Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Menahan rasa sakit


__ADS_3

"Biar saya saja yang menyetir, tuan." Ucap Asisten Jimmy saat Gerry hendak membuka pintu kemudi.


"Dengan kondisi panik seperti ini tidak baik untuk tuan berkendara." Lanjutnya kemudian.


Gerry mendesah. "Cepat jalankan mobilnya!" Titahnya saat sudah masuk ke dalam kursi penumpang.


Asisten Jimmy mengangguk. Mobil pun mulai berjalan membelah kesunyian di malam hari.


Suara sepatu pentofel itu terdengar nyaring bergema di lorong rumah sakit. Gerry berlari dengan cepat tatkala melihat sang Ibu tengah bercengkrama bersama dokter di depan ruangan bersalin. Pandangan semua orang kini tertuju pada pria itu.


"Gerry?!" Pekik Mama Riana melihat kedatangan anaknya. "Kau kemana saja huh? Kenapa nomormu tidak aktif! Dan kenapa kau tidak mengabari Mama jika pulang hari ini." Decak Mama Riana.


"Maaf ponselku kehabisan daya saat di perjalanan. Dimana Kyara?" Tanya Gerry dengan nafas yang naik turun.

__ADS_1


"Kyara ada di dalam. Masuklah jika kau ingin menemuinya."


"Apa Kyara sudah mau melahirkan?" Tanya Gerry begitu cemas.


"Saat ini jalan lahir janin Ibu Kyara masih pembukaan 7. Kita masih harus menunggu hingga pembukaan benar-benar lengkap dan bayi siap untuk dilahirkan. Untuk saat ini Pak Gerry hanya perlu memberikan semangat dan ketenangan bagi Ibu Kyara agar tidak terlalu stres memikirkan persalinannya sebentar lagi."


Gerry mengangangguk paham. Kemudian ia pun masuk ke dalam ruang persalinan. Pandangan Gerry terjatuh pada sosok yang kini berbaring membelakanginya. Gerry menghela nafasnya sejenak sebelum kembali melangkahkan kaki ke arah istrinya.


"Kyara..." Panggil Gerry saat ia sudah berada di samping brankar. Gerry dapat mendengar isakan kecil keluar dari mulut istrinya.


"Maaf aku baru datang sekarang." Ucap Gerry kemudian duduk di samping brankar.


Kyara tidak menyahutinya. Wanita itu kini memejamkan erat kedua matanya menahan sakit pada perutnya. Ingin sekali ia menanyakan kemana pria itu pergi satu bulan terakhir. Namun rasa sakit di perutnya mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Kau bisa menjadikan tanganku untuk menyalurkan rasa sakitmu." Ucap Gerry yang sungguh tidak tega melihat wanita itu terlihat sangat kesakitan. Gerry sungguh tidak menyangka jika proses sebelum melahirkan semengerikan ini.


"Hiks... Sakit..." Cengkraman tangannya di tangan Gerry semakin mengerat saat merasakan perut dan pinggangnya semakin mengencang. Kyara merasakan sakit yang teramat sangat seakan tulang belulangnya dicabut satu persatu dari tubuhnya.


Gerry memasrahkan tubuhnya sebagai pelampiasan kesakitan wanita itu saat kontraksi itu terjadi secara berulang.


"Baik-baiklah di dalam sana. Jangan menyakiti Mama kamu Boy..." Bisik Gerry di perut Kyara. Gerry dapat melihat jika perut wanita itu semakin turun sejak terakhir kali ia melihatnya.


Kyara hanya diam dengan isak tangis di bibirnya. Tangan Gerry yang bebas kini terulur mengelus rambut wanita itu guna menenangkannya. Setelah merasa rasa sakitnya mulai berkurang, Gerry pun mengajak Kyara untuk berjalan di sekitar ruangannya untuk mempercepat jalan lahir anaknya.


Kedua lengan Gerry ia gunakan sebagai pegangan saat berjalan. Sesekali Kyara mencengkram erat lengan berotot itu saat rasa sakitnya kembali menyerang.


"Argh... Sakit...." Kyara pun hampir luruh ke lantai saat rasa sakitnya terasa lebih kuat. Untung saja Gerry sempat menahan tubuh wanita itu dan membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


***


__ADS_2