
" Minta maaf sama mama, nanti anak ayah yang kena tulah, karena ayah menyakiti hati mama, karena anak ayah perempuan semua, pasti bakalan cerewet seperti Aisyah al faqih !" kata Intan sambil berkacak pinggang.
Ais menahan senyum Abi di marahi putrinya.
" Nasib jadi laki - laki, anaknya perempuan semua, takut kena tulah !" gumam Abi.
" Makanya kalau tidak mau jadi ayah, jangan bikin mama hamil !" kata Zha.
" Tambah satu lagi !" gumam Ais.
Abi langsung menarik tangan Ais lari ke taman belakang
" Kalau satu lagi yang datang habis aku di cuci " kata Abi.
" Emang enak kasih bibit perempuan semua !" kata Ais.
Bu Dwi tersenyum melihat tingkah keluarga anaknya.
Abi merayu Ais dengan mdmijiti kaki Ais.
Sedang Zha dan Arief masih ribut mwmperutkan entah apa.
" Intan siapa otu yang datang, cakep - cakep banget " tweiak teman Intan, Intan langsung keluae menyongsong tamu yang datang berjumlah empat orang
" Gus Rayyen, !" teriak Intan. di susul Ega
" Gus Ahmad !" mereka berhambur ke pelukan orang yang di panggil
...****************...
Sebelum berangkat
" Rayyen terus kakak kasi apa, kakak kan tidak punya uang ?" tanya Fatimah. mempeributkan hadiah.
" Kita nanti mampir ke toko sepedah ya ?" tanya Rayyen.
" Apa ?" tanya Fatimah terputus.
" Adikmu ini banyak uang kak !" kata Rayyen sombong.
" Dasar, belum juga kaya, sudah sombong " umpat Fatimah.
Mereka berangkat dan.
" Om gus ?" teriak dua gadis yang merentangkan tanganya ke arah Rayyen dan Ahmad.
__ADS_1
Ega ke arah Ahmad dan Intan ke arah Rayyen dua putri Abi dan Ais.
" Apa kau ingin seperti ini ?" tanya Ahmad sambil menoel hidung Aisyah istrinya menunjukan Ega yang ada dalam gendonganya. Aisyah mengangguk malu.
" Kau sepertinga akrab sekali, apa mas sering main ke sini ?" tanya Aisyah.
" Tidak sih baru bertemu tiga atau lima kali, tapi mereka seperti ibunya cepat akrab !" kata Ahmad.
" Om bawakan es krim buat kalian ? Tuh di bawakan ustadzah Fatimah " kata Rayyen pada Intan dalam gendonganya, tapi Intan malah menunduk.
" Kenapa ?" tanya Rayyen.
" Intan tidak boleh makan dan minum minuman sembarangan sama mama " kata Intan sambil membenarkan kaca matanya.
" Tapi tenang saja, mama selalu bikinin kita es krim yang sehat kok, pakai susu, karena kita jarang mau minum susu, jadi mama oni siatif bikin es krim sendiri " Cerita Intan.
" Nanti om kasih ya ?" tanya Rayyen dan di angguki Intan.
Semua mengucap salam bersamaan, dan yang lebih dulu keluar adalah Ais.
" Aisyah Al faqih !?" kata Ikbal terkejut melihat wanita yang ia cari keluar dengan perut membuncit.
" Kau tega Ais, aku mencarimu !" kata Ikbal.
" Siapa suruh cari aku ?" kata Ais.
" Saya !" kata Abi yang keluar.
" Kau lihat mereka berdua, itu hasil karya kita berdua !" kata Abi sambil menunjuk ke arah dua puterinya yang di pankuan Ahmad dan Rayyen.
" Ada satu lagi di dalam " kata Abi.
Ikbal berjalan melihat pajangan di dinding, dengan foto kebahagiaan keluarga Ais lalu gabung dengan saudaranya duduk di sofa, walaupun jakunya masih naik turun.
" Ayah, mas Arief nakal !" kata Zha yang di kejar kakak sepupunya dan ngumpet di balik pinggul Abi.
" Zha, Arief " kata Abi sambil menunjuk ke arah para ustad dengan bibirnya.
" Oh maaf para gus, ustadzah Fatimah, dan ustadzah Aisyah " kata Arief sambil menangkupkan tanganya ke dada.
