Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Kenapa belum hamil?


__ADS_3

"Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah karena diabaikan olehnya." Gumam William kemudian mendengus sebal. Tak ingin Rania marah padanya, William pun segera menyusul istrinya masuk ke dalam kamar.


"Rania..." Ucap William saat melihat istrinya tengah menutup jendela kamar.


Rania membalikkan tubuhnya. "Ada apa lagi? Apa kau ingin menuduhku yang bukan-bukan lagi?" Cetus Rania memalingkan wajah ke samping.


William mendekati istrinya. "Tidak. Maafkan aku, ya." Ucapnya dengan datar.


"Kau itu mau meminta maaf atau apa? Kenapa wajahmu tidak ada memelas sama sekali!" Rutuk Rania pada wajah bule suaminya.


William tertawa kecil. Kemudian membawa Rania ke dalam dekapannya. "Kau itu pemarah sekali." Ucapnya merasa gemas sambil menciumi puncak kepala istrinya.


Semakin hari William semakin membuat kedekatan antara dirinya dan Rania terjalin semakin dekat. Hingga satu bulan pun berlalu kembali, hubungan mereka pun terasa lebih hangat dari pada beberapa bulan belakangan.


"Rania..." Suara William terdengar mengalun memanggil nama istrinya saat masuk ke dalam dapur.


"Ada apa, Will?" Tanya Rania menatap pada William kemudian kembali fokus pada masakannya.


"Apa kau belum siap memasak?" Tanya William.


"Sedikit lagi masakannya akan siap. Memangnya ada apa?" Tanya Rania merasa bingung.


"Apa kau masih tetap mau melanjutkan masakanmu atau menemui sahabatmu di ruang tamu sekarang." Ucap William dengan datar.


"Apa?! Sahabatku? Maksudmu Kyara?" Tanya Rania sedikit keras.


"Tentu saja Kyara. Memangnya siapa lagi sahabatmu selain Kyara?" Cibir William.


Rania mematikan api kompornya. "Akhirnya dia datang juga." Tanpa melepaskan apron yang melekat di tubuhnya, Rania pun segera keluar dari dalam dapur menuju ruang tamu dengan langkah lebar.

__ADS_1


"Kyara... Rey..." Ucap Rania begitu senang saat melihat dua orang yang sangat disayanginya.


"Rania..." Kyara membalas sapaan sahabatnya sera melebarkan senyuman.


Rania yang hendak mendekat pada Kyara seketika tidak bisa berjalan saat kerah bajunya di cekal oleh William. "Apa kau mau memeluk Rey dengan apron yang masih melekat di tubuhmu?" Cecar William membuat Rania seketika menatap ke bawah.


"Astaga... Aku lupa melepaskannya!" Seru Rania kemudian berbalik ke arah dapur.


"Anak itu..." Kepala William menggeleng.


Gerry dan Kyara yang melihatnya hanya tersenyum melihat tingkah Rania yang ada-ada saja.


"Hallo Rey..." Sapa Rania pada bayi yang tengah bergelayut manja di leher papanya.


"Hallo, Tante." Balas Kyara menirukan suara anak kecil dan melambaikan tangan Baby Rey ke arah Rania.


Gerry dan Kyara mengangguk.


"Kau terlihat lebih berisi sekarang, Rania." Ucap Kyara memperhatikan bentuk tubuh sahabatnya.


"Ya. Makan tengah malam terlalu sering membuat tubuhku sedikit berlemak." Balas Rania dengan tersenyum kaku.


"Apa jangan-jangan Baby William junior sudah tumbuh di dalam perutmu..." Timpal Kyara mengelus perut rata Rania. Karena dari yang Kyara ketahui, hubungan Rania dan William sudah semakin membaik akhir-akhir ini.


"Hush... Kau ini sembarang saja, Kya." Melepaskan tangan Kyara yang menempel di perutnya.


"Mungkin saja perkataan Kyara benar." Timpal Gerry dengan tersenyum. William yang mendengar praduga dua orang suami istri di depannya nampak menatap penuh harap pada istrinya.


Rania menggeleng cepat. "Tidak. Aku belum hamil." Balasnya menyurutkan senyuman di bibir William.

__ADS_1


"Tak apa... Mungkin sebentar lagi kau akan menyusul mempunyai teman untuk Rey." Balas Gerry.


"Ya. Semoga saja." Balas Rania dengan sedikit gugup.


Sedangkan William yang duduk di seberang Rania menatap dalam istrinya dengan kening mengkerut.


Kenapa sampai saat ini Rania belum juga hamil? Batinnya bertanya-tanya.


***


Buat teman-teman semua... Mampir ke karya baruku yang berjudul "Dia Anakku, Bukan Adikku." Yuk sambil menunggu cerita Rania dan William update:)


^^^Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!^^^


^^^Sambil menunggu cerita ini update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya juga, ya.^^^


^^^- Serpihan Cinta Nauvara (End)^^^


^^^- Oh My Introvert Husband (End)^^^


^^^Jangan lupa beri dukungan dengan cara^^^


^^^Like^^^


^^^Komen^^^


^^^Vote^^^


^^^Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...^^^

__ADS_1


__ADS_2