
Cinta
*******
Semenjak kejadian itu keluarga kecil Ais mulai bahagia, apa lagi warung bakso Abi mulai berkembang semenjak mengikuti ide dari Ais.
Abi tidak pernah repot sekarang, semenjak masalah keuangan di pasrahkan ke Ais. dari bahan perlengkapan warung semua telah di handel oleh Ais, Abi tinggal beres, setiap harinya mereka bisa menabung sedikit demi sedikit. ibu Dwi juga tidak keberatan.
Pada suatu hari ibu Naya dan pak Idris dia adalah orang tua Ais berkunjung ke tempat Abi dan Ais.
" Assalamualaikum " salam dari mereka berdua.
" Waalaikum salam " jawab Ais langsung senyum bahagia dan segera menyalami kedua orang tuanya.
" Ibuk, bapak kapan datang kemari, ? kok tidak ngomong, khan kak Abi bisa jemput ? " kata Ais
" Tidak perlu jemput, kita bisa kesini sendiri "jawab buk Naya sinis.
" Kita tidak perlu merepotkan menantu miskin kita ya buk ?" jawab pak Idris, membuat Ais tidak sadar matanya berembun namun segera ia seka agar tidak terlihat sedih di depan orang tuanya.
" Emang Abi kemana kok kamu sibuk sendiri ? mau saja kamu di bikin sapi perah sama mereka ?" Tanya pak idris mengamati tubuh Ais yang masih penuh dengan tepung.
" Tidak yah, ini kemauan Ais sendiri bukan mereka yang nyuruh, ini masa depan Ais pak ! " kata Ais menahan hatinya.
" Katanya dulu kamu itu anak yang pintar tapi ternyata kamu bodoh, memilih suami yang miskin, apa sudah terbalik otak kamu ?" Caci bapaknya
__ADS_1
" Jangan seperti itu yah, cinta tidak memandang harta " jawab Ais
" Cih Persetann dengan cinta . . !?" decih pak idris
" Assalamualaikum " Abi yang mendengarkan perdebatan di depan rumah, tidak tega istrinya di pojokin orang tuanya sendiri.
" Waalaikum salam " jawab semua serentak.
" Kak Abi hukh hukh " tangis Ais langsung pecah di pelukan Abi.
" Cinta . . !? Apa kalian kenyang cuma makan cinta ? " tanya Ayahnya.
" Ayah salah kalau menilai cinta seperti itu ? Ayah tau menikah karena harta ?" Ais bertanya menekankan pada ayahnya.
" Ya pasti hidup lebih bahagia dengan b
" Iy ayah dia akan hidup bahagia dengan bergelimang harta, tapi di saat dia miskin, semua tidak lagi. karena dia mencintai hartanya, beda dengan CINTA, cinta dia akan berjuang membahagiakan cintanya, jikalau dia bahagia dengan harta. maka dia akan berjuang mendapatkan sebuah harta, karena cinta akan menumbuhkan kasih sayang. roda kehidupan akan berputar ayah ibu, tidak akan yang kaya akan tetap kaya , yang miskin juga tidak tetap miskin, mungkin yang kaya akan jatuh miskin karena dia terlalu bangga dengan kekayaanya, juga yang miskin dia akan bekerja keras untuk menempuh jalan kesuksesanya. seperti mba Nurma dulu yang ibu banggakan, mendapatkan mas Adam yang sudah hidup mapan, tapi sekarang apa, tapi sekarang apa mas Adam punya wanita idaman lain karena dia banyak uang dan mencampakan mba Nurma. itulah buk kekayaan ukuran kebahagiaan. Ais tidak mau buk hidup seperti mba nurma, sekarang hidup lebih blangsat dari Ais, lebih baik hidup bersama, mencari harta bersama - sama " kata Ais panjang lebar. Nurma adalah kakaknya Ais
Plaak. Ibunya menampar Ais sampai meringis menahan sakit.
