
" Pasti sedikit lagi !" kata Ais.
" Kalau sudah tahu ayo kita lakukan !" teriak Abi lalu melakukan penyerangan.
Setelah sama polos Abi yang nafsunya besar, dan sudah di ubun ubun, segera menancapkan rudalnya pada lubang yang selalu menampung lendir hangatnya hingga menciptakan anak manusia yang sempurna.
Ais dalam ke adaan nongkrong malu di lihat Abi dengan tubuh polosnya.
Tok
Tok
Tok
Pintu kamar di ketuk.
" Abi ada tamu " kata Reina di depan pintu.
Abi mengacak rambutnya prustasi, karena shahwadnya tidak tertuntaskan.
" Ya mbak sebentar, " kata Abi.
" Baru selesai dzikir !" teriak Ais penuh senyum kemenangan.
Abi memunguti pakaianya, memakainya sambil berlari menuju pintu sambil menggulung sarung bagian pinggangnya.
" Jadi pak ustad, sekarang kalau dzikir lepas baju " ejek Reina.
" Itu tahu mbak, kenapa ganggu ?" kata Abi.
" Ada tamu, lagian ini masih sore !" kata Reina
" Yang dzikir burungnya mbak !" teriak Ais dari dalam.
" Bener tuh Ais !" kata Reina.
" Sudah buruan di cariin gus Ahmad, sama istrinya " kata Reina.
" Tumben " kata Abi.
" Emang dirimu saja yang bisa romantis, di belakangnya kayak anjing dan kucing? " kata Reina.
" Iya mbak " kata Abi.
" Kak Abi jangan keluar dulu, ambilkan pakaianku " kata Ais.
" Ada mbak Reina " kata Abi lalu berlalu pergi.
Kepala Abi nongol lagi, di pinggir pintu.
__ADS_1
" Bajunya pakai nanti anak - anak heboh kalau datang, pasti yang di salahkan ayahnya lagi, kalau mamanya tidak pakai baju " kata Abi.
" Memang ayahnya, " kata Ais sambilmelempar bantal pada Abi, Abi tersenyum lalu pergi.
" Tuh orangnya " kata Arman yang menunjuk Abi menuju ke arah mereka.
" Kemana saja Bi, kok lama !?" tanya Arman.
" Dzikir " jawab Reina, dari belakang.
" Ha ha ha, dzikir kok rambutnya acak - acakan !" tawa Arman. Abi lalu mengecek rambutnya.
" Dzikirnya Abikan sambil goyang pinggul, bukan tasbih lagi hitunganya, tapi lato - lato !" lirik Reina.
" Ha ha ha !" tawa semua
" Pantesan tuh leher, tidak pernah bersih !" tunjuk Arman.
" Eh mas belum jadi dan Ais tidak pernah buat cap sembarangan, dia kalau buat cap di tempat terrutup, ini cap harimau ngamuk kemarin !" kata Abi.
" Ha ha ha jadi kamu nanggung, kasihan sekali adikku !" kata Arman.
" Sudah - sudah, nanti Abi nangis " kata Reina.
" Tumben, ustadzah Aisyah ikut !?" sapa Abi.
" Kau tahu gus, seumur - umur Abi tidak pernah berantem, dia paling takut sakit, tapi saat Ais di dekati pria lain, tanpa pikir panjang langsung gibeng " kata Arman, mempraktekan tinjuanya.
" Jangankan sama orang lain, kakaknya sendiripun di cembirui " kata Arman.
" Berarti kau sama Ais sama " kata Ahmad.
" Lebih parah Abi sebenarnya, Ais parah itu semenjak kehilangan anaknya itu, walau di ganti ini, namun di uji dengan lumpuh, jadi dia merasa jadi istri tidak berguna, dulunya tidak, dia selalu berpikir positif, dan menghadapi pelakor secara elegan " cerita Reina.
" Sudah mbak jangan ceritakan aib adikmu ini !" kata Abi.
" Dan yang paling buruk dari nya, dia tidak pernah main tangan, tapi dia keras dalam berhubungan, kadang Ais yang fisiknya kuat, bisa pingsan, jika dia sedang marah, ataupun cemburu " kata Arman.
" Jangan ceritakan itu mas !" kata Abi.
