
"Kenapa di dunia ini aku selalu saja bertemu dengan orang-orang berhati jahat seperti mereka." Gumam Rania setelah berjalan cukup jauh dari Citra. Rania dibuat begitu geram menghadapi orang-orang yang selalu berusaha menghancurkan kebahagiannya maupun sahabatnya.
Ting
Pintu lift terbuka. Rania lebih memilih masuk ke lift khusus karyawan dibandingkan masuk ke lift khusus yang biasa digunakan suaminya.
"Aw..." Tiba-tiba saja Rania meringis merasakan sakit pada perutnya saat sudah masuk ke dalam lift. "Perutku sakit sekali..." Rintih Rania. Tak ingin merasa panik, Rania pun menghela nafas panjang lalu berusaha untuk tenang. "Jangan rewel putri Mommy... Maafkan Mom yang sudah banyak pikiran." Rania mengelus perut buncitnya saat merasakan sakit di perutnya berangsur menghilang.
"Nona Rania... Apa anda baik-baik saja?" Tanya seorang OB wanita pada Rania saat melihat wajah Rania sedikit pucat setelah keluar dari dalam lift.
"Saya tidak apa-apa." Rania mencoba untuk tersenyum.
"Apa anda yakin?" Tanyanya meragu.
Rania mengangguk dengan pasti. "Kalau begitu saya pergi dulu." Pamit Rania dengan sopan yang diangguki OB itu dengan senyuman.
"Rania tenanglah... Kau tidak boleh terlalu banyak berpikir." Gumam Rania dengan pelan sambil berjalan ke arah mobilnya.
__ADS_1
"Langsung ke mansion Bagaskara saja ya, Pak." Ucap Rania pada sopir pribadinya saat sudah masuk ke dalam mobil.
"Baik Nyonya."
Aku harus menceritakan masalah ini dengan Kyara agar pemikiranku sedikit tenang. Batin Rania yang merasa perlu tempat untuk berbagi.
Tiga puluh menit berlalu, mobil pun telah sampai di mansion Bagaskara. Kedatangan mobil Rania masuk ke dalam gerbang mansion beriringan dengan mobil Kyara.
"Kyara... Kau baru saja pulang dari rumah sakit?" Tanya Rania pada Kyara setelah turun dari dalam mobilnya.
"Ya. Aku baru saja kembali." Balas Kyara tersenyum.
"Gerry sudah kembali ke perusahaannya lebih dulu karena Jimmy tiba-tiba saja menghubunginya jika ada rekan bisnisnya yang datang berkunjung ke perusahaan." Jelas Kyara.
Rania mengangguk paham. "Hallo calon menantu Tante." Ucap Rania pada Baby Rey yang kini berada digendongan Kyara.
"Calon menantu?" Ucap Kyara mengulang ucapan Rania.
__ADS_1
Rania mengangguk lalu tersenyum.
"Agh, sebaiknya kita masuk dulu. Sepertinya ada banyak cerita yang ingin kau sampaikan padaku." Ajak Kyara yang diangguki oleh Rania.
*
"Jadi jenis kelamin bayimu dan William perempuan?" Tanya Kyara merasa terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Ya. Aku sengaja belum memberitahukannya padamu. Karena aku ingin melihat wajah terkejutmu seperti saat ini." Seloroh Rania sambil tertawa.
Kyara pun turut tertawa. "Kau benar-benar ingin menjodohkan bayimu yang bahkan belum lahir dengan Rey?"
"Ya. Bukankah aku sudah pernah bilang jika bayiku perempuan, maka aku akan menjodohkannya dengan Baby Rey. Aku sangat menyayangi Rey. Jadi aku sangat berharap Rey bisa menjadi menantuku nantinya." Ucap Rania dengan sungguh-sungguh.
"Tapi bagaimana jika Rey dan bayimu kelak tidak terima akan perjodohan mereka?" Tanya Kyara dengan polosnya.
"Jika mereka menentang perjodohan ini tak masalah. Mereka tentu boleh saja menentukan siapa yang akan menjadi pasangan mereka nantinya. Namun sebelum itu semua terjadi, aku akan tetap berusaha agar Rey tetap menjadi menantuku nantinya." Balas Rania dengan tertawa namun tersirat keseriusan di dalamnya.
__ADS_1
***
Buat yang tanya cerita Calvin, akan tetap dilanjutkan di sini ya. Karena kisah mereka juga tidak akan terlalu panjang. Dan untuk kisah Dika dan Hana, akan dibuat judul sendiri nantinya ya. Harap menunggu saja. Karena aku ingin menyelesaikan satu-satu kisah mereka lebih dulu😌