ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
Masalah tidak untuk di hindari


__ADS_3

" Nadia ingin ke tempatmu, karena besok libur panjang Abi, biar dia jiga dekat dengan isteimu, biar lebih mengenal siapa isteimu !" jelas abah Ridho.


" Dan juga anak mu, Nadia bisa ikut menjaga !" lanjut abah.


" Tapi bah !" kata Abi terputus di sahut umi Kulsum.


" Nadia juga istrimu Abi !" kata umi Kulsum.


Abi hanya bisa pasrah.


Dengan ke adaan gontai memasuku mobil pulang lagi, di depan pintu du sambut Ais.


" Kak Abi, Ais sudah bisa jalan !" teriak Ais memeluk Abi, melepas dua tongkatnya yang menopang tubuhnya tadi.


" Ini anak susah banar di bilangin " kata Abi memegang hidung Ais.


" Assalamualaikum !" Nadia menarik koper memandang Ais. Ais memandang Nadia mengamatinya hingga terhenti di perut Nafia yang sedikit membuncit, terasa sesak dada Ais.


Nadia menyalami Ais.


" Nadia ingin di sini sementara waktu !" kata Abi sambil mengangkat Ais di gendonganya.


" Tapi kak Abi yang jelaskan pada anak - anak " kata Ais. Abi mengangguk.


" Nad itu kamarmu, bersihkan sendiri ya, karena posisimu seperti Ais " kata Abi..


" Kan ada pembantu mas !" kata Nadia.


" Di sini tidak ada pembantu, atau asisten, semua derajatnya sama !" jawab Abi.


" Ayah !" bentak Zha saat melihat Nadia,ada di rumah.


" Kakak !" panggil Abi.


" Kok sudah pulang Bi ,?" tanya bu Dwi.


" Nadia ingin menginap beberapa hari di sini !" kata Abi membuat bu Dwi melotot.


" Buk !" kata Nadia meraih tangan bu Dwi tapi di tepisnya.


Abi diam seribu bahasa, dia baru ingat Zha lalu mengikutinya masuk kamar.


" Kakak !" panggil Abi.


Zha, sibuk mengusap air matanya.


" Pandang ayah nak, ayah tidak bisa kau diamkan, biasanya kau selalu ceria !" kata Abi meraih pundak Zha untuk menghadapnya, tapi Zha masih buang muka.


" Lakukan apa yang kau mau, ayah tidak akan melarangnya !" kata Abi.


Zha memeluk Abi menangis sesenggukan.


" Rita, sama Risa cepat benar pulang dek ?" tanya Abi. Ais mengangguk.


" Mereka bukan pengangguran kak !" jawab Ais.


" Pagi ini biar kak Abi antar kalian ke phisikiater !" kata Abi.


Ais mengangguk.

__ADS_1


" Aku ikut mas !" teriak Nadia. Zha diam buang muka.


" Maaf tidak bisa " kata Abi. Abi melajukan mobilnya membelah keramaian, aktifitas pagi hari.


Semua berjalan lancar, Zha belum ada perubahan, karena ke goyahan Abi membawa Nadia tinggal bersama merwka.


Sesampainya di rumah, Ais melihat Ayu begitu ke lelahan


" Kayak habis ngejar maling saja mbak Ayu ?" tanya Ais.


" Biasa, orang numpang tapi tidak mikir " jawab Menik.


Ais lalu memandang Nadia


" Dek kak Abi ke resto dulu ya ?" kata Abi.


Ais mengangguk, lalu mencium tangab Abi mengecup pucuk kepala Ais.


Nadoa akan ikut tapi di larang Abi.


" Mas punya kamu, juga punya aku !" kata Nadia.


" Punya Ais, bukan punyaku !" kata Abi.


" Masih pagi tapi sudah ada yang dua kali di tolak !" kata Ais.


" Iya mbak Ais, pokoknya tidak ada yang geser posisi tuan ratu !" kata Ayu.


" Mbak Ayu ambilkan aku air minum !" perintah Nadia.


Ayu akan berdiri tapi di tarik oleh Ais.


" Tapi aku juga punya pembantu " kata Nadia Ais menggeleng.


