentikan niat William yang ingin melanjutkan langkah kakinya.
**.
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1