
" Makan dulu, biar tidak emosi !" kata Ais lalu, Seno duduk lagi, sedang semua orang yang ada di situ hanya menatap heran. Ratna menangis sesenggukan di dekat mereka makan.
" Hai kau pelakor, !" bentak Ratna pada Ais, saat akan mengambil minuman yang telah di siapkan oleh Seno.
" Cukup bilang aku pelakor, lihatlah adikmu, dia lebih rendah dari pada pelakor, dan pelacur, dia mau di tiduri pria dengan geratis, hingga menggunakan obat perangsang, yang membahayakan nyawa sang pria " kata Ais lantang. Nadia mendekat akan mendaratkan tamparanya, tapi Ais tidak lemah, lalu memelintir tangan Nadia dan mendorongnya.
" Kenapa, kamu marah, karena merasa terhina, bukankah, itu semua benar, hingga suamiku kritis " kata Ais.
" Jika Abi menikahimu, maka aku akan menikahi Ais !" kata Seno
Seno mendorong kursi roda Ais, Ratna terus berteriak, tapi tak di hiraukan.
" Ternyata adiknya pelakor, dan dokter itu suaminya mbak yang hamil dan mantanya, perempuan yang cacat, yang di pelakori tadi " kata seorang, yang ikut nimbrung di situ.
" Mana dokter lagi dia, tampan ," kata yang lain.
" Mungkin suaminya lebih tampan " bisik yang lain.
" Diam !!" teriak Ratna.
" Makanya mbak, jaga adiknya, berhijab tapi murahan !" kata srorang itu ikut bergosip.
" Itulan hukum tabur tuai " kata yang lain. Ais melewati lobi rumah sakit, hingga sampailah, di dekat brankar Abi. Abi telah melewati masa kritisnya. Seno seger memeriksana setelah tadi mendapat laporan dari suster kalau Abi sudah siuman.
" Dek " panggil Abi dengan air mata bercucuran, Ais meraih tangan Abi lalu menciuminya.
" Kak Abi penzina dek !" kata Abi. Ais menaruh jari telunjuknya di bibir Abi.
" Pulihkan dulu kondisi kak Abi ya, kita bahas lagi nanti " kata Ais dengan senyum.
" Seharusnua, aku dengerin kamu dn Zha " kata Abi. Ais mengulanginga lagi menaruh jari telunjuknya di bibir Abi.
" Ais mencintai kak Abi " kata Ais. Abi menangis.
Tiga hari sudah Abi di rumah sakit, dan kini dia di perbolehkan pulang, ke adaan Abi semakin memprihatinkan, keluarga Nadia tidak berani menemui, karena dapat ancaman dari Roy, kalau akan melaporkan Nadia ke polisi. Abi di rumahpun adanya hanya dzikir. Memohon ampun pada allah, menangis tiada henti.
" Dek kak Abi pamit jaga anak - anak dan Ayu bantu Ais " kata Abi.
__ADS_1
" Kak Abi, mau ke mana ?" tanya Ais.
" Taubatan nasuha, memohon petunjuk, apa yang kak Abi ambil langkah srlanjutnya tidak salah. ke pesantren abah Abi, setiap memandang wajahmu, kak Abi terasa sakit, kak Abi banyak dosa " kata Abi. Abi terus sesenggukan. Ais mendengarnya hanya bisa pasrah.
Abi pamit pada semia anaknya.
" Anak ayah sudah besar, dan mama mendidikmu dengan sempurna, ayah percaya, kau bisa jaga mama dan adik - adikmu, kau adalah tameng bagi keluarga kami Zha !" kata Abi lalu memeluk Zha putei sulungnya.
" Ayah " tangis ke tiga putrinua memeluk Abi. Tapi tidak menggagalkan niat Abi. ..
...****************...
Sebulan sudah Abi di sana.
" Bi, ini ada rezeki sedikit " kata Ahmad sambil menyerahkan rantang. Saat Abi selesai membersihkan masjid.
" Alhamdulilah gus saya sedang puasa !" kata Abi.
