
"Jadi anak itu sudah mulai menyadari perasaannya pada Kyara?" Tanya Kakek Surya pada Asisten Jimmy yang kini tengah duduk di hadapannya.
Setelah hampir dua minggu menjadi penguntit kegiatan Kyara. Akhirnya Gerry berniat untuk menemui Kyara pada besok hari. Dan setelah mengetahui hal itu, Kakek Surya pun meminta Asisten Jimmy untuk menemuinya di mansion utama.
"Sepertinya begitu, Tuan. Tapi Tuan Gerry selalu berusaha menyangkal perasaannya."
"Huh, anak itu. Selalu keras kepala." Sungut Kakek Surya.
Asisten Jimmy tersenyum kecil.
"Lalu bagaimana dengan mantan kekasihnya itu?"
"Saya sudah mengumpulkan bukti-bukti perselingkuhan Nona Ketty sesuai perintah Tuan Gerry."
"Baguslah. Ternyata dia sudah bisa berpikir dengan pintar." Kakek Surya menyandarkan tubuhnya pada kursi kebesarannya. Ingatannya berputar pada beberapa kejadian satu tahun belakangan ini.
Setelah mengetahui sifat Ketty di belakang cucunya. Kakek Surya memang berusaha untuk tidak membongkar aib dari wanita yang dicintai cucunya itu untuk menjaga perasaan Gerry. Kakek Surya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati Gerry saat melihat wanita yang ia jaga kehormatannya justru bermain gila di belakangnya. Maka dari itu Kakek Surya hanya terus menentang hubungan mereka tanpa alasan yang pasti di mata Gerry.
__ADS_1
"Saya harap kau bisa membantu mengatur pola makan Gerry. Saya tidak mau dia jatuh sakit karena hal ini. Bagaimana pun sikapnya, dia tetap cucu saya. Cucu yang akan selalu saya sayangi dan cintai seburuk apa pun perlakuannya."
"Saya akan menjaga Tuan Gerry dengan baik." Tekad Asisten Jimmy.
"Memang harusnya seperti itu. Sekarang kembalilah ke perusahaan sebelum anak itu mencurigai kepergianmu."
Asisten Jimmy mengangguk kemudian pamit meninggalkan ruangan kerja Kakek Surya.
*
"Kalau sedang tidak hamil begini, aku sangat ingin menaiki kora-kora itu." Gerutu Kyara dengan bibir mengerucut.
"Ya sudah keluarkan saja anakmu lebih cepat agar kau bisa menaikinya." Seloroh Rania.
"Kau ini...." Kyara memukul pundak Rania merasa kesal.
"Rania..." Panggil Kyara lirih.
__ADS_1
Rania dapat menangkap gelagat Kyara yang mencurigakan itu.
"Apa?"
"Aku mau kerak telor dan telor gulung yang ada di sana." Cicit Kyara mengelus perutnya yang membuncit.
"Huh, baiklah. Kau tunggulah di sini sebentar. Aku akan membelikannya. Ingat jangan kemana-mana!"
"Iya-iya. Jangan lama!" Pinta Kyara memelas. Karena saat ini perutnya sudah mulai berbunyi mendengar kata makanan.
"Jangan lama bagaimana? Apa dia tidak melihat jika antriannya sangat panjang." Gerutu Rania berjalan ke arah kerumunan orang yang sedang mengantri.
Rania terus memperhatikan Kyara yang nampak melihat ke kanan dan ke kiri. Pandangannya tak henti menatap Kyara dari kejauhan. Takut-takut Kyara akan hilang dimakan kerumunan orang. Merasa Kyara kini sudah cukup aman karena seseorang memberikan kursi untuk ia duduki, akhirnya Rania pun kembali fokus mengantri membelikan pesanan Kyara.
Setelah cukup lama mengantri, akhirnya Rania pun berhasil mendapatkan makanan pesanan Kyara. Dua bungkus kerak telor dan telor gulung kini berada di tangan Rania. Rania melebarkan senyumnya mengingat Kyara yang pasti sangat senang mendapatkan apa yang ia mau.
Namun senyuman Rania seketika menyurut saat melihat Kyara tak lagi berada di posisinya. Bahkan kursi tempat duduk Kyara juga sudah tidak berada di sana. Rania mencoba tenang mencari ke sekeliling tempat yang dekat dengan posisi Kyara tadi. Mungkin saja Kyara tengah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Raut wajah Rania kini berubah panik saat tak melihat keberadaan Kyara dimana-mana
__ADS_1
"Kyara...." Pekik Rania memanggil-manggil nama Kyara dengan cemas.