Sedang Zha langsung menyalaminya. Intan yang duduk di pangkuan Rayyen langsung beeingsut lari ke kulkas.
" Cari apa sayang ?" tanya bu Dwi pada cucunya.
" Cari es krimnya mama " kata Intan, lalu keluar lagi dengan membawa es krim.
__ADS_1
" Ini om es krimnya mama " kata Intan.
" Anakmu hebat mas Abi !" kata Aisyah setelah berbincang dengan Zha .
" Alhamdulilah ustadzah, itu berkat bimbingan dari mamanya, kalau saya hanya mencari nafkah " kata Abi.
" Udah pintar cantik lagi " puji Fatimah sambil menoel dagu Zha.
" Biasa, anak cetakan pertama, karena bahanya masih banyak, adonanya juga masih full, dan yang ngadon juga masih semangat jadi hasilnya juga tidak mengecewakan " canda Abi.
" Plus anak hasil debat, karena obunya lulusan ips, ayahnya pesanteen, kalsu aku buka buku akidatul ngawam, dia buka Aries toteles " jelas Abi, terdengar gelak tawa lagi.
" Ha ha ha. . !" tawa semua.
" Kalau yang ke dua mas Abi ?" tanya Fatimah.
" Dia anugrah terindah yang ku punya, tanpa di rencana, dia telah hadir, walaupun banyak kekurangan, dengan tapi menurutku itu kelebihan, dengan mata minus, dan kelainan paru - paru, hingga di vonis dokter leo kimia, tapi matanya kini sudah mulai membaik, dan kata dokter sedikit lagi sembuh, dan makananya sepesial, hanya mamanya yang tahu, dan paling penurut, punya jiwa ke ibuan " cerita Abi.
" Apa matanya sejak lahir ?" tanya Aisyah.
" Ketahuanya itu dari dia umur satu setengah tahun, dari lahir juga saya sudah heran, kenapa matanya ke biruan, seperti keturunan dari suku Aceh ku kira mamanya dulu main serong, tapi kata ibu, memang ada dulunya keturunan itu dari keluargaku, tapi menurut dokter tidak pa pa, dan saat umur setahun setengah, dia kalau mencari sesuatu matanya di dekati benar, dan saat itu, Ais sebagai ibunya yang keseharianya bersamanya mengajak ke dokter spesialis mata, ke kota, ternyata benar, mata anak itu ada ke lainan, Alhamdulilah sekarang kalau buka kaca mata sudah bisa melihat, karena mamanya siap siaga, kata dokter, kalau telat sedikit saja, bisa mengalami ke butaan " kata Abi.
Intan yang ada di pangkuan Rayyen bersholawat dengan suara merdu.
" Bagus sekali suara anakmu Abi, seperti suaramu !" puji Ahmad.
" Karena aku yakin anak terlahir, setiap mempunyai kekurangan pasti punya kelebihan " kata Abi.
" Kau hebat mas Abi !" puji Aisyah. " Jangan puji saya, tapi pujilah seorang ibu, yang siap dua puluh empat jam untuknya, dan bisa menjadi bunglon nya anak - anak !" kata Abi.
Ayu datang dari pasar dengan membawa kresek besar bersama suaminya.
"Ayu !" panggil Aisyah.
" Ustadzah Aisyah " balas Ayu yang melihat Aisyah, putri dari Kiayinya waktu di pesantren.
" Ayu masukan dulu belanjaanmu !" kata Ais. " Yu, Farhan biar belanjaan di mobil, para tetangga yang mengambil, sekarang temui dulu temanmu di depan " kata bu Dwi.
" Tapi buk ?" tanya Ayu.
" Tidak ada kata tapi, nanti, Ais bisa marah !" kata bu Dwi.
" Ya buk " jawab Farhan dan Ayu. Ayu keluar dengan membawa jus dalam nampan.
" Yu kamu kok mau sih jadi pembantu di rumah teman sendiri ?" tanya Aisyah.
__ADS_1
" Maaf ustadzah, saya di sini bukan pembantu atau asisten rumah tangga, saya di sini masih teman mas Abi, dan mbak Ais, mereka hanya menyuruhku, meringankan beban mbak Ais, dan mbak Ais bilang kalau saya bukan ART ataupu pembantu. Mereka memperlakukanku seperti dirinya, makan semeja, mbak Ais perawatan akupun perawatn, hanya bedanya saya di beri upah " jawab Ayu.