Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku tidak pantas untukmu


__ADS_3

"Hiks... Hiks..." William terhenti dari pembicaraannya saat mendengar isakan tangis dari istrinya.


"Rania... Kenapa kau menangis?" Tanya William begitu panik sambil memegang pundak istrinya.


"Lepaskan aku..." Ucapnya melepas kasar tangan William lalu bangkit dari sisi ranjang. Berjalan menuju arah pintu kamarnya.


William dibuat heran dengan sikap Rania yang langsung pergi begitu saja sedangkan ia belum selesai membahas kisahnya saat berada di London satu bulan belakangan.


"Rania... Kenapa kau pergi?" Ucap William sambil menahan pergelangan tangan Rania.


"A-aku..." Rania semakin terisak di ambang pintu. Bahu wanita hamil itu nampak bergetar hebat.


"Rania... Katakan ada apa? Apa ucapanku menyakiti hatimu?" Tanya William lagi sambil membalikkan tubuh istrinya.


"Oh astaga..." William dibuat begitu panik saat melihat air mata yang sudah membasahi wajah istrinya.


"Lepaskan aku..." Rania kembali mencoba melepas tangan William dari pundaknya. Namun William sekuat tenaga menahannya.

__ADS_1


"Rania... Katakan ada apa ini?" Tanya William lagi untuk kesekian kalinya.


"A-aku..." Rania terisak. Lidahnya terasa kelu untuk menjawab pertanyaan William.


William mengangkat dagu Rania agar wanita itu menatapnya.


"Ada apa, hem?" Tanya William begitu lembut.


"Aku bersalah padamu... Aku bersalah... Aku benar-benar bukan istri yang baik..." Ucap Rania sambil menangis.


"Kau ini bicara apa? Kau adalah istri terbaik yang dikirim Tuhan untuk menemani hari-hariku." Pungkas William merasa tak suka dengan ucapan istrinya.


"Berani-beraninya wanita sepertiku yang tidak ada kelebihan apa-apa ini berani memperlakukanmu seperti itu... Bahkan kau bisa mendapatkan istri yang lebih sempurna dari pada aku... Aku terlalu naif... Aku terlalu percaya diri dengan diriku sendiri... Aku melupakan jika kau adalah pria sempurna yang bahkan dengan mudahnya mendapat penggantiku yang hanyalah angin berlalu ini dengan wanita yang lebih sempurna." Racau Rania dalam tangisannya.


"Lepaskan aku... Lepaskan aku..." Rania memberontak saat William sudah memeluk tubuhnya. "Kau boleh meninggalkanku jika kau ingin... Aku adalah istri yang buruk... Aku tidak pantas untukmu... Aku sungguh tidak pantas... Hiks..."


"Aku tidak akan pernah melepaskanmu!" Tekan William sambil mencium gemas puncak kepala istrinya.

__ADS_1


"Kau boleh melakukannya jika kau ingin... Aku sungguh tidak pantas untukmu...." Balas Rania lagi semakin insecure.


"Aku tidak melakukannya karena aku tidak ingin. Yang aku inginkan saat ini hanyalah dirimu dan anak kita. Tiada yang lain!" William menjauhkan tubuh Rania untuk dapat menjangkau wajah istrinya. "Kau adalah istri yang sempurna. Akulah pria berengsek yang tidak pantas untukmu. Tapi aku juga adalah pria beruntung di dunia ini karena mendapat wanita sepertimu. Kau adalah jawaban dari doa-doaku selama ini. Bagaimana aku bisa mencari sosok yang baru yang lebih baik darimu sedangkan hatiku sudah sepenuhnya terisi oleh namamu. Bahkan sosok yang lebih baik dan sempurna yang kau bicarakan itu sudah tidak ada. Karena semua kebaikan dan kesempurnaan itu sudah terikat padamu. Perjalanan hidupku sudah terhenti padamu. Dan sampai kapan pun juga aku tidak akan melepaskanmu." Jelas William panjang lebar.


Rania semakin menangis. Perasaan bersalah semakin memenuhi relung hatinya.


"Jangan pernah lagi memintaku untuk mencari sosok yang baru. Karena sampai kapan pun, tiada satu wanita selain Mamiku dan dirimu yang bisa membuat aku sejatuh ini. Jika kau tanyakan kenapa, alasannya hanya satu. Karena aku mencintaimu."


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺

__ADS_1


Buat mengetahui jadwal update, kalian bisa bergabung di grup chat author, ya☺


__ADS_2