Hanya Sekedar Menikahi

Hanya Sekedar Menikahi
Aku sangat mencemaskanmu


__ADS_3

William pun dengan hati-hati mengangkat tubuh Rania keluar dari dalam mobil. Tanpa memperdulikan tatapan orang-orang di sekitarnya, William tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan sambil menggedong tubuh istrinya. Dan di belakangnya, Steve terlihat sedang menenteng tas kerja Rania yang membuat beberapa mata nampak menahan tawanya melihat betapa manisnya pria itu.


"Letakkan saja tas istriku di atas meja, Steve." Perintah William lalu kembali melanjutkan langkahnya menaiki tangga menuju kamarnya.


Dengan sedikit kesusahan karena menggendong Rania, akhirnya pintu pun berhasil terbuka. Dengan perlahan William pun merebahkan tubuh istrinya yang masih terlelap itu tanpa merasa terganggu dengan aktivitas di sekitarnya.


"Wajahmu masih nampak pucat." Gumam William menyibakkan beberapa helai rambut yang menutupi wajah Rania.


"Jika kau masih sakit begini, kenapa tetap memaksakan untuk tetap bekerja?" William mendesahkan nafasnya bebas di udara. Tangannya pun mulai terampil melepeskan sepatu yang masih melekat di kaki Rania dan juga melepas beberapa kancing bagian atas baju Rania agar wanita itu nyaman dalam tidurnya.


"Tidurlah... Aku akan membangunkanmu setengah jam lagi untuk membersihkan tubuhmu dan makan malam." Ucap William pelan lalu mengecup lama kening istrinya. William pun segera keluar dari dalam kamar untuk menemui Steve yang masih berada di ruang tamu apartemennya.


*


Setengah jam lebih berlalu, akhirnya William yang sudah selesai berbincang dengan Steve pun beranjak menuju kamarnya untuk membangunkan istrinya yang masih tertidur. Namun di luar dugaannya, saat melihat ke atas ranjang, sosok istrinya itu sudah tak terlihat. Dan beberapa detik selanjutnya William pun mendengarkan suara muntahan dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Rania..." Gumam William lalu segera melangkah menuju pintu kamar mandi.


Hoek...


Makanan yang baru saja dimakan oleh Rania sebelum pulang bekerja tadi nampak keluar dari dalam mulutnya dan mengotori westafel. Rania terus memuntahkan makanan yang sudah masuk ke dalam perutnya itu hingga habis tak tersisa.


William yang berada di belakang Rania pun sontak memijat pundak istrinya.


"Rania... Kau muntah-muntah lagi..." Ucap William dengan tangan yang masih memijat pundak Rania.


"Sebenarnya ada apa yang terjadi padamu, Rania?? Kau membuatku benar-benar khawatir." Ucap William dengan wajah cemas.


"Entahlah... Namun aku merasakan sangat sensitif dengan bau belakangan ini." Lirih Rania yang sudah nampak lemas. Rania pun membasuh wajahnya lalu membalikkan tubuhnya menghadap pada William.


"Will..." Lirih Rania. Dan tanpa diduga, Rania pun segera berhambur memeluk tubuh kekar suaminya. "Badanku sungguh lemas sekali...." Lirih Rania semakin memeluk erat tubuh William. "Aku sangat sensitif dengan bau menyengat, namun aku tidak tahu kenapa aku sangat menyukai bau badanmu." Ucapnya kemudian.

__ADS_1


William tak mengabaikan kesempatan itu, tangannya pun terulur membalas pelukan istrinya. "Aku sangat mencemaskanmu, Rania.. Ku mohon untuk kali ini saja kau mendengarkan perkataanku. Besok pagi kita harus pergi ke dokter untuk memeriksakan keadaanmu." Ucap William dengan tegas.


Rania yang sudah merasakan lemas itu pun hanya bisa mengangguk di dalam pelukan suaminya. Lagi pula ia juga merasa aneh dengan keadaan tubuhnya beberapa hari belakangan ini. Pikiran buruk pun mulai menghantui pemikirannya saat memikirkan mungkin saja saat ini ia tengah terkena penyakit berbahaya.


"Baiklah. Jika kau sudah setuju, besok pagi kita akan pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaanmu."


***


Selamat membaca☺


lanjut??


Mohon beri dukungan untuk karya author dengan cara memberikan like, komen dan votenya☺


Semakin banyak dukungannya... Maka author juga makin semangat upnya, hihi☺☺

__ADS_1


__ADS_2