
" Jemput anak - anak " jawab Leon.
" Kan ada Ira " kata Zha. Leon tanpa menanggapi langsung keluar, dan mengeluarkan mobil dari garansi.
" Masuk dulu, sudah magrib, tunggu saja di dalam, sekalian kita sholat berjamaah " ajak Abi.
" Tidak usah di sini saja " jawab Ira.
" Ya kamu aman, anak kecil yang harus di waspadai, karena saat magrib, makluk halus pada keluar, dan mencari pikiran manusia yang masih labil " kata Abi.
" Kalian sudah bisa wudlu belum, kalau belum bisa, sana ikut kak Zha sama kak Intan " suruh Abi pada putra Leon. Ahirnya Ira mau menuruti dan mau masuk, sholat berjamaah bersama.
Ais bersalaman dengan Abi, dan ke tiga putrinya, Ira akan ikut menyalami Abi tapi di tepis Ais.
" Dia suamiku, kalau ingin cium tangan sama suamimu " kata Ais, Abi hanya tersenyum.
" Bi, aku ada perlu denganmu !" kata Ira.
"Kau akan lebih malu, kalau aku yang membimbing taubatmu, karena harus memandikanmu " kata Abi memberi penjelasan, tapi mobil Leon sudah berkali - kali memencet klaksonya.
" Aunt ayah sudah datang " kata Arka. Mereka keluar di iringi Abi dan Ais, dengan aksi jailnya Ira, dia menyalami tangan Abi lalu menciumnya, dan di pukul oleh Ais.
" Dasar planton " kata Ais.
" Kamu kanebo kering ha ha ha !" tawa Ira melihat wajah Ais yang menahan emosi karna cemburu, Abi segera memeluknya. Ira wanita dingin tapi bisa bercanda lepas dengan Ais.
" Seram tapi usil juga " kata Abi.
" Dia perempuan incaran gus Rayyen " kata Ais.
" Cantik seperti bukan orang asli tanah air " kata Abi.
" Tionghoa, Padang " kata Ais.
" Pantesan " kata Abi.
...****************...
Abi sudah mulai mengajar di pesantren tempat abah Sukron di temani Ahmad, ternyata bukan hanya Almaira, yang mengagumi ke tampanan Abi, tapi ada Nadia adik dari Ratna, istri Suseno aji, dan juga sepupu dengan Almaira.
__ADS_1
" Ternyata benar yang di gunjingkan, walaupun sudah punya anak lima, tapi tidak mengurangi ke tampananya " kata Nadia pada Ratna kakaknya.
Ahmad juga tampan, tapi cara merawat suami pintar Ais, sehingga, Abi lebih unggul.
" Dia suami orang Nadia !" kata pak Abdullah, abahnya Ratna. Ratna mempunyai saudara tiga, empat denganya. dua laki - laki dan dua perempuan.
" Apa salahnya sih bah, Nadia rela jadi yang ke dua !" kata Nadia.
" Jangan turuti egomu Nadia !" peringatan dari abahnya.
" Apa sih abah " jawab Nadia cuek.
" Nadia, kau perempuan berpendidikan, yang sopan kalau berbicara pada orang tua !" kata abah.
" Bah, mas Abi, berpendidikan juga, pantas kalau sama Nadia, toh istrinya juga pelakor " kata Ratna.
" Ya allah dosa apa abah hingga, mempunyai putri seperti kalian " kata abah.
" Bah, Ais itu preman dan dia berusaha, mengambil mas Seno " kata Ratna.
" Bukan Ais yang mengambil tapi suamimu, yang masih berharap, karena kelurga Seno, yang cerita, makanya, kau harus bisa mengambil hati suamimu " kata abah lalu pergi. Ratna semakin sebel.
Sedang Almira, kini sudah mulai sadar, setelah di beri pengertian oleh Aisyah, bagai mana Ais yang sesungguhnya, dan siapa Ais.
" Tapi mbak harap kau akan sadar dek !" kata Aisyah menepuk pundak Almira adik bungsunya. Almira mengangguk.
" Mbak juga dengar, kalau kau baru saja berantem, karena memperjuangkan Abi dengan Nadia !" kata Aisyah.
" Apa mas Ahmad ngadu ?" tanya Almira.
