ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
Ais ke tahuan hamil


__ADS_3

" Buk Ais pamit, maafkan Ais, karena tidak bisa menjadi menantu baik buat ibu " kata Ais pada buk Dwi.


" Kamu mau ke mana nak, ini rumah kamu, jika yang harus pergi itu Abi, dan wanitanya !" kata bu Dwi. Ais hanya menggeleng.


" Ais ke sini tidak bawa apa - apa tapi Anak - anak Ais bawa, Ais juga tidak akan melarang kak Abi untuk bertemu anaknya " kata Ais.


" Ibu tidak akan izinkan kalian keluar dari rumah ini !" bentak bu Dwi.


" Maafkan Ais buk, Ais ingin menenangkan diri, Ais dan anak Ais tidak ingin buat kak Abi pusing " kata Ais.


" Salim sama nenek nak !" kata Ais suruh pada anaknya.


" Jangan pergi nak !" tangis bu Dwi sambil memeluk Ais.


" Ais jangan pernah kau keluar dari rumah ini !" teriak Abi, setelah melihat notif ponsel Ais dari grab.


" Pamit sama ayah nak !" kata Ais menahan air mata menyuruh anaknya, Abi yang turun dari tangga dengan terburu - buru, Zha menyambut tanganya, tapi di tepis oleh Abi.


" Siapa yang mengizinkan kalian keluar " murka Abi dengan mata memerah menahan amarah.


" Kak, Ais pamit, maafkan anak Ais, dan Ais yang selalu buat kak Abi pusing, dan jagalah anak laki - lakimu jangan sampai tersakiti, cukup kita yang jadi korban !" kata Ais.


" Kembali ke kamar kalian !" bentak Abi pada ke tiga putrinya, semua takut, pasalnya Abi tidak pernah kasar pada mereka.


" Ayah bilang, kembali ke kamar kalian !" bentak Abi, malah beringsut, ngumpet di belakang ibunya.


" Tunggu di luar sayang " bisik Ais, lalu ke tiganya keluar.


" Cukup, jangan kau rusak mental anaku, aku bertahan demi anaku, ternyata benar, apa yang di katakan anaku, kau lebih peduli dengan Vino !" bentak Ais, air mata yang dia tahan ahirnya meluncur tanpa permisi.


" Itu semua hanya masalah sepele Ais, kita beli yang baru untuk Zha, tidak usah kau besarkan " kata Abi.


" Ini juga masalah sepele kak, aku juga akan cari ayah baru untuk mereka, yang peduli akan perasaan mereka !" kata Ais membuat Abi kaget.

__ADS_1


" Kenapa kau kaget, ini soal kenyamanan kak, bukan soal hal baru atau lama, mungkin kau juga seperti itu, karena uangmu sekarang sudah banyak, dan di saat mereka sudah tidak nyaman, maka biarkan mereka cari hal yang baru !" kata Ais.


" Cukup Ais !" kata Abi.


" Assalamualaikum " Ais menarik kopernya tapi tanganya di pegang.


Saat grab datang, buk Dwi membayar dan suruh pergi.


" Zha, Intan, Ega, apa kalian sudah tidak sayang nenek ?" tanya bu Dwi dengan mata berkaca - kaca.


" Sayang !" jawab semua serempak.


" Kalau sayang kenapa kalian tinggalin nenek, bagaimana kalau nenek di dzolimi ayahmu, bu de Norma, Vino, siapa yang akan melindungi nenek di rumah kalau kalian pergi " kata buk Dwi.


" Ayah tidak akan menyakiti nenek, karena nenek ibunya " kata Zha tegas.


" Semua bisa orang lakukan karena bujuk orang yang pintar bersilat lidah !" kata bu Dwi.


" Ini rumah nenek peninggalan almarhum kakek, nenek tidak mau rumah ini di kuasai orang jahat " kata bu Dwi.


" Hanya ayah yang tidak peduli dengan kalian, nenek mbok Darmi dan mbak Menik masih peduli pada kalian. Ayah kalian masih hilaf, kita sadarkan ayah bersama yok dengan meminta bantuan mama, jangan pergi dari sini !" rayu bu Dwi, Zha menunduk meresapi apa yang di katakan bu Dwi.


" Kita harus mengingatkan orang yang kita cintai saat dia berbuat salah, apa kalian mau punya papa tiri, dan mama tiri seperti bu de Norma ?" tanya buk Dwi, dan di gelengi.


" Kita pergi sebuah peringatan dan teguran intuk ayah nek !" kata Zha.


' Otakmu memang pintar, anak Abi, tapi aku tidak akan membiarkan kalian keluar dari rimah ini ' pikir bu Dwi, berpikir sejenak


" Dengan kalian keluar sama saja memberi kesempatan orang lain untuk mendekati orang tuamu " kata bu Dwi, di resapi oleh Zha.


" Nenek mohon ya, bantu nenek menyadarkan anak nenek !" kata bu Dwi memegang tangan cucu - cucunya.


" Dek bangun dek, dek !" teriakan Abi dari dalam rumah, me mangku kepala Ais yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


" Mama !" semua anaknya lari menuju teriakan ayahnya.


" Maafkan aku dek, apa yang kau minta akan aku lakukan, asal jangan kau tinggalkan aku !" teriak Abi sambil menciumi wajah Ais, yang sudah tidak sdarkan diri.


" Mama bangun !" panggil semua anaknya.


" Bawa ke kamar Abi, aku panggilkan bidan biar ke sini !" kata bu Dwi.


Norma senyum penuh ke menangan.


...****************...


" Apa Ais hamil lagi !?" tanya Abi terkejut saat mendengar pernyataan bidan desa.


" Ya pak Abi, usia kandunganya memasuki delapan minggu " kata bidan desa.


" Alhamdulilah " kata Abi. " Tapi coba periksa ke rumah sakit, sepertinya janinya lebih dari satu, dan yang saya takutkan kalau bukan janin, itu pernyakit !" kata bidan desa menjelaskan. Abi langsung termenung.


" Baik buk ?" kata Abi.


" Ya allah, terima kasih kau telah kirimkan janin di rahim istriku, untuk mempertahankan rumah tanggaku ya allah, " Kata Abi sambil menciumi perut Ais yang belum sadar.


" Allah memberimu waktu, kau harus lebih tegas Abi " kata bu Dwi sambil menepuk pundak putranya.


" Apa setiap rumah tangga selalu seperti ini buk ?" tanya Abi.


" Ibu dulu lebih parah, bapakmu dulu tidak jujur sama ibu, dan dia langsung bawa pulang ibunya Arman dan anak laki - lakinya, ternyata ibu istri ke dua, ibu pergi, tapi ibu Arman dengan sabar merawatmu dan adikmu dengan sabar, yang membuat ibu menyesal, dia mencari ayahmu karena dia sakit kanker rahim, dia menitipkan Arman pada ibu, dan sebagian harta untuk di bagi anak ayahmu " kata bu Dwi.


" Jadi mas Arman anak orang kaya ?" tanya Abi.


" Ya, semua sawah, tanah yang sebagian di jual Arman itu asli milik ibunya, tapi dia tidak serakah, dia bagi semua, adiknya untuk modal. dan sifat Arman seperti ibunya, dia melindungi adik - adiknya, makanya ibu tidak pernah membedakan kalian, ibu juga tidak rela seorang wanita tersakiti karena ulah anak ibu, Ais adalah berlian langka, dia menyayangi ibu seperti ibu kandungnya " cerita bu Dwi.


" Terus sawah yang masih

__ADS_1


__ADS_2