Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Nampak berbeda


__ADS_3

"Agh, tidak perlu... Aku akan pulang bersama sopir." Tolaknya halus. Lagi pula Kyara merasa tidak enak karena harus merepotkan sahabat suaminya itu.


Tring... Suara deringan telefon dari ponsel Kyara berbunyi.


"Tunggu sebentar." Ucap Kyara merogoh ponsel yang ada di tasnya. Kyara sedikit menjauh dari dokter Dika kemudian mengangkat panggilan telefonnya.


"Ada apa?" Tanya Dokter Dika melihat raut wajah Kyara yang cemas.


"Aku harus segera pulang karena Rey semakin menangis dengan kencang. Tapi Mama baru saja menghubungiku jika mobil yang dikendarai sopir mengalami mogok di jalan." Jelas Kyara.


"Ya sudah. Memang sebaiknya kau pulang bersamaku. Aku akan membawamu dengan cepat sampai ke mansion. Tapi tenanglah. Aku adalah pengemudi yang bisa diandalkan!" Sombongnya.


Kyara mengangguk saja. Karena akan memakan waktu lama jika ia harus mencari taksi lebih dulu. Kemudian mereka pun masuk ke dalam lift menuju lobby.


"Tunggulah di sini sebentar. Aku akan mengambil kunci mobil ke dalam ruanganku." Ucap dokter Dika.


Kyara mengangguk. Tangannya mulai berseluncur di atas layar ponselnya menghubungi Rania untuk menanyakan keadaan Baby Rey.


*


Bruk


Dokter Hana yang terburu-buru berjalan menuju ruangannya sambil memegang nampan berisi kopi di tangannya tidak sengaja menabrak tubuh seorang pria hingga membuat wanita itu terjatuh dan mengaduh.


"Aw..." Pekik wanita itu mengelus bokongnya yang sakit akibat mencium lantai.

__ADS_1


"Hana... Kau tidak apa-apa?" Suara Dokter Winda terdengar panik karena melihat dokter Hana yang terjatuh.


"Aku tidak apa-apa." Hana pun mencoba untuk bangkit. "Maaf aku tidak sengaja." Ucap Hana tanpa menatap lawan bicaranya.


"Dasar ceroboh!" Umpat Dokter Dika membersihkan jasnya yang sedikit kotor terkena tumpahan kopi yang dibawa Hana.


"Di— Dokter Dika." Ucap Hana saat mengetahui jika Dokter Dikalah yang ia tabrak.


"Apa pekerjaanmu di rumah sakit ini hanya menabrak orang dan membuat kegaduhan!" Hardik Dokter Dika.


"Rumah sakit ini seharusnya mempertimbangkan dokter seperti apa yang bisa bekerja di sini!" Tanpa memperdulikan keadaan tangan Hana yang memerah akibat terkena kopi panas, Dika pun segera berlalu masuk ke dalam ruangannya.


Hana tertegun. Kedua bola matanya mulai mengembun mendapatkan perlakuan kasar dari orang yang sampai saat ini masih mengisi relung hatinya.


"Ayo kita obati lukamu..." Ucap Winda.


"Tunggu... Kita bereskan ini dulu." Ucap Hana merajuk pada gelas kopinya yang terjatuh di lantai. Mereka pun membereskan kekacauan yang terjadi lebih dulu sebelum masuk ke ruangan Dokter Winda untuk mengobati luka bakar di tangan dokter Hana.


"Huh, sakit sekali..." Rintih Hana saat Dokter Winda mulai mengoleskan salap di tangannya.


"Lain kali kau jangan terburu-buru jika membawa minuman panas. Ini akibatnya." Cetus Winda masih mengoles salap dengan hati-hati di tangan Hana.


"Mau bagaimana lagi, Winda. Aku itu sudah sangat kebelet. Dan gara-gara kejadian tadi, aku sampai melupakan niatku untuk membuang air kecil!" Sungut Hana.


"Hana..."

__ADS_1


"Ya, apa lagi?" Cetus Dokter Hana.


"Aku lihat wajahmu begitu sedih saat dibentak Dokter Dika. Dan tatapanmu terlihat berbeda kepadanya." Ucap Winda berusaha memahami keadaan.


"Kau tidak pernah terlihat sesedih ini sebelumnya. Ada apa denganmu, Hana? Apa ada hal yang tidak aku ketahui selama ini?" Tanyanya ragu.


***


...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...


Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (On Going)


Jangan lupa beri dukungan dengan cara


Like


Komen


Vote


Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya☺

__ADS_1


__ADS_2