" Dia tidak mengadu, hanya shering, itulah gunanya seorang istri, tempat keluh kesah suami, jangan sampai kau menikah dengan Abi kau yang menderita, karena anaknya semuanya cerdas, mereka tidak akan rela ayahnya menyakiti ibunya !" kata Aisyah.
" Jelek, duda tidak masalah, yang penting berilmu, dan juga paham ilmu, dan single " kata Aisyah.
" Insya allah kak, kebetulan ada yang mau ta aruf dengan Almira " kata Almira.
" Alhamdulilah, jangan terlalu lama " kata Aisyah.
" Dia pria sederhana, dan tidak setampan, dan se kaya mas Abi " kata Almira.
__ADS_1
" Lebih baik kita mulai dari nol, walaupun kau sama Abi, itu harta anak dari Ais, Abi dulu juga sederhana, karena, dengan ke cerewetan Ais, dia terlihat tampan !" kata Aisyah.
" Tapi mas Ahmad kenapa mbak rawat ?" tanya Almira.
" Mbak tidak bisa Al, makanya mbak kagum pada Ais, dia memang preman, tapi bukan preman biasa, kapan - kapan, kita main ya ke tokonya, ?mungkin kau akan kagum, dia rela mati asal, semua orang bahagia !" cerita Aisyah.
" Segitunya mbak ?" tanya Almira, Aisyah mengangguk.
" Kita putri seorang kiayi besar saja, belum tentu seperti dia, Nadia yang lulusan Kairo juga, belum tentu sehebat dirinya. setelah mbak melakukan itu padanya, mbak merasa minder, malu, ternyata bak hanya orang kerdil " kata Aisyah.
" Ratusan anak ia beri makan, ratusan anak, di olah otaknya untuk masa depan, ratusan anak ia sekolahkan, agar memajukan negri ini " kata Aisyah.
" Apa dia guru ?" tanya Almira. Aisyah menggeleng.
" Dia malaikat tidak bersayap, dan kau dek, jika menikahi Abi, kau jadi wanita merugi, karena rivalmu, bukan manusia biasa, yang bisa melahirkan putri - putri luae biasa " kata Aisyah, yang masih memuji Ais.
Almira menyimaknya.
...****************...
Abi yang baru pulang dari pesantren, Ais menyiapkan segala kebutuhan Ais dariperlengkapan mandi dan sebagainya..
Abi menceritakan Almira, dan Nadia yang bertengkar karena memperebutkanya sambil tertawa. tiga hari yang lalu.
" wah senangnya yang di rebutin cewek lulusan luar negri !" kata Ais.
" Bukan begitu dek, lucu saja, masih ada di dunia modern, lulusan tinggi, memperebutkan pria ber istri !" kata Abi
" Sekolah hanya titel, tapi otak dangkal. agamis, dan hijab panjang hanya buat kedok, jadi Ais mohon kak Abi berhentilah mengajar, sebelum semuanua terjadi " kata Ais.
" Kenapa kau cemburu ya, ? percayalah, kak Abi hanya untukmu dek !" kata Abi.
" Ais percaya kak, Ais tidak cemburu, hanya perasaan Ais, beda, seperti firasat jelek " kata Ais.
" Mungkin kau terlalu cinta pada kak Abi, jadi selalu ke fikiran !" kata Abi. Ais menggelengkan kepala heran.
" Mereka, menginginkan kak Abi, karena anak kak Abi yang cerdas, padahal, itu semua berkat dirimu " kata Abi.
" Ya sudah kalau tidak mau dengarin Ais, semoga ini hanya firasat saja, tidak terjadi sesuatu pada kak Abi !" kata Ais.
__ADS_1
" Mingkin di mulut ini sudah tidak ada cinta, tapi dalam jiwa, dan diri ini mengungkapkan rasa cinta dan kagumku pada istriku, yang menerimaku dari nol, yang memberiku, seorang anak yang luar biasa " bisik Abi di telinga Ais memeluk erat Ais dari belakang.
" Di saat pelukan itu tidak hangat lagi tapi panas seperti kawah gunung berapi, kau siramilah, dengan air yang meredakan karena jika kau sirami dengan es, maka kulkas di seluruh dunia tidak akan sanggup, ( Jika salah maka ingatkanlah, jangan di diamkan )" itu yang di maksud Abi. Ais mengangguk.