Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Harus berpisah


__ADS_3

Satu minggu ini Gerry habiskan di rumah saja dengan bermain bersama Baby Rey hingga lelah. Gerry benar-benar membayar waktunya yang terlewatkan bersama Baby Rey selama tujuh bulan koma.


"Ayo tangkap, Rey!" Seru Gerry melemparkan bola kecil bewarna merah ke arah Baby Rey.


"Ahaa...." Dengan kedua tangan mungilnya Baby Rey berusaha menangkap bola yang diberikan Papanya namun selalu berujung kegagalan.


"Tangkap lagi, ya!" Kali ini Gerry melempar bola bewarna kuning.


"Ahaa..." Baby Rey tertawa-tawa saat bola bewarna kuning itu berhasil tertangkap oleh tangannya.


"Anak Papa memang pintar!" Gerry mendekati putranya dan memberikan ciuman bertubi-tubi di pipi Baby Rey.


"Ahaaa... Ehee..." Baby Rey tertawa seraya kegelian.


"Paa..." Baby Rey menepuk kencang pipi Gerry saat Gerry sudah menghentikan ciumannya.


"Tangan ini keras juga kalau memukul." Gerry mengambil kedua tangan mungil Baby Rey kemudian menciumnya gemas.


"Gerry... Ayo makan dulu." Kepala Kyara nampak menyembul dari balik pintu.

__ADS_1


Gerry menghentikan aktivitasnya. Mengangkat Baby Rey ke dalam gendongannya.


"Apa Mama dan Papa sudah berada di meja makan?" Tanyanya mendekat kepada Kyara.


Kepala Kyara mengangguk. "Mereka sudah menunggu sejak lima belas menit yang lalu." Terangnya.


"Baiklah." Gerry pun membawa Baby Rey berjalan menuju keluar kamar mengikuti langkah Kyara.


Di meja makan terlihat Mama Riana, Papa Johan dan Rania sedang terlibat percakapan serius.


"Apa kau benar-benar ingin pulang hari ini, nak?" Wajah Mama Riana terlihat sendu.


Helaan nafas Mama Riana terdengar berat. "Padahal Tante sangat senang jika kau tinggal di sini saja." Keluhnya.


Senyuman Rania kian melebar. "Ada pekerjaan yang harus saya lakukan, Tante." Ucapnya begitu sungkan.


Mama Riana menatap sahabat mantunya itu dengan sendu. "Ya, Tante mengerti." Mama Riana memaksakan senyumannya walau tak rela. Sejak kemarin Mama Riana sudah meminta Rania untuk tinggal sebentar di mansion utama sebelum ia dan Papa Johan berangkat ke jepang satu minggu lagi.


Gerry dan Kyara pun bergabung bersama mereka setelah menitipkan Baby Rey ke salah satu pelayan untuk menjaga Baby Rey selama mereka makan.

__ADS_1


"Kenapa wajah Mama sedih begitu?" Tanya Gerry saat melihat raut wajah mamanya yang murung. Gerry pun mendudukkan tubuhnya di kursi yang berhadapan dengan Mama Riana.


"Mama hanya sedih saja karena Rania akan pulang ke kampungnya hari ini."


Nafas Gerry kian melambat. Tak berbeda jauh dengan Mama Riana, Kyara pun turut bersedih karena sahabatnya harus pulang ke kampungnya secepatnya. Apa lagi saat Kyara menceritakan alasan yang menjadi pendorong Rania harus kembali.


Wajah Kyara pun turut murung menatap pada Rania yang memaksakan senyumannya ke arahnya. Namun Kyara nampak melihat dengan jelas bendungan air mata yang sebisa mungkin Rania tahan. Sangat berat bagi Kyara harus berpisah dengan sahabatnya itu. Apalagi mereka sudah banyak menghabiskan waktu bersama dalam suka maupun duka dalam satu tahun terakhir ini. Rania bukan hanya sahabat baginya. Namun Rania juga sudah merupakan bagian dalam hidup Kyara sampai kapan pun itu.


"Saya akan kembali ke sini jika ada waktu senggang. Tante dan Om juga bisa mengunjungi saya bersama Kyara dan Baby Rey jika Tante sudah kembali ke negara ini lagi." Ucap Rania.


Mama Riana dan Kyara tersenyum paksa. Akhirnya mereka pun memulai makan siang mereka setelah mendapat arahan dari Papa Johan.


***


Cerita Rania akan aku lanjutkan di novel ini juga ya biar kalian gak bingung bacanya.


Adakah yang bisa menebak alasan apa yang membuat Rania pulang ke kampungnya?


Mohon beri dukungan dengan cara like, komen dan votenya ya buat dukung karya author. Terimakasih:)

__ADS_1


__ADS_2