Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Diam-diam mencintaiku


__ADS_3

"Mencintaiku..." Ucap Rania mengulang perkataan William. Detak jantung wanita itu kini berdetak lebih cepat.


"Ya. Apa aku harus mengulang kembali ucapanku?" Tanya William sambil menatap lucu wajah istrinya yang terlihat bingung.


"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Rania dengan bodoh.


"Tidak ada alasan untuk aku mencintaimu. Karena mencintaimu adalah sebuah anugrah tanpa harus ada kata kenapa." Ucap William.


Bagai ada ribuan kupu-kupu yang kini menggelitik dadanya membuat Rania begitu bahagia. Bahkan rona merah kini mulai muncul di kedua pipinya.


"Tapi... Bukankah sejak awal kau melarangku untuk mencintaimu?" Lirih Rania sambil tertunduk.


"Aku memiliki alasan untuk itu. Aku hanya tidak ingin kau tersakiti karena mencintaiku saat masalah seperti kemarin datang sedangkan aku belum membuktikan kebenarannya. Dan bodohnya aku, aku tetap membuatmu sakit karena kau sudah lebih tahu permasalahan yang menjadi bebanku hingga menyebabkan kita berpisah sejenak." Terang William.


"Dan rasa bersalah itu semakin menghantuiku saat aku mengetahui jika kau sudah sejak lama diam-diam mencintaiku." Ucap William sedikit menggoda.


"Kau... Bagaimana—"

__ADS_1


"Bagaimana aku bisa tahu?" Tanya William sambil menahan tawanya melihat wajah Rania semakin memerah.


"Kau..." Rania semakin tertunduk.


"Aku baru mengetahuinya dari Gerry satu minggu yang lalu sebelum Gerry kembali pulang ke negara ini. Jika aku tahu kau sudah sejak lama mencintaiku, maka aku tidak akan mengulur waktu untuk menikahimu."


"Apa kau tahu Rania, saat pertama kali aku menyadari jika wanita yang akan aku nikahi adalah dirimu, membuat aku begitu bahagia karena wanita pilihan orang tuaku tidak salah. Namun mengingat kembali beban yang saat itu menghantui pemikiranku tentang Bianca dan malam kelam itu, membuatku takut jika kau akan meninggalkanku suatu saat nanti. Maka dari itu aku lebih memilih menjaga jarak denganmu agar perasaanmu lebih terjaga untuk tidak mencintaiku sampai aku membuktikan kebenarannya. Dan yang aku sayangkan, ternyata keputusanku itu salah karena kau sudah lebih dulu mencintaiku. Aku bahkan tidak sadar keputusanku itulah yang membuatmu semakin terluka."


"Maafkan aku... Aku sungguh berdosa padamu..." William merengkuh tubuh Rania namun tidak begitu erat sebab ada janin yang kini menghambat sentuhan mereka.


"William..." Lirih Rania di dalam pelukan suaminya. Tangan Rania pun ikut terulur memeluk erat kekasih hatinya. "Terimakasih telah membalas perasaanku." Ucap Rania begitu haru.


Jam dinding pun terus berputar. Namun Rania dan William masih terus berlanjut mengungkapkan perasaan masing-masing dan saling melepas rindu.


"Apa kau meminum susu hamilmu dengan baik selama satu bulan ini?" Tanya William saat menuangkan air panas ke dalam gelas susu Rania.


Rania tersenyum kaku. "Aku sering melupakannya." Balas Rania dengan jujur.

__ADS_1


William menghela nafasnya. "Kenapa begitu, hem?" Tanya William merasa gemas.


"Karena aku tidak berselera. Aku lebih berselera meminumnya jika kau yang membuatkannya." Ucap Rania dengan jujur.


"Aku rasa kau sudah cinta mati padaku sehingga tanpaku hidupmu terasa tabu." Seloroh William.


Rania memberengut. "Kau terlalu percaya diri sekali!" Kilahnya lalu memalingkan wajahnya agar William tidak mengetahui kebohongannya.


"Apa kau yakin jika aku yang terlalu percaya diri?" Tanya William menaikkan sebelah alis tebalnya. "Atau kau yang begitu mencintaiku?" Ucapnya menggoda sambil mengedipkan sebelah matanya.


***


Vote, komen dan likenya dulu baru lanjut lagi ya😌


Sambil menunggu cerita HSM update, kalian bisa mampir ke novel aku yang lainnya, ya☺


- Dia Anakku, Bukan Adikku (On Going)

__ADS_1


- Serpihan Cinta Nauvara (End)


- Oh My Introvert Husband (End)


__ADS_2