
"Will... Biar aku saja." Ucap Rania merasa tidak enak dengan suaminya.
"Jangan membantahku. Aku hanya ingin menjadi suami yang baik untukmu dan anak kita."
Rania tak lagi melarangnya. Pandangannya pun tak lepas pada kegiatan suaminya yang terlihat begitu fokus memasukkan nasi dan lauk pauk ke dalam piringnya.
"Ayo buka mulutmu." Perintah William sambil mengarahkan sendok ke mulut Rania.
"Aku bisa makan sendiri, Will..."
"Tidak ada bantahan." Tekan William yang pada akhirnya membuat Rania menurut. William terlihat sangat cekatan menyuapi istrinya hingga makanan habis tak tersisa di dalam piring.
"Apa kau tidak makan?" Tanya Rani saat Willam membereskan piring bekas makananya.
"Aku bisa makan nanti." Ucap William.
"Makanlah sekarang atau aku akan marah." Ucap Rania tak ingin William terlalu memikirkan dirinya.
William membuang nafas kasar di udara. "Baiklah." Ucapnya lalu meletakkan piring bekas Rania kembali di atas meja.
"Makanlah... Biarkan aku yang mencuci piringnya." Ucap Rania lalu membawa piring bekas makanannya ke arah dapur. Rania sama sekali tidak memberi suaminya waktu untuk melarangnya.
"Mulai besok akan ada seorang pelayan yang akan membantu pekerjaan di apartemen." Ucap William saat ia dan Rani sudah berada di kamar mereka.
"Pelayan?" Rania nampak terkejut. "Kenapa kau mempekerjakan seorang pelayan? Aku masih bisa mengerjakan pekerjaan di apartemen tanpa bantuan siapa pun." Ucap Rania.
__ADS_1
"Mulai saat ini aku tidak mengizinkanmu melakukan pekerjaan apa pun. Aku tidak ingin kau kelelahan dan berakibat buruk pada bayi kita." Ucap William dengan tegas.
"Will—"
"Tidak ada bantahan, Rania. Semua ini aku lakukan demi kebaikanmu. Aku hanya tidak ingin kau kelelahan." Ucap William begitu tulus.
"Baiklah. Terserah kau saja." Balas Rania tak ingin berdebat.
"Dan mulai besok kau harus mengajukan surat pengunduran diri dari perusahaan Wilson." Perintah William yang membuat Rania terbelalak.
"Tidak. Aku tidak ingin berhenti bekerja." Tolak Rania.
"Rania... Semua ini demi kebaikanmu. Jika kau terus bekerja, itu akan membuatmu kelelahan." Ucap William memberi pengertian.
"Lagi pula aku tidak melakukan pekerjaan yang berat selama bekerja di sana. Aku mohon Will..." Pinta Rania.
William menatap tak tega wajah Rania yang terlihat bersedih. "Baiklah. Tapi kau tidak boleh kelelahan." Perintahnya.
"Terimakasih suamiku..." Rania buru-buru menghambur memeluk suaminya. Aku semakin mencintaimu. Lanjut batin Rania.
William tersenyum. Kemudian membalas pelukan istrinya dan menghujani wajah istrinya dengan ciuman lembutnya.
"Apa kau tidak ingin berangkat bekerja siang ini?" Tanya Rania.
"Tidak. Aku memutuskan untuk menemanimu dan baby seharian ini." Balas William.
__ADS_1
Rania terdiam. Kenapa kau bersikap seolah kau mencintaiku, Will? Namun aku tidak boleh terlalu berharap karena sampai saat ini kau belum pernah menyatakan cintamu padaku bahkan di saat aku sudah mengandung anakmu. Batin Rania merasa miris.
"Rania... Kenapa kau melamun?" Tanya William yang sejak tadi memperhatikan wajah termenung istrinya.
"Agh, aku tidak apa-apa. Aku hanya sedang memikirkan Ibu dan Ayah. Sudah lama aku tidak lagi mengunjungi mereka di sana." Ucap Rania merasa sedih.
"Kita akan mengunjungi Ibu dan Ayah jika usia kandunganmu sudah memungkinkan untuk dibawa berjalan jauh." Ucap William menenangkan hati istrinya.
***
Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya... Dan buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update. Dan kalian juga bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (End)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1