
[" Tidak mungkin, dia wanita berwibawa, tidak mungkin mau menikah dengan Abi yang notabenya penghasilan tidak menentu seperti kita, kalau dia mau menikah, pasti sama pengusaha, dan satu lagi dia hilang bagai di telan bumi !"] kata B.
Lalu Abi memasang emotikon senyum dan menaruhnya di dalam kantong, setelah mengirim pesan pada Ahmad untik menghapus foto masuk ke group alumni pondok.
Pesan tidak ada hentinya, kalau tidak di tutup oleh Abi.
...****************...
Setelah berunding dengan Arief, perundingan yang lumayan ulet.
" Jangan di buang om, Arif, Arif orang asing di sini " kata Arif.
" Kau tidak di buang, kau yang akan menghandle seluruh resto di sini, nanti apa yang belum tahu, tanya sama bibimu !" kata Abi.
" Arif pikir dulu dan pulang dulu ya om !" kata Arif.
Abi mengangguk " Kalau kamu sudah pintar, om akan kirim lagi, orang untuk menemani kamu, dan kau akan jadi gurunya !" kataAbi.
Arif mengangguk lemas.
" Dek kamu mau kapan lagi, kalau tidak belajar dari sekang ?" tanyaAis.
" Tapi bik ?" kata Arif.
" Belajarlah mandiri, bibi, kasih kamu lowongan, belajar bisnis, buktikan pria pemalas bisa sukses " kata Ais.
" Ya bi !" kata Arif lemas.
pulang dari Bali beberapa penyambutan, bagi para sahabat Ais dan Abi, dramben menggema di bandara saat turun dari pesawat. Zha tersenyum bahagia, media tidak ada hentinya menyorot Zhafira yang di dampingi dua pengawal.
" Apa Intan bisa seperti kakak ?" tanya Intan.
" Pasti bisa, tapi dengan cara intan sendiri, bukan dengan cara kakak !" kata Ais.
" Intan tapi cacat ma, Intan berkaca mata " kata Intan menunduk.
" Itu bukan cacat nak, tapi itu anugrah, tidak anak sekuat Intan, dan tidak banyak anak di beri cobaan seperti Intan !" kata Ais.
" Pandang mata mama, apa mama pernah bersedih punya Intan, apa mama merasa menyesal punya Intan, karena allah telah memberikan anugrah terindah pada mama, bukan kekurangan menurut mama, tapi kelebihan, yang jarang anak punya seperti Intan " puji Ais.
" Terima kasih mama !" kata Intan memeluk Ais dengan bangga.
Sesampainya di rumah
" Yu, Farhan besok jangan ke resto ya, besok belanja buat syukuran kakak !" kata Abi saat sampai rumah.
" Iya mas !" jawab Ayu.
" Kenapa tidak ketring saja pak ?" tanya Menik.
" Sudah lama kita, tidak silaturahmi sama tetangga, dan sekalian bagikan oleh - olehnya besok " kata Abi.
" Baik pak !" kata Menik.
" Mas Abi. . !" panggil wanita yang baru datang dengan kemayu.
Ais yang ada di dekat Abi lalu mencebiknya.
" Tuh yang di sambut pacarnya " kata Ais.
" Istriku cemburu ya ?" tanya Abi sambil menoel hidung Ais.
" Pantang bagi Ais cemburu !" kata Ais lalu pergi. Abi geleng kepala, Ais selalu naik darah kalau bertemu Lula, dan Norma.
" Mas Abi pasti lelah, Lula bikinin coklat hangat ya ?" tanya Lula, janda centil.
" Tidak usah Lul, aku sudah punya asisten " kata Abi.
__ADS_1
" Tidak pa pa aku tidak repot kok mas !" kata Lula.
" Jaga perasaan Ais, bukankah, kau yang menyuruh Ais menjagaku, bukankah kau yang sesama wanota ?" bisik Abi.
" Sudah aku jaga mas, tapi kau juga jaga perasaanku, aku juga ingin seperti Ais melahirkan anakmu, yang pintar seperti Zha, jangan seperti Intan " kata Lula.
" Jaga mulutmu, Intan itu anugrah !" kata Abi
" Dan aku tahu Ais itu pernyakitan !" bentak Lula.
Abi berdiri mau menunjuk Lula.
Prang. . !
gelas yang di pegang Ais pecah.