" Tapi yang tidak kau punya hanya otak, yang ber pri kemanusiaan " kata Ais.


" Mbak seharusnya mbak itu terima, jika mas Abi menikahimu, aku yakin aku bisa jadi madu yang baik buat mbak "


" Raja saja punya istri lebih dari satu tidak masalah " kata Nadia.


" Tidak tidak masalah, tapi ratu hanya satu, yang lainya hanya selir "


" Kau tahu selir, selir itu hanyalah sebuah cadangan, jadi jangan harap kau bisa memakai dayang - dayangku, jika kak Abi sanggup maka mintaklah sama dia " kata Ais.


" Dasar wanita serakah !" Bentak Nadia.


" Dengan mengizinkan Kau tinggal di sini aku jadi tahu sifat aslimu ustadzah Nadia, tidak ada alasan lagi aku curiga pada kak Abi !" kata Ais.


Nadia berdiri menuju dapur.


" Kau salah lawan ustadzah !" kata Ayu saat berpapasan dengan Nadia.


" Sudah pulang sayang ?" tanya bu Dwi pada Ais lalu mencium keningnya.


" Sudah buk, ibuk kok sudah pulang ?" tanya Ais.


" Kwatir sama kamu, nih makanan ke sukaanmu !" kata bu Dwi.


Melihat ke akraban bu Dwi dan Ais Nadia cemburu.

__ADS_1


" Bibik, Zha !" panggil Arif yang baru datang.


" Makluk beringsik itu datang lagi !" kata Ais.


" Kangen sama omelan bibinya mbak !" kata Ayu.


Ternyata di belakangnya ada Abi, karena hari yang sudah sore.


" Kok sudah pulang lagi ?" tanya Ais.


" Tidak usah di pikirin ! yang penting uangnya banyak !" kata Arief sambil melempar amplop coklat yang tebal.


" Tumben uangnya kes ?" tanya Ais.


" Aku tahu, sekayanya bibi, dan om Abi pasti belum pernah pegang uang segitu banyaknya, makanya Arif, juga ingin, jadi Arif cairkan semua, penggasilan tiga bulan ini " kata Arif.


" Hebat juga kau mengelolanya, dalam jangka tiga bulan dapat penghasulan segitu banyaknya " kata Ais.


" Arief gitu loh !" kata Arief.


Arief langsung gabung du meja makan.


" Dasar istri lumpuh, bibi merekrut pembantu baru lagi ya ?" tanya Arief memandang Nadia.


" Dia istri muda om Abi " jawab Ais.


" Ha ha ha, tidak usah ngeprank bi !" kata Arief.


" Ya saya istrinya !" kata Nadia.


Arief mengeratkan tanganya, mendengar istri Abi.


" Keparat . . !" kata Arief seketika berdiri memegang kerah leher Abi.


" Apa kurangnya bibiku, dia lumpuh karena mu, kini kau tega hianatinya !" kata Arief.


" Awalnya aku tidak percaya dengan rumor yang beredar, dan menampik kabar burung, kalau om, nikah lagi, ternyata ini nyata !" kata Arief.


" Rif dengarkan penjelasan om mu !" kata Ais.


" Sudah cukup om, kenapa bibi tidak tegas dengan pria brengsek mempermainkan bibi !" bentak Arif.


" Zha, Intan, Ega !" panggil Arif.


Swmu5a tiga anak itu keluar dari kamar.


" Ada apa mas ?" kata Zha, yang sekarang matanya menghitam karena sering menangis.


Arif menariknya dan memeluknya.


" Bereskan pakaian kalian, kita pergi dari sini, keluarga kalian sudah tidak sehat !" kata Arif.


" Tapi mas " kata Intan.


" Ayo dek !" ajak Zha.


" Pergi dari rumah, bukan menyelesaikan masalah, masalah harus di hadapi bikan di hindari, seperti halnya di saat kita perang, jika kita menghindar maka semakin banyak musuh yang mengejar kita !" kata Intan. kata - kata Intan menghentikan langkah Zha


" Intan bertahan, bukan berarti Intan bagagia melihat mama menderita, tapi Intan yakin kalau kak Zha bisa membantu mama !"

__ADS_1


__ADS_2