
"Kau... Sedang apa kau datang kemari?" Bu Retno menelisik penampilan Kyara dari atas sampai bawah. Hingga tatapannya tertuju pada Bayi yang berada di gendongan Kyara.
"Wah... Apakah anak ini adalah anak hasil perbuatan harammu dulu sehingga kau memilih mengundurkan diri sebelum dipecat?" Cibir salah satu OB yang berada di belakang Bu Retno. Dua OB lainnya pun turut tertawa sinis.
Kyara menegakkan tubuhnya. Matanya menatap nyalang pada Bu Retno kemudian mantan rekan OBnya. "Jaga bicara kalian! Anakku bukan anak haram!" Tekan Kyara dengan wajah merah padam.
"Hahaha..." Tawa empat orang wanita minim akhlak itu menggelegar. Tentu saja mereka berani melakukan itu karena hanya mereka dan para resepsionis yang sedang berada di sana. Sedangkan karyawan yang berlalu lalang tidak perduli dengan kegiatan mereka.
Kyara menghela nafasnya. Ia sungguh muak berada di sana. Langkah kakinya pun mengarah pada tiga resepsionis yang kini menatapnya penuh keprihatinan. Setidaknya tiga orang resepsionis itu masih memiliki prikemanusiaan.
"Ada yang bisa kami bantu Nona?" Tanya salah satu resepsionis memasang wajah ramah.
Kyara tersenyum. "Saya ingin bertemu dengan Pak Gerry. Apa Pak Gerry ada di ruangannya?" Tanya Kyara sedikit ragu.
Ketiga resepsionis itu saling pandang. Berbeda dengan Bu Retno dan ketiga OB yang berada dibelakangnya menatap punggung Kyara dengan mata membola.
"Maaf, apa anda sudah membuat janji dengan Pak Gerry sebelumnya?"
Kyara menggeleng. "Saya hanya ingin memberikan kotak bekal ini kepadanya." Tutur Kyara mengakat kotak bekal di tangannya.
Resepsionis itu nampak berpikir. Tapi belum sempat ia menjawab, suara teriakan Kyara membuat tiga resepsionis terkejut.
__ADS_1
"Apa maksudmu ingin bertemu dengan Pak Presdir wanita jal*ng?" Cecar Bu Retno setelah menarik bahu Kyara dengan keras.
"Sssht..." Kyara meringis merasakan sakit di bahunya.
"Untuk apa kau dan anak harammu itu datang menemui Pak Presdir? Apa kau ingin menggoda Pak Presdir agar kau bisa kembali bekerja di perusahaan ini mengatas namakan anak harammu?!" Hardik Bu Retno denyan suara sedikit keras.
"Jaga bicara anda Bu Retno! Saya tekankan sekali lagi anak saya bukan anak haram!" Balas Kyara dengan suara sedikit meninggi.
Perdebatan mereka akhirnya menarik perhatian orang-orang yang sedang berlalu-lalang di lobby.
"Sekalinya anak haram tetap saja anak haram!" Cecar salah sati OB yang masih berada di belakang Bu Retno. Mereka pun sontak tertawa mengejek pada Kyara.
"Sekarang lebih baik kau bawa anak harammu ini keluar dari perusahaan ini karena kehadirannya bisa-bisa membuat perusahaan ini kena sial!" Cecar Bu Retno lagi. Bu Retno sangat yakin jika aksinya ini akan mendapat pembelaan dari presdir nantinya. Apa lagi ia yakin Pak Presdir tidak menyukai Kyara sejak kejadian satu tahun yang lalu.
Bu Retno pun dengan refleks mendorong tubuh Kyara hingga tubuh Kyara terbentur dengan meja resepsionis.
"Hua..." Baby Rey yang berada digendongan Kyara menangis dengan keras. Bayi itu nampak ketakutan melihat orang-orang memaki Ibunya.
"Ma..." Tangisan Baby Rey semakin keras dengan air mata membasahi pipi bulatnya. Isakan tangis pun lolos dari bibir mungilnya.
"Anda benar-benar keterlaluan Bu Retno!" Ucap Kyara berusaha menenangkan bayinya.
__ADS_1
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
.
__ADS_1
.
.