
"Apa aku harus memakai pakaian tembus pandang ini seperti dulu lagi?" Gumam Kyara membolak-balikkan gaun malam bewarna merah menyala di depannya. Kyara nampak berpikir-pikir. Malam ini ia sudah meminta kepada seorang pelayan untuk menjaga Baby Rey di dalam kamarnya sehingga rencana yang ia buat dapat berjalan dengan baik. "Baiklah. Aku pakai saja untuk membuktikan ucapan Rania tidak benar." Gumam Kyara kemudian mulai menanggalkan baju yang dikenakannya.
Suara langkah kaki yang semakin mendekat ke arah ranjang membuat Kyara semakin mengetatkan selimut di tubuhnya. Entah mengapa ia merasa tidak yakin dengan rencana yang ia buat kali ini. Bahkan tubuhnya sudah bergetar hebat saat ini.
"Sayang... Kau sudah tidur?" Tanya Gerry mengusap punggung Kyara dari balik selimut tebalnya. "Maaf aku baru kembali ke kamar. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini." Gumam Gerry seolah tau istrinya saat ini belum benar-benar tidur.
"Ehm." Kyara berdehem seolah-olah baru terjaga dari tidurnya. "Kau sudah selesai?" Ucap Kyara dengan menguap tanpa membalikkan tubuhnya.
"Baru saja selesai." Ucap Gerry mengelus kepala Kyara.
Bagaimana ini? Jantungku serasa ingin lepas saat ini! Gerutu batin Kyara.
"Sayang... Kenapa kau membelakangiku, hem?" Tanya Gerry berusaha membalikkan tubuh istrinya. Namun Kyara masih berupaya untuk tetap di posisinya.
"Sayang... Apa kau marah?" Tanya Gerry melihat sikap Kyara yang sedikit aneh.
"Ti-tidak. Kenapa aku harus marah?"
"Lalu kenapa kau tidak mau melihat wajahku?" Tanya Gerry dengan kening mengkerut. Melihat Kyara yang kembali diam, Gerry pun dengan sedikit kuat menyentak selimut yang menutupi tubuh istrinya.
"Sa-sayang..."Iirih Gerry menelan salivanya susah payah.
__ADS_1
"Ge-gerry..." Kyara pun terpaksa berbalik dan menampilkan senyuman kakunya.
"Kenapa kau berpakaian seperti ini?" Pandangan Gerry tak lepas menatap keseluruhan tubuh Kyara yang terlihat begitu menggoda.
"Kenapa memangnya kalau aku memakai pakaian seperti ini?" Ucap Kyara dengan bibir mengerucut. "Apa kau tidak suka jika aku berpakaian seperti ini." Kyara yang sudah duduk itu pun menundukkan wajahnya.
"Kyara... Hei..." Gerry mengangkat wajah Kyara dengan kesepuluh jemarinya. "Aku bukan tidak menyukainya. Namun aku tidak akan bisa menahan diriku jika kau berpakaian seperti ini." Tutur Gerry membelai lembut wajah Kyara.
"Menahan diri seperti apa?" Tanya Kyara dengan polosnya.
"Sudahlah... Aku harus segera ke kamar mandi." Ucap Gerry tanpa ingin memperjelas maksud ucapannya. Saat ini ia hanya ingin menidurkan sesuatu yang telah mengeras di bawah sana. Namun tiba-tiba saja tubuh Gerry menegang saat sebuah tangan sudah melingkar di pinggangnya.
Gerry dapat merasakan jika saat ini punggungnya sudah basah oleh air mata. Gerry pun berbalik. Menatap pada wajah istrinya yang tertunduk.
"Sayang... Kenapa kau berpikir seperti itu?"
"Buktinya saja kau tidak pernah menyentuhku lagi walau hubungan kita sudah semakin membaik." Kyara pun semakin tertunduk. Entah mengapa saat ini Kyara merasa dirinya seperti wanita penggoda.
"Kyara... Dengarkan aku!" Gerry mengangkat wajah istrinya. "Aku tidak seperti yang ada di pikiranmu saat ini. Aku mempunyai beberapa alasan untuk tidak menyentuhmu."
"Apa maksudmu?" Tanya Kyara.
__ADS_1
Gerry mengehela nafas sedikit kasar. "Aku hanya tidak ingin kau kembali teringat dengan perlakuan burukku kepadamu di saat awal kita menikah. Aku hanya ingin kau benar-benar sembuh dari rasa traumamu, Kyara. Walau kau berkata tidak. Namun aku sangat mengetahui jika perbuatanku dulu menimbulkan rasa trauma mendalam di hatimu dan mungkin sampai saat ini."
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1