
"Aku ingin ikut." Pinta Rania seperti anak kecil.
William melipat bibirnya. "Kau ingin ikut?" Tanya William mengulang ucapan Rania.
Rania dengan cepat mengangguk. "Boleh?" Tanyanya.
"Bukannya tidak boleh. Tapi jika kau ikut bersamaku, orang-orang akan berpikiran buruk kepadamu karena kau mengikuti suamimu saat bekerja. Kau akan dicap sebagai istri posesif nantinya." Tutur William dengan lembut. William dapat menangkap jika istrinya masih diliputi rasa cemburu.
Rania nampak terdiam. Ia pun membenarkan ucapan suaminya. "Tapi kau tidak akan macam-macam dengan wanita itu bukan?" Tanyanya tidak suka.
"Tidak akan. Aku tidak akan macam-macam karena aku hanya satu macam." Ucap William merasa gemas dengan istrinya. "Kemarilah." William merentangkan kedua tangannya.
Melihat itu Rania pun segera menghambur ke dalam pelukan suaminya. "Percayalah padaku. Hanya kau dan anak kita yang ada di hatiku. Memilikimu saja sudah cukup untukku. Apalagi sebentar lagi ada bayi yang akan melengkapi kebahagiaan kita." Ucapnya yang diakhiri dengan mencium gemas rambut istrinya.
Rania sedikit merasa lega mendengarnya. Setelah memberikan pelukan dan ciuman singkat pada istrinya, William pun segera keluar dari dalam ruangannya menuju ruang rapat.
"Walau pun aku percaya jika kau tidak mungkin berpaling dariku, namun aku tidak sepenuhnya percaya pada wanita itu." Ucap Rania sambil menatap pintu ruangan suaminya yang sudah tertutup kembali.
"Huh, lebih baik aku tidur saja. Badanku sungguh lelah dan mengantuk." Ucapnya lagi lalu berjalan menuju kamar pribadi suaminya.
__ADS_1
*
Dua jam lebih menghabiskan waktu di ruangan rapat, William pun kembali masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Steve di belakangnya.
"Dimana Rania?" Gumam William saat tak melihat keberadaan Rania di dalam ruangannya.
"Mungkin Nona Rania berada di dalam kamar pribadi anda, Tuan." Timpal Steve.
Mendengar ucapan asistennya, William pun segera melangkahkan kakinya menuju kamar pribadinya. Helaan nafas lega terdengar saat melihat istrinya tengah tertidur dengan lelap di dalam ruangan.
"Dia semakin manis." Gumam William mengembangkan senyumannya melihat betapa lucunya istrinya tertidur dengan mulut terbuka.
"Ini ada beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani, Tuan." Ucap Steve sambil meletakkan berkas di tangannya di depan William.
William mengangguk. "Keluarlah. Aku akan mengabarimu setelah aku memeriksa kembali isi dokumen ini." Ucap William.
Steve mengangguk lalu meminta izin keluar dari dalam ruangan.
Setelah kepergian Steve, William pun memutuskan untuk memeriksa dokumen di depannya lebih dulu sambil menunggu istrinya terbangun dari tidurnya.
__ADS_1
Cukup lama William habiskan dengan memeriksa beberapa dokumen yang diberikan Steve, namun Rania belum juga menunjukkan tanda-tanda terjaga dari dalam tidurnya.
William pun menutup berkas yang masih ia periksa. Bangkit dari kursi kebesarannya lalu berjalan ke arah kamar pribadinya. Lagi-lagi William hanya bisa dibuat menggeleng melihat istrinya yang masih tertidur dengan pulas.
"Apa dia sangat lelah sehingga lama sekali tidur?" Gumamnya lalu memilih masuk ke dalam ruangan.
Dengan hati-hati William pun naik ke atas ranjang lalu bergabung di atas ranjang dengan istrinya.
"Kau sangat cantik dan juga baik. Aku tidak mungkin menyia-nyiakan wanita sepertimu." Gumam William mengingat ketakutan Rania sambil mengelus lembut rambut istrinya.
Merasa ada yang mengusik tidurnya, Rania pun perlahan membuka kedua kelopak matanya.
"William? Kau sudah kembali?" Tanyanya dengan mata yang masih menyipit. Dan belum sempat William menjawab, Rania pun telah terlelap kembali dalam tidurnya.
***
Lanjut?
Komen yang banyak dulu yuk.
__ADS_1