" Jaga mulutmu, jangan bawa - bawa Nurma dalam rumah tanggamu, kau itu masih kecil belum tahu kerasnya kehidupan " kata Ibu Naya dengan marah.
" Ibu salah.. . .!?, bilang Ais belum pernah merasakan kerasnya kehidupan, asal ibu tau, dari kecil Ais sudah merasakanya " kata Ais tegas, dengan marah pada orang tuanya.
" Dari kecil Ais cuma pengen merasakan kasih sayang Ayah sama ibu seperti mbak - mbak Ais yang lain hingga Ais lakukan apa saja agar aku mendapatkan kasih sayang dari orang tua Ais sendiri , Ais rasakan kerasnya dari kerikil - kerikil jalanan membuat Ais mendapatkan semua itu " lanjut Ais
__ADS_1
Abi hanya bisa diam mendengarkan perdebatan anak dan orang tuanya. Namun dalam hati Abi tidak rela istrinya di sakiti.
" Ais sudah ya sayang . ? "rayu Abi agar emosinya meredam
" Lebih baik kita tempat Jay yah, di sini cuman bikin pusing, punya anak tidak ada gunanya, tidak tau terima kasih karena sudah di besarkan " ajak buk Naya pada suaminya
Ahirnya buk Naya dan pak Idris meninggalkan rumah itu. Sedangkan Ais masih menangis sesenggukan di pelukan Abi, sampai susah di redam Abipun masih melihat muka memar yang masih ada di pipi Ais, hatinyapun masih terasa sakit. Untung saja ibu Dwi tidak ada di rumah jadi tidak tahu masalah apa yang menimpa rumah tangga anaknya
" Dek, sudah sudah, kak Abi akan menjagamu setulus hati " Abi berusaha membuka pelukan dari Ais berniat mengambil air minum untuk Ais, dan mengambil es untuk mengobati pipi Ais.
" Kak, jangan tinggalkan aku hiks hiks hiks " Ais pun menangis semakin kencang, dan melinkarkan tanganya ke pinggang Abi lagi.
" Kak Abi cuma ingin ambil air minum dek ? " kata Abi sambil mengambil mangecup kening istrinya
Ahirnya Ais luluh dan mengijinkan Abi berdiri. setelah mengobati memarnya Ais, bukanya Ais tenang dia masih terus menangis terisak - isak sambil memeluk Abi.
' Ya allah, sesengsara inikah Ais menikah denganku ? aku janji ya allah akan membuatnya bahagia ' gumam Abi di dalam hati.
Abi tidak tahu, bagai mana menenangkan istrinya lagi, di tawari makan tidak mau, padahal dari pagi belum makan tapi tidak terasa lapar, cuma bisa memeluk tubuh Abi, hingga memvuat baju Abi basah karena air matanya.
Setelah sudah tidak ada lagi suara isak tangis dan pelukanya mulai me longgar, ada dengkuran lembut, mengantarkan tidur Ais. mungkin ke lelahan akibat menangis menangis terus. Abi sedikit menjauhkan wajah Ais daru dadanya, ternyata ada ingus yang tak terurus.
' Ih dasar anak ingusan ' kata Abi. Ais itu masih kecil beda sembilan tahun dengan Abi, Ais sembilan belas tahun, kalauumur Abi, pikir sendirilah ya, pasti tahu beda sembilan tahun lebih tua.
Abi membersihkan ingusnya, dan membuka celemek yang masih menempel di badan Ais, lalu menggendongnya, dan menidurkanya di dalam kamar, dengan lembut Abi mencium keningnya,
__ADS_1
" Kak Abi kerja dulu ya sayang, untuk masa depan kita, kakak yakin kau bisa memajukan bisnis kita walau kau tidak turun tangan sendiri " bisik Abi pada Ais sambil menyelimutinya.
Abi yang tadinya datang mau mengambil pesanan, tapi malah melihat istrinya di hina, orang tuanya sendiri lagi yang menghina, membuat hatinya semakin perih.