
" Ais tidak mau ada korban Ais, Ais yang lain !" kata Abi.
Nadia menangis tergugu.
" Saya tidak butuh uang, saya hanya butuh mas Abi tidak ada seorang pria yang mau menerima, wanita kotor seperti ku " kata Nadia.
" Jodoh sudah di gariskan, aku menyayangi ibu, aku tidak mau secepatnya di tinggalkan ibu dan istri tercintaku, karena, mempertahankan wanita yang sama sekali tidak aku cintai " kata Abi. Nadia masih tergugu.
" Sungguh mulia istrimu nak " kata abah pada Abi.
" Tapi aku tanya, sesuatu pada anda ustadzah Nadia ?" kata Abi. Nadia mengangyuk.
" Di mana kau kuburkan anak ku ?" tanya Abi.
Nadia dan umi Kulsum membulatkan matanya.
" A a anak kita !" Nadia terbata.
" Di mana ?" bentak Abi.
" Di selipkan bawah pohon pisang !" kata Nadia.
" Astagfirullah kau sungguh ibu yang kejam Nadia " kata abah.
" Ayah, tante Ayu kirim pesan nenek drop lagi !" kata Zha.
" Zha dan mas Arif pulang dulu ya, di antar pak de Arman? ayah akan memakamkan adikmu secara layak, bersama, pak de Jay, om Roy dan om Farhan !" kata Abi.
" Bagai manapun dia adikmu, jika kita merawatnya dengan baik insya allah akan berdampak baik juga !" kata Abi. Zha mengangguk.
" Ayahmu dan mamamu banyak uang, tapi ponselmu murahan ya, apa orang tuamu pelit padamu !" hina umi Kulsum pada Zha.
" Mamaku, menyayangiku, bukan di ukur dari benda dan nominalnya, tapi dengan cara mendidik ku, agar jadi anak yang berguna, untuk apa ponsel mahal, kalau ahlak tidak di ajarkan !" kata Zha.
" Zha !" panggil Abi, karena kata Zha begitu menohok umi.
" Benar kata anak mu !" kata abah.
" Zha pmit ayah !" kata Zha.
" Bilang sama mama, tidak usah kuatir !" kata Abi.
Zha mengangguk, lalu Zha dan Arif berpamitan.
Sedang Abi dan semua, menemukan kantong kresek, di balik pohon pisang, dan benar, itu janin Nadia sebulan yang lalu. Abi hanya geleng kepala.
__ADS_1
Walaupun sudah tidak berbentuk, tapi masih terlihat.
" Biar janin itu suci, kita mandikan Abi !" ajak abah, Abi mengangguk.
" Akan saya makamkan di dekat putra kami !" kata Abi.
" Apa ?" tanya abah penasaran.
" Ya Ais pernah ke guguran, di umur kandunganya, yang menginjak lima bulan, jadi sudah terlihat jenis kelaminya !" kata Abi.
Abah mengangguk.
Semua mengantar Abi ke pemakaman.
...****************...
" Ibu Ais di sini, ibu jangan sakit ya !" kata Ais pada bu Dwi.
" Ayu sudah kirim pesan pada Zha !" kata Ayu.
" Ayu, kenapa kau kirim, pesan pada Zha, kak Abi sedang sibuk di sana , jangan sampai dia ke pikiran !" kata Ais.
" Maaf mbak ku kira !" kata Ayu.
" Yu, lain kali bilang dulu ya, Ais tidak mau, urusanya suaminya terganggu karena sakit ibu, maksudnya biar cepat selesai " kata bu Dwi.
Zha pulang lalu di sambut pelukan Ais.
" Mana ayah nak ?" tanya Ais.
" Masih memakamkan anak tante Nadia " kata Zha
" Itu adik kamu !" Ais mencubit hidung putrinya. Zha tersenyum.
" Nanek, urusan sudah selesai, di rumah ini hanya ada satu ratu yaitu mama, jadi nenek tidak boleh sakit lagi, mama dan ayah hanya milik kita, tidak akan ada wanita lain yang mendaftar jadi ratu di rumah kita " kata Zha bijak, bu Dwi memeluknya.
" Nenek bangga, Ais telah melahirkan putri yang berprinsip sepertimu !" kata bu Dwi.
" Nenek " kata Zha memeluk bu Dwi.
" Zha tidur dulu nak, besok sekolah " kata Ais.
" Jika pikiranmu tenang, mama tidak mau lagi melihat nilai mu menurun, dan bolos lagi !" kata Ais. Zha mengangguk.
" Baik mama !" kata Zha sambil mengacungkan jempolnya.
__ADS_1
Ais tertidur, di sofa, sambil menunggu Abi pulang, dan bu Dwi, di kasur, depan tivi di temani Ayu dan Menik.
Setelah dari pemakaman, jam menunjukan jam tiga pagi, Abi dan rombongan pulang, dan di liharnya Ais tertidur di sofa tanpa selimut, sedang Ayu di dekat bu Dwi.
Abi pulang melihat istrinya tidur di sofa, tapi semuanya memilih mandi dulu.
Saat Abi selesai mandi, Abi mengangkat tubuh Ais akan ia bawa ke kamar, tapi baru saja di angkat.
Jay dan Farhan keluar bersamaan.
" Farhan, kau normalkan ?" tanya Abi.
" Akulah sang pelakor !" Farhan berjalan ke mayu.
" Ha ha ha !" tawa semua, bu Dwi sampai terbangun mendengar tawanya.
Ibu Dwi ikut tertawa, hingga Abi pun sampai tidak kuat, menggendong Ais dan duduk sambil menopangnya.
Setiap orang pasti tertawa, melihat peampilan Farhan, Farhan memakai daster istrinya selutut dengan lengan pendek berlenggak lenggok menirukan gaya Ayu.
" Jangan tertawa terus, lihat istrimu terbangun Abi !" kata Farhan menunjuk Ais.
" Kenapa kau pakai pakain seperti itu Farhan ?" tanya Abi.
" Baju saya tidak ada di sini, yang ku lihat adanya baju ini !" kata Farhan.
" Farhan kau cantik sekali ?" kata Ais yang terbangun
" Ha ha ha !" tawa semua lagi.
" Jika kau perempuan Ayu pasti tidak laku, karena cantikan kamu " kata Ais.
" Ha ha ha ha !" tawa semua lagi.
Semua tertawa sampai keluar air mata, setelah semua tenang, Abi yang tadinya ingin berbicara menunda esok hari, tapi sekarang semua sudah bangun, tinggal anak - anak yang masih tidur.
Abi mengutarakan ke inginan abah Sukron. dan Ais meng iyakan.
" Mbak Ais, tapi gus Azzam sudah sangat keterlaluan !" kata Ayu.
" Bagai manapun juga, beliau pernah jadi gurunya kak Abi, mungkin ilmunya masih banyak yang di pakai kak Abi, dan dengan kita memenjaraka nya insya allah itu bisa buat pelajaran untuknya " kata Ais.
Abi mencium kening istrinya merasa bangga, dengan keputusan istrinya.
" Besok kita ke sana ya?" tanya Abi. Ais mengangguk setuju.
__ADS_1
" Kalau gitu telepon abah Ridho sekarang Abi " kata Farhan. Abi mengambil ponselnya.
Dan betapa bahagianya