
Pukul jam 9 malam, Kyara yang sudah hampir dua jam tertidur pun terbangun dari tidurnya. Setelah pulang bekerja, Kyara memang memilih untuk langsung istirahat setelah membersihkan tubuhnya.
Kruk
Bunyi suara yang berasal dari perutnya membuat Kyara terkekeh. Sepertinya bayi mungilnya sudah lapar lagi. Padahal sebelum tidur ia sudah menyempatkan untuk makan.
"Baiklah... Ayo kita makan lagi." Ucap Kyara membelai perutnya. Selagi ***** makannya sedang baik ia tidak akan menyia-nyiakannya.
__ADS_1
Langkah Kyara terhenti ketika sudah berada di luar kamarnya. Kyara menatap pintu yang masih tertutup rapat di depan kamarnya sejenak kemudian kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Kenapa Pak Gerry belum pulang juga? Bukankah tadi ia pulang lebih dulu bersama Asisten Jimmy. Batin Kyara.
Gerry memasuki apartemen dengan langkah lebar. Melihat lampu dapur yang masih menyala membuat Gerry melangkahkan kakinya ke arah dapur. Sampainya di pintu dapur, Gerry dapat melihat Kyara yang sedang menyesap susu bewarna coklat hingga tandas. Gerry menatap heran istrinya yang sudah berapa kali ia lihat tengah meminum susu di malam dan pagi hari tanpa sengaja.
Kemasan susu tanpa kotak itu juga sudah beberapa hari ini ia lihat memenuhi lemari pendingin setelah kepulangannya dari Kota S. Dan seperti biasanya, Gerry memasuki dapur menuju lemari pendingin tanpa memperdulikan keberadaan Kyara di dalam sana.
__ADS_1
Sedangkan Gerry yang sudah lelah bekerja seharian ditambah malam ini memenuhi undangan jamuan makan malam koleganya, lebih memilih menuju kamarnya tanpa melihat Kyara. Hasratnya yang sudah di ubun-ubun sangat ingin dituntaskan harus ia tahan mengingat kondisi tubuhnya yang kurang sehat akhir-akhir ini. Belum lagi ia harus segera menyelesaikan pekerjaannya yang menumpuk akibat tidak masuk kantor mengurus permasalah di kota S.
Kyara duduk termenung di kursi kayu bewarna putih di balkon apartemen. Pandangannya mengedar menatap indahnya pemandangan Ibu kota di malam hari. Satu tetes air mata berhasil lolos di pelupuk matanya. Kerinduan menginginkan mendengar suara suaminya membuat Kyara begitu bersedih. Kyara tidak tahu apa penyebab ia sangat ingin berada di dekat Gerry saat ini. Dan entah mengapa ia sangat mudah bersedih jika hanya mengingat suaminya itu.
"Apa ini juga termasuk efek kehamilan?" Lirih Kyara ketika menyadari sesuatu. "Sepertinya akan turun hujan." Ucapnya ketika suara gemuruh mulai terdengar disertai angin kencang.
Kyara memilih beranjak dari balkon menuju kamarnya. Mata Kyara seketika membola ketika baru masuk dalam kamarnya. Bagaimana tidak, saat ini ia tengah melihat Gerry sedang duduk bertelanjang dada di pinggir ranjangnya.
__ADS_1
Ternyata Gerry yang sudah tidak bisa menahan hasrat untuk menyentuh istrinya itu lebih memilih untuk menyelesaikannya terlebih dahulu dan memilih masuk ke dalam kamar Kyara. Namun ketika memasuki kamar Kyara, wanita itu tidak ada di sana hingga Gerry memutuskan untuk menunggunya saja.
Kedua insan manusia itu nampak saling menatap. Jika Gerry menatap Kyara seperti singa kelaparan apalagi saat ini ia melihat tubuh Kyara yang sedikit berisi dan terlihat seksi. Sedangkan Kyara menatap takut akan tatapan Gerry yang sudah ia tebak akan mengarah kemana. Rasa rindunya yang ingin mendengar suara Gerry tiba-tiba sirna berganti rasa ketakutan jika Gerry benar-benar melakukan hal yang ada dipikirannya.