
William menyandarkan kembali tubuhnya di jok mobil. Demi apa pun itu, ia tak akan pernah berhenti berjuang untuk mendapatkan hati Kyara.
"Sebaiknya kita lanjutkan perjalanan. Aku tidak enak pada Rania jika kita terlalu lama sampai di rumahnya." Ucap Kyara setelah keheningan cukup lama menyelimuti mereka.
William mengangguk. Mobil pun mulai merayap membelah keramaian Ibu Kota. Di perjalan tidak ada lagi pembicaraan antara William dan Kyara. Mereka hanya diam dalam pemikirannya masing-masing. Tak memakan waktu lama, akhirnya mobil pun sampai di depan rumah kontrakan milik Rania. Rania nampak menyambut kedatangan mereka. Pakaian wanita itu kini sudah berganti dengan pakaian rumahan. Sepertinya Rania juga sudah mandi.
"Terimakasih telah mengantarkan aku pulang." Ucap Kyara setelah William membukakan pintu untuknya.
William mengangguk seraya tersenyum. Ia berusaha menampilkan raut wajah biasa-biasa saja walau saat ini hatinya begitu kacau.
"Sudah kewajibanku untuk mengantarkan tuan putri pulang." Ucapnya seraya mengacak rambut Kyara.
Kyara tersenyum. Begitu pula dengan Rania yang melihat tingkah mereka.
"Kalau begitu aku pulang dulu." Pamit William pada Kyara. Kemudian mengalihkan pandangannya pada Rania. "Aku titipkan Ara di sini. Tolong jaga dia dengan baik untukku." Seloroh William pada Rania yang berhasil membuat rona merah pada pipi Kyara.
"Tidak perlu untukmu, aku pasti akan menjaga sahabatku dengan baik." Cebik Rania.
William terkekeh.
__ADS_1
"Ish... Kau ini..." Lirih Kyara pada William.
Melihat bibir Kyara yang maju beberapa centi membuat William bertambah gemas dan kembali mengacak rambut Kyara.
Kyara menghalau tangan William yang masih bertengger di kepalanya. "Bisa-bisa rambutku rontok jika kau acak terus seperti ini!" Sembur Kyara.
Bukannya marah, William justru terkekeh.
"Baiklah, sebelum singa kecil ini mengamuk. Sebaiknya aku kabur dulu." Kelakar William.
Rania memperhatikan interaksi dua manusia beda kelamin di depannya dengan senyum terkembang di bibirnya. Mereka berdua kini seperti layaknya pasangan muda yang sedang jatuh cinta.
Kyara mengangguk.
"Minum dulu, Kya. Aku sudah membuatkannya dari tadi untukmu. Seperti sudah sedikit dingin." Rania menyerahkan segelas susu hamil pada Kyara.
"Susu hamil?" Tanya Kyara.
Rania mengangguk. "Tadi aku sempat membelinya di mini market terlebih dulu. Aku tau kau pasti melewatkan minum susu hamilmu." Jelasnya.
__ADS_1
Kyara menatap Rania dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ia tidak menyangka Rania masih memikirkan hal kecil dalam dirinya seperti ini.
"Jangan menatapku seperti itu. Aku sedang tidak membutuhkan ucapan terimakasih darimu. Minumlah segera sebelum susunya bertambah dingin!" Titahnya.
Kyara menyambar gelas berisi susu itu lalu meminumnya hingga tandas.
"Apa tidak sebaiknya kau tidur di sini saja malam ini, Kya?"
"Emh, sepertinya tidak, Rania. Aku harus pulang ke apartemen sebentar lagi."
Kepala Rania memiring memperhatikan cuaca dari balik jendelanya yang masih terbuka.
"Sepertinya akan turun hujan, Kya." Ucap Rania melihat angin yang bertiup begitu kencang dan langit yang sudah sangat gelap. "Bukannya aku tidak mau mengantarkanmu pulang, Kya. Kau lihatlah cuaca di luar yang seperti mau hujan. Aku takut jika kita kehujanan di jalan dan itu tidak baik untuk wanita hamil seperti dirimu." Jelas Rania tidak ingin Kyara salah paham padanya.
Kyara nampak menimbang-nimbang. "Tapi..."
Rania yang seolah tahu apa yang dipikirkan Kyara pun angkat bicara kembali. "Kau bisa mengirim pesan pada Asisten suamimu jika kau menginap di rumahku malam ini, Kya." Saran Rania.
***
__ADS_1