
"Kalian berdua tunggulah sebentar di luar. Ada hal penting yang ingin aku bicarakan sebentar pada Rania." Ucap Kyara saat William dan Gerry sudah membawa dua koper milik Rania di tangan masing-masing. Steve dan Jimmy memang tidak ikut serta mengantarkan Rania sebab mereka ditugaskan untuk mengurus dua perusahaan yang ditinggalkan oleh pimpinannya.
"Ayo!" Ajak Gerry pada William yang nampak termenung di tempatnya.
William mengangguk. Lalu pandangannya terjatuh pada Rania yang seakan enggan untuk melihatnya. Tak ingin terlalu lama diabaikan, William pun segera berlalu dari apartemen mengikuti langkah Gerry yang sudah keluar lebih dulu dari apartemennya.
"Apa yang ingin kau bicarakan, Kya?" Tanya Rania setelah Kyara meletakkan Baby Rey di atas karpet dan memberikan mainan untuk bayi tampan itu.
"Rania... Aku tahu kau wanita yang kuat dan bijak. Aku harap kau bisa melewati permasalahanmu saat ini dengan kepala dingin tanpa mengambil keputusan yang akan membuatmu menyesal pada akhirnya." Ucap Kyara mengarah pada kejadian yang telah menimpanya dan Gerry satu tahun yang lalu.
"Aku mengerti maksudmu, Kya. Aku hanya ingin menenangkan diriku. Dan aku juga tidak ingin membahayakan anakku jika aku masih tetap berada di sini." Ucap Rania sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit. Tanpa terasa satu tetes air mata pun terjatuh membasahi pipinya.
"Setidaknya berikanlah kesempatan pada William untuk membuktikan jika anak itu bukanlah anaknya." Ucap Kyara.
"Aku sudah melakukannya. Walau pun saat ini aku masih meyakini jika anak itu benar-benar adalah anaknya. Mungkin jika kau sudah melihat rupa anak itu, kau akan menyetujui ucapanku, Kya." Ucap Rania sambil memandang kosong ke depan.
Walau pun aku juga tidak bisa mengelak kemiripan di wajah mereka, namun entah mengapa hatiku mengatakan jika anak itu bukanlah anak William. Batin Kyara.
"Lebih baik kita segera berangkat sekarang." Ucap Rania saat melihat Kyara yang telah lama terdiam.
__ADS_1
Kyara mengangguk. Lalu mengambil Baby Rey yang sedang bermain ke dalam gendongannya.
"Kyara..." Ucap Rania hendak menghentikan langkah Kyara yang ingin masuk ke dalam kursi depan mobil.
"Ada apa, Rania?" Tanya Kyara merasa heran. Begitu pula dengan William yang kini masih berdiri sambil menunggu istrinya untuk masuk ke dalam mobil. Sedangkan Gerry, pria itu telah masuk lebih dulu di belakang kemudinya karena ia dan William memilih untuk mengendarai mobil secara bergantian tanpa jasa sopir pribadi Bagaskara.
"Bisakah kau untuk duduk di belakang saja denganku?" Pinta Rania menatap serius pada Kyara.
Kyara menatap wajah William yang memperlihatkan guratan kecewa saat mendengar ucapan Rania.
"Aku duduk di depan saja. Akan lebih nyaman jika kau duduk di samping William." Kyara mengelus lembut pundak sahabatnya. Lalu segera masuk ke dalam mobil saat melihat Rania ingin melayangkan ucapan protes akan balasannya.
Rania membuang nafas kasar di udara lalu segera masuk ke dalam mobil. Mobil pun mulai melaju meninggalkan gedung apartemen setelah memastikan Rania sudah nyaman dalam duduknya.
"Jika kau lelah dan mengantuk, kau bisa tidur dipangkuanku seperti biasanya." Ucap William saat melihat wajah Rania nampak mengantuk.
"Tidak perlu. Aku bisa tertidur dengan posisi seperti ini saja." Tolak Rania secara halus.
William hanya bisa menghela nafas panjang mendengarkan ucapan Rania.
__ADS_1
Maafkan aku. Secepatnya aku akan membawamu kembali ke sisiku. Tekad William tak ingin berlama-lama merasakan sikap dingin istrinya.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1