" Aw. . Yu, tolong Yu, sakiiiiit !" kata Ais memekik mencengkaram perut bagian bawahnya.
" Dek. . !" teriak Abi.
Abi segera membopong Ais yang lumayan berat karena hamil besar menuju kamarnya.
Abi segera mengambilkan obat Ais, membuat Ais memejamkan matanya dan tertidur.
" Dek dek, bangun, air hangatnya sudah kak Abi siapkan di bath up " bisik Abi pada Ais, tapi todak ada respon dari Ais membuat Abi panik.
" Dek bangun dek ?" teriak Abi menggoyngkan pipi Ais.
Abi semakin panik.
" Baaa. . !" teriak Ais.
" Jangan buat kak Abi panik !" kata Abi.
" Tidak usah se dramatis itu, kalau Ais tidak ada masih banyak kok wanita muda yang ngantri !" jawab Ais sambil melenggang pergi ke kamar mandi.
' Sabar Abi, sabar, dia istrimu, lagi lelah ' kata Abi dalam hati.
Ayu menanggapinya dengan tersenyum
...****************...
Ke esokanya, semua sedang sibuk, Intan yang gemar ber sholawat, sambil membereskan mainanya yang dapat dari Bali ke kamarnya bersholawat di depan ibu - ibu yang sibuk menyiapkan bumbu.
Sepohon kayu daunnya rimbun
Lebat bunganya serta buahnya
Walaupun hidup Seribu tahun
Bila tak sembahyang apa gunanya?
Walaupun hidup Seribu tahun
Bila tak sembahyang apa gunanya?
Kami bekerja sehari-hari
Untuk belanja rumah sendiri
Walaupun hidup Seribu tahun
Bila tak sembahyang apa gunanya?
Walaupun hidup Seribu tahun
Bila tak sembahyang apa gunanya?
__ADS_1
Kami sembahyang fardhu sembahyang
Sunah pun ada bukan sembarang
Supaya Allah menjadi sayang
Kami bekerja hatilah riang
Supaya Allah menjadi sayang
Kami bekerja hatilah riang
Kami sembahyang Limalah waktu
Siang dan malam sudahlah tentu
Hidup dikubur yatim piatu
Tinggallah seorang dipukul dipalu
Hidup dikubur yatim piatu
Tinggallah seorang dipukul dipalu
Dipukul dipalu sehari-hari
Barulah ia sedarkan diri
Hidup didunia tiada berarti
Akhirat di sana sangatlah rugi
Hidup didunia tiada berarti
Akhirat di sana sangatlah rugi
Ais memeluknya dari belakang.
" Suaramu Indah, nak !" kata Ais.
Intan membenarkan kaca matanya.
" Mamah, selalu berlebihan " kata Intan. Ais menggeleng
" Kenapa mama, tidak bisa ninggalin ayah, walaupun ayah, nakal nyebelin, suka plin plan tapi dia sudah mempercayakan mama, untuk meng hadirkan anak, sehebat dan sepintar Intan, yang punya hati lembut seperti ayah " kata Ais.
" Kenapa ayah juga betah sama mama, yang cerewet, tukang marah - marah, egois, karena mama sudah melahirkan putri - putri hebat seperti kalian !" kata Abi.
Seketika Ais berdiri berkacak pinggang.
" Tahu gitu, aku tidak akan melahirkan anak kak Abi, ! kalau merasa tertekan ngomong !" kata Ais.
" Ayah. . !" teriak Intan.
" Minta maaf sama mama, nanti anak ayah yang kena tulah, karena ayah menyakiti hati mama, karena anak ayah perempuan semua, pasti bakalan cerewet seperti Aisyah al faqih !" kata Intan sambil berkacak pinggang.
Ais menahan senyum Abi di marahi putrinya.
" Nasib jadi laki - laki, anaknya perempuan semua, takut kena tulah !" gumam Abi.
" Makanya kalau tidak mau jadi ayah, jangan bikin mama hamil !" kata Zha.
" Tambah satu lagi !" gumam Ais.
Abi langsung menarik tangan Ais lari ke taman belakang
" Kalau satu lagi yang datang habis aku di cuci " kata Abi.
__ADS_1
" Emang enak kasih bibit perempuan semua !" kata Ais.
Bu Dwi tersenyum melihat tingkah keluarga anaknya.