
"Daddy... ayo pergilah... aku tidak ingin Daddy demam." Cilla terus berupaya menyuruh Calvin untuk membersihkan tubuhnya. Tangan mungilnya pun ikut bekerja menarik tangan Calvin untuk berdiri.
Mau tidak mau Calvin pun menuruti perintah putri bawelnya. "Baiklah. Dad akan membersihkan tubuh lebih dulu. Kau bermainlah dengan Bibi di sini." Ucap Calvin yang diangguki cepat oleh Cilla.
Dengan langkah lebar Calvin pun berjalan menuju kamarnya yang ada di lantai dua. Menaiki anak tangga satu persatu sambil sesekali menatap pada Cilla yang kini juga tengah menatapnya.
"Dadah Daddy!" Tangan Cilla melambai. Senyumannya terlihat sangat manis. Calvin yang jarang tersenyum itu pun ikut terbawa tersenyum karena putri kecilnya. Calvin pun kembali melanjutkan langkahnya dan tak lagi melihat ke arah putrinya.
Ceklek
Calvin yang baru saja membuka pintu kamarnya dibuat terkejut melihat pemandangan di depannya. Bagaimana tidak, saat ini ia dapat melihat dengan jelas tubuh indah istrinya yang tak lagi tertutupi sehelai benang pun setelah Bianca melepas kain terakhir yang menutupi tubuhnya.
__ADS_1
Bianca pun memungut satu persatu kain yang sudah terlepas dari tubuhnya tanpa menyadari jika kini ada seseorang yang tengah menatap lapar padanya.
"Huh, untung saja lantainya tidak basah." Gumam Bianca. Saat membalikkan tubuhnya untuk mengambil handuknya yang ia letakkan di atas ranjang, Bianca dibuat terkejut melihat Calvin yang sudah berdiri tegak di belakanganya.
"Calvin..." Bianca hampir saja berteriak jika saja Calvin tidak lebih dulu membekap mulutnya.
"Diam atau aku akan terus menutup mulutmu." Ucap Calvin dengan datar.
Calvin pun dengan perlahan membuka bekapan tangannya. Menatap datar pada wanita yang tengah menahan malu di depannya.
"Apa kau tidak bisa membuka baju di kamar mandi sehingga kau membuka bajumu di sini?" Tanya Calvin dengan nada datar namun pandangannya tak lepas dari wajah istrinya yang nampak cantik tanpa polesan make up di wajahnya.
__ADS_1
"A-aku tidak tahu jika kau akan masuk ke dalam kamar." Sekuat tenaga Bianca menahan kegugupannya saat ini. Apa lagi ia dapat melihat tatapan mata Calvin saat ini persis seperti tatapannya beberapa tahun yang lalu sebelum mereka melewati malam panas mereka.
"Kau tidak tahu atau kau memang berusaha menggodaku?" Calvin mengangkat dagu istrinya. Hingga kini ia dapat melihat dengan jelas setiap pahatan di wajah Bianca yang nampak sempurna. Tatapannya pun terus ingin berlama-lama menatap pada wajah cantik istrinya lalu beralih pada bibir merah bak cherry itu.
"Aku tidak berusaha menggodamu. Lagi pula untuk apa menggo—" ucapan Bianca akhirnya melayang begitu saja di udara saat ia merasakan sebuah benda kenyal membungkam bibirnya.
Bianca terbelalak. Menatap pada wajah Calvin yang saat ini sangat dekat dengan wajahnya. Pria itu nampak memejamkan kedua matanya. Menikmati manisnya bibir yang sejak tadi menggoda imannya. Bianca istrinya, tidak salah bukan jika ia melakukannya?
Bianca pun berupaya melepaskan pangutan suaminya. Ini tidak beres. Calvin pasti sedang tidak sadar melakukan ini semua kepadanya. Aksi pemberontakannya akhirnya harus terhenti saat tubuhnya mulai terbuai akan ciuman lembut Calvin yang selalu membuatnya kehilangan akal sehatnya.
***
__ADS_1