" Biar keluarga ustadzah Aisyah tahu, sifat asli sebenarnya adikku, dia keras, jorok, coba saja kalau tanpa Ais, pasti tubuhnya itu tidak terurus, hanya isteinya saja yang sabar menghadapinya, tapi aku salut dengan Ais dia bisa mengimbangi suaminya, yang di atas rata - rata !" kata Arman.
" Kadang kita hanya bisa melihat, wajah seseorang, tanpa tahu isi hatinya, dan tidak tahu, siapa yang menjadikanya malaikat, tapi dia ingin malaikatnya, saat dia tahu, kalau dia malaikat, terbongkarlah srorang iblis, tanpa ada tameng yang selalu membuatnya menjadi malailat " jelas Arman.
Aisyah tersentil hatinya, dia tahu kalau yang di singgung Arman adalah keluarganya.
" Kadang yang lkita lihat sempurna, dia lah yang suka menyempurnakan dirinya, bebeda, dengan yang rendah, dia terlihat rendah karena dia srlalu merendah, padahal dia yang sempurna " jelas Reina.
Ahmad mengutarakan keinginanya, bahwa Aisyah, ingin bertemu Ais.
__ADS_1
" Abi panggil istrimu !" kata Arman.
Abi beranjak dari duduknya lalu menyusul Ais di kamar sudah tidur memeluk ke dua putranya.
" Dek bangun !" Abi membangunkan Ais.
" Ais lagi mengisi daya kak, nanti kalau kak Abi mau cas, jadi Ais semangat !" kata Ais. Abi geleng kepala.
" Gus Ahmad, dan ustadzah Aisyah mencarimu " kata Abi.
" Gus Ahmad, akan jadikan istri ke dua ya ?" kata Ais bangkit.
" Tidak akan !" kata Abi.
" Bercanda, gitu saja cemburu !" canda Ais sambil memeluk perut Abi.
Ais bangkit dan menyambar hijabya, dengan memakai daster andalanya, yang paling di sukai Abi menuju ke ruang tamu menemui Ahmad dan Aisyah.
" Menemui tamu besar, tapi pakai daster Ais " kata Reina.
" Jangan lihat bajunya, tapi lihat isinya " kata Ais. Abi melotot.
" Iya kak Abi hanya milik kak Abi !" kata Ais sambil mendorong pipi Abi.
" Lebi baik begini, cantik di mata suami, jelek di mata pria lain, tidak seperti kak Abi yang tebar pesona " kata Ais.
" Siapa yang bikin kak Abi, begini dek, kau selalu membuat kak Abi rapih, dari baju, celana, dan sebagainya adalah kamu yang siapkan !?" kata Abi.
" Begini saja, kalau gitu, jadi tidak ada yang melirik, jangankan tikus, manusiapun malas !" kata Ais sambil mengacak rambut Abi.
" Jadi adek gak nafsu lagi kalau kak Abi seperti ini !?" tanya Abi. Ais geleng kepala.
" Dasar awas nanti kamu !" teriak Abi.
" Tumben tidak main srobot, biasanya tidak kenal ampun !" kata Arman. Semua tersenyum.
Aisyah dan Ahmad ikut tersenyum, sampai beberapa menit henong, Aisyah mengutarakan apa dan tujuan apa dia datang menemui Ais.
" A Ais, aku ke sini mau minta maaf, atas perlakuan terutama aku dan yang ke dua ibu dan ke dua adiku " kata Aisyah.
" Tidak apa - apa, aku sudah maafkan, memang benar apa yang kalian bilang, aku wanita cacat mandul, dan seorang preman, ini karma untuku, itu benar !" kata Ais.
" Dan jika aku seperti ini juga jangan seratus persen itu semua salahku, aku seperti ini juga karena melahirkan anak keturunan Abimanyu " jelas Ais
" Maaf !" kata Aisyah menunduk.
" Bolehkan aku bertanya ustadzah !?" tanya Ais. Aisyah mempeesilahkan.
" Apakah anda masih menyimpan rasa pada kak Abi, ustadzah ?" tanya Ais seketika Aisyah mrngangkat kepalanya memandang Ais dengan penuh tanda tanya.
__ADS_1