
Hingga hari kesepuluh pun berlalu. Sikap William masih saja tetap seperti biasanya. Bahkan sudah dua hari ini William tidak pernah kembali ke apartemen. William hanya mengirimkannya pesan singkat jika pria itu masih sibuk bekerja.
Rania hanya bisa mengelus dadanya melihat sikap suaminya yang semakin hari seperti tidak menganggapnya ada. Mungkinkah William mulai mengikuti jejak Gerry saat di awal pernikahannya dengan Kyara yang hanya sekedar menikahi istrinya tanpa menganggap istrinya ada? Batin Rania merasa miris.
Rania menyambar ponsel yang berada di atas meja makan saat mendengar suara notifikasi pesan masuk. "Seno?" Gumam Rania dengan sedikit tersenyum.
Rania... Apa hari ini kau sibuk? ~ Seno
"Ah, aku sampai melupakan jika belum mengganti nama kontaknya menjadi Sean. Dia pasti akan marah jika mengetahui aku belum menggantinya." Ucap Rania mengingat saat itu Sean pernah bertanya siapakah namanya di kontak ponselnya. Rania pun dengan buru-buru mengganti nama kontak Sean.
Rania...
Rania...
Rania...
Pesan Sean pun mulai masuk berturut-turut saat Rania tak kunjung membalas pesannya. Tak lama panggilan telefon dari Sean pun masuk. Rania pun dengan cepat mengangkatnya.
"Kenapa kau lama sekali membalas pesanku?' Cecar Sean saat panggilan terhubung.
"Kau itu tidak sabaran sekali. Aku baru saja mengganti nama kontakmu di ponselku." Ucap Rania jujur.
Sean berdecak. "Kenapa kau baru menggantinya?" Protesnya.
"Karena aku baru mengingatnya." Balas Rania seadanya.
"Ah sudahlah... Apa kau sibuk hari ini Rania?" Tanya Sean.
Rania menggeleng walau ia tahu Sean tak akan melihat pergerakannya. "Tidak. Aku sungguh merasa bosan." Keluh Rania.
__ADS_1
"Bagaimana kalau kau ikut denganku menikmati secangkir coffe di tempat biasa. Kebetulan hari ini aku pulang lebih awal dari biasanya." Ajak Sean. "Tenang saja... Aku akan membayarkan coffemu." Lanjutnya kemudia.
Rania melihat jam yang menggantung di dinding apartemennya sudah menunjukkan pukul empat. Sudah hampir tiga jam ia termenung seorang diri di dalam kamarnya.
"Baiklah aku akan ikut." Putus Rania sambil menurunkan kakinya dari ranjang. Toh tidak ada salahnya iya menerima ajakan Sean. Mereka juga bertemu di tempat yang ramai. Dan ia juga akan meminta izin kepada William nantinya.
"Dimana posisimu saat ini?" Tanya Rania kemudian.
"Aku ada di depan apartemenmu dan suamimu."
"A-apa?!"
*
"Jadi bagaimana bisa kau tahu jika aku sudah menikah?" Tanya Rania. Saat ini mereka sudah berada di cafe sambil menikmati secangkir kopi.
"Tapi... Bagaimana kau bisa mengetahuinya dengan mudah?"
"Karena aku pemilik gedung apartemen ini." Jawab Sean dengan santai.
"A-apa?" Rania terbelalak. "Apa kau sekaya itu?" Rania menelan ludahnya susah payah.
"Seperti yang kau pikirkan. Bahkan satu hal yang harus kau tahu, bahwa aku juga mengetahui nasib pernikahanmu yang buruk itu." Ucap Sean merasa prihatin.
Mendengar perkataan Sean Rania pun seketika tertunduk.
"Maaf... Aku tidak bermaksud—"
"Kau benar. Pernikahan yang aku jalani sungguh buruk." Sela Rania dengan tersenyum kecut.
__ADS_1
"Sudahlah. Kau tidak perlu bersedih. Walau pun aku hanya mengetahui sekilas tentang pernikahanmu, namun aku dapat menebak jika kau saat ini sangat bingung dengan keadaan yang sedang kau jalani. Apalagi kau harus terkurung di apartemen itu tanpa adanya teman."
"Sudahlah... Aku tak ingin membahasnya..." Desah Rania.
"Baiklah. Oh iya Rania. Aku memiliki penawaran yang baik untukmu agar keluar dari kebosananmu."
"Apa itu?" Rania merasa penasaran.
"Bagaimana kalau kau bekerja di perusahaanku menjadi sekretarisku? Kebetulan aku membutuhkan seorang sekretaris saat ini. Dan juga pekerjaanmu nantinya tidak sulit. Aku yakin kau bisa menjalaninya." Tutur Sean.
***
...Mau lanjut lagi? Kencengin komen dan votenya yuk!...
Sambil menunggu cerita Kyara update, kalian bisa mampir di dua novel aku yang lainnya, ya.
- Serpihan Cinta Nauvara (End)
- Oh My Introvert Husband (On Going)
Jangan lupa beri dukungan dengan cara
Like
Komen
Vote
Agar author lebih semangat untuk lanjutin ceritanya, ya...
__ADS_1