" Maaf Abi saya tidak tahu " kata Ahmad.
" Ya tidak apa - apa " kata Abi. Setelah ngobtol ringan, Ahmad membawa rantangnya pulang lagi ke rumah.
" Ya, Rayyen lupa kalau masAbi puasa, sejak dia sampai di sini, kalau buka lauknya hanya telur di rebus, di kasih garam !" kata Rayyen. Ahmad menggelengkan kepalanya
" Kenapa kau tidak bilang dek ?" tanya Ahmad.
" Lupa " jawab Rayyen.
" Kasihan sekali anak itu, di sisi lain, dia berat dengan anaknya, tapi dia juga tidak mau dosanya menghantuinya " kata umi Latif.
" Ya kukira Nadia berpendidikan, dan tahu hukum alam, tapi ternyata kita salah Nadia menghalalkan segala cara untuk ia capai, hingga, Abi kritis " Sambung Aisyah.
" Mas Abi juga hanya makan nasi putih dan telur rebus !" kata Rayyen.
Malamnya, Ahmad menyambangi masjid pesantren, dan membawakan rantang lagi, dengan berlaukan telur dadar, dan sayur asem, sedikitpun Abi tidak menoel telur dadar, tapi terus menangis sambil makan, mengingat pengorbanan Ais.
" Hai, jika kau rindu pulanglah, dan ini makanlah !" kata Ahmad menepuk pundak Abi.
__ADS_1
" Jauhkan telur itu dari ku !" kata Abi.
" Kenapa ?" tanya Ahmad.
" Dia yang membuat air mataku terus mengalir " kata Abi, Ahmad terheran.
" Tidak ada telur dadar yang enak selain buatan istriku, itu janjiku dulu saat hidup kami masih blangsat, tapi kini aku menghianatinya, dengan berbagi tubuh dengan wanita lain " tangis Abi pecah lagi. Rayyen dan Ahmad pun hanya bisa menyimak.
" Uang sabar " kata Ahmad.
Empat puluh hari sudah, Ais tiba - tiba datang menjemput dengan membawa bekal. Dengan di dorong oleh Ayu.
" Kak Abi !" panggil Ais pada Abi yang masih membersihkan masjid.
Abi bukanya menyambut Ais tapi malah menangis. Ais membuka bekalnya di depan Ahmad, Ikbal dan Rayyen.
" Makan lah, setelah itu Ais ingin berbicara " kaya Ais. abi mengangguk, Abi membuka puasanya. Abi mengupas telur rebusnya yang ia makan setiap buka puasa, Ais menggigitnya
" Kok di makan, nanti adek muntah " kata Abi.
" Apa kak Abi jijik sekarang pada Ais ?" tanya Ais. abi menggeleng, tapi dia memakan telur rebus bekas gigitan Ais dengan meneteskan air mata lagi
" Kak kita pulang ya ?" tanya Ais setelah Abi selesai makan. Abi menggeleng.
" Kak Abi suami dan ayah yang dzolim, pada kalian !" kata Abi.
" Lebih dzolim kalau kak Abi lama di sini, anak - anak butuh kak Abi, Ais lumpuh, Ais tidak bisa melindungi mereka " kata Ais.
" Kemarin Zha, di kejar, tiga orang preman, untung teman jalananya ada yang lihat, dan mengerahkan pasukanya, dan Intan sekarang sedang sakit, dan selalu ayah yang ia panggil " cerita Ais. Abi meneteskan air mata lagi.
" Ya kak Abi pulang " kata Abi, Ais memeluk Abi. Abi menyambutnya, dan menciuminya.
" Apa rencanamu nak Ais ?" tanya umi Latif saat Abi sedang berpamitan pada abah.
" Ais akan bawa kak Abi ke phisikoater, agar mentalnya kembali semula umi !" kata Ais.
" Kau istri yang cerdas, pantas Abi tidak bisa berpaling darimu. Setelah berpamitan mereka pulang.
__ADS_1
" Ayah !" sambut ke tiga putrinya