
"Aku akan menemanimu menjaga Rey." Ujar Gerry yang ikut menjatuhkan bokongnya di karpet bulu kembali setelah membuang popok bekas Baby Rey ke dalam tong sampah.
"Tidak perlu. Aku bisa menjaganya sendiri. Sebaiknya kau istirahatlah. Bukankah besok kau sudah mulai bekerja?"
"Tak masalah. Aku bisa tidur setelah Rey kembali tertidur." Kekehnya.
"Tidurlah. Jangan menyiksa tubuhmu seperti ini." Tekan Kyara sambil menatap tajam pada Gerry.
Gerrry mendesah. Kemudian ia pun bangkit. "Baiklah. Jika kau membutuhkan bantuan bangunkan saja aku." Tuturnya kemudian berjalan mendeketi sofa.
"Kau akan tidur di sana?" Ucap Kyara sedikit pelan saat Gerry hendak menjatuhkan tubuhnya di sana.
"Aku akan tidur di sini. Aku tahu kau pasti tidak akan nyaman jika tidur bersamaku."
__ADS_1
Lidah Kyara berdecak. "Tidurlah di atas kasur. Aku tak keberatan berbagi ranjang denganmu. Lagi pula ini kamarmu. Kau lah yang lebih berhak di sini." Kyara mengelus rambut putranya yang mungkin sedikit terganggu oleh perdebatan kecil mereka.
"Kau juga pemilik kamar ini." Tekan Gerry. Kemudian berjalan menuju ranjang. Dari pada berdebat berkepanjangan, lebih baik Gerry mengiyakan ucapan wanita itu. Lagi pula ia tidak tega jika berdebat di dekat putranya itu.
Jarum jam terus berputar ke arah kanan. Kesunyian malam menemani Kyara yang masih menyusui Baby Rey. Setelah merasa Baby Rey sudah kenyang dan kembali terlelap, Kyara pun bangkit untuk meletakkan Baby Rey ke dalam box bayinya. Kyara pun menuju ranjang untung kembali mengistirahatkan tubuhnya. Pandangan Kyara terhenti pada wajah Gerry yang nampak begitu damai dalam tidurnya.
"Pantas saja jika banyak wanita yang menggilaimu selama ini. Kau memang sangat tampan dalam kondisi apa pun. Namun sayang, takdirmu bukan untukku." Lirih Kyara menghela nafas dalam. Wanita itu pun ikut berbaring di sebelah Gerry. Menjadikan bantal guling sebagai pembatas mereka.
*
Kedua kelopak mata Gerry nampak mengerjap saat merasa guncangan pada tubuhnya. Tubuh Gerry terhenyak saat melihat wajah Kyara yang saat ini begitu dekat dengannya.
"Bangunlah. Bersiaplah untuk pergi bekerja. Aku sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi." Ujar Kyara sambil sedikit menjauhkan tubuhnya.
__ADS_1
Gerry pun bangkit dan duduk di tepi ranjang. "Tidak perlu repot. Aku bisa mengerjakannya sendiri. Bukankah kau baru saja melahirkan. Harusnya kau tidak banyak melakukan aktivitas." Protes Gerry.
"Sudahlah. Cepatlah bersiap. Kakek, Papa dan Mama sudah menunggu kita di bawah." Ujar Kyara mengingatkan.
Gerry hanya bisa mendesah lalu berjalan ke arah kamar mandi. Percuma saja berdebat dengan wanita keras kepala seperti Kyara. Hanya menghabisi air ludahnya saja.
Setelah melihat bayangan Gerry hilang dari balik pintu kamar mandi, Kyara pun berjalan menuju ke arah box Baby Rey.
Aku hanya ingin melakukan tugasku sebagai istri sebelum tugas itu sudah benar-benar selesai dan aku tidak lagi memiliki kewajiban untuk melakukannya.
Kyara hanya bisa menghela nafas panjang diiringi kedua bola matanya yang sudah mulai mengembun.
***
__ADS_1