ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
adik matre


__ADS_3

" Aku menghampirinya, dengan ke adaan panik, ku pakaikan hodieku, ku bawa dia ke klinik, ku hilangkan gengsiku, aku meraung menangis, sedang tubuhku, telah bersimbah darah " kata Roy, pak Idris menangis, mengingat ke bodohanya.


" Tapi betapa bodohnya aku, tidak membawa dia pergi ke panti asuhan, dengan alasanya, dia takut kalau bapaknya akan cari masalah di sana, mengganggu anak panti dan dia akan tetap bertahan, hanya ingin mendapatkan kasih sayang orang tuanya, seperti ke dua kakak perempuanya "


" Kita berpisah, karena aku harus kuliah, jauh, tapi setahun pertama, aku masih melihatnya, di tahun ke dua juga sama, di tahun ke tiga, aku ingin mengambilnya, aku akan membiayai kuliahnya, tapi semua hanya harapan, aku kehilangan adikku " kata Roy.


" Ya, aku menyayanginya seperti adiku, saat aku bertanya, pada tua bangka ini, Ais sudah mati, tapi aku tidak percaya, aku terus mencari hingga, ke delapan tahun, aku melihatnya, bermain dengan tiga anak kecil, dia tersenyum bahagia, tubuhnya sekarang berisi "


" Aku tidak menyangka, kalau ketiga itu adalah putrinya, aku ragu memanggilnya, ternyata benar dia Aisyah al fakihku, aku memeluknya dan ku tangisi, adiku telah aku temukan, aku janji, aku akan membantunya dalam hal apapun !" kata Roy sambil menitikan air mata.


" Bapak, apa benar yang di katakan, Roy, kau rebut, hasil jerih payah Ais ?" tanya Jay.


Idris mengangguk dengan lemah, Jay mengepalkan tanganya.


" Bodohnya aku, menyiakan, seorang adik, yang jujur padaku, lebih percaya pada orang tua yang zholim !" kata Jay.


" Hingga, aