
Dinginnya malam disertai hujan yang begitu deras di luar sana membuat Rania semakin mengetatkan selimut di tubuhnya. Malam semakin larut bersamaan dengan Rania yang semakin nyaman di dalam tidurnya. Pukul satu malam, seorang pria bertubuh tinggi kekar nampak masuk ke dalam kamar Rania dengan langkah pelan.
Kedua sudutnya nampak tertarik sempurna saat melihat gundukan selimut yang ia yakini ada wanita rubahnya di sana. Pria itu semakin mendekat. Merebahkan tubuhnya dengan pelan agar sang wanita tidak terganggu di samping ranjang yang kosong. Menarik selimut yang menutupi seluruh tubuh wanitanya. Setelah selimut tersingkap, pria itu pun turut bergabung bersama wanita rubahnya yang nampak sama sekali tidak terganggu dengan aktivitasnya yang terus menciumi wajah wanita itu.
Hingga mentari mulai menyambut. Wanita yang masih terlihat nyaman berada di dalam dekapan pria itu pun mulai membuka kedua kelopak matanya. Keningnya nampak mengkerut saat merasa tubuhnya begitu sesak. Dan sedetik kemudian ia tersadar jika saat ini tengah berada dalam dekapan seorang pria
"Agh... Siapa kau...!!" Pekik wanita itu tanpa melihat wajah siapa pemilik tubuh yang dengan kurang ajarnya memeluknya dan dengan refleks menendang pria yang memeluknya itu.
"Argh..." Pria itu terdengar merintih merasakan sakit pada perutnya.
"Wi-willia..." Kedua bola mata Rania membola sempurna saat melihat dengan jelas siapakah pemilik tubuh kurang ajar itu. "Kenapa kau bisa ada di dalam kamarku?!" Tanyanya begitu terkejut.
William masih merintih. Mencoba untuk duduk walaupun perutnya masih terasa sakit. "Kenapa kau menendangku!" Cecar William menatap sebal pada istrinya.
"Karena kau memelukku!" Sembur Rania dengan sengit.
"Apa ada larangannya seorang suami memeluk istrinya?" Balas William tak kalah sengit.
"Tentu saja ada! Karena kau memelukku tiba-tiba dan masuk ke kamarku tanpa seizinku!" Amuk Rania.
William turun dari ranjang dengan sebelah tangan masih mengelus perutnya yang sakit.
__ADS_1
"Ta-tapi... Bagaimana kau bisa ada di sini?" Raut wajah Rania nampak merasa bersalah melihat suaminya yang kesakitan. Rania pun ikut turun dan mendekat pada suaminya.
"Aku tidak merasa tenang saat berada jauh darimu. Lagi pula apa kau lupa jika aku juga memiliki pekerjaan di sini minggu ini." Balas William.
"Kau juga ada pekerjaan di sini?" Kening Rania mengkerut.
"Agh, sudahlah." Balas William merasa malas
"Maaf..." Cicit Rania merasa bersalah. Tangannya pun terulur ikut mengelus perut suaminya. "Enam kotak milikku..." Gumamnya pelan saat mengelus enam kotak yang terpampang nyata di depannya karena William tidak mengenakan kaosnya.
William menahan tangan Rania yang masih mengelus perutnya. "Apa kau begitu menyukai enam kotakku, hem?" Tanya William menarik sebelah bibir ke samping.
"Ti-tidak... Kau ini bicara apa?!" Rania mencoba melepaskan jemarinya. Namun William menahannya kuat.
"Will..." Geram Rania merasa kesal sekaligus malu.
William pun melepas tangan Rania dari perutnya.
"Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanya Rania lagi setelah menormalkan kondisi jantungnya.
"Sudah aku katakan jika aku merasa tidak tenang berada jauh darimu dan juga aku ada pekerjaan di sini." Balas William dengan berbohong karena alasan sebenarnya ia tidak ingin Rania berduaan bersama Sean saat tidak ada dirinya.
__ADS_1
"Kau jangan berbohong. Aku masih mengingat dengan jelas jika dua hari lagi kau baru ada pekerjaan di sini." Cetus Rania.
***
Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)
^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^
^^^Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.^^^
^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^
^^^- Oh My Introvert Husband (End)^^^
^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^
^^^Like^^^
^^^Komen^^^
^^^Vote^^^
__ADS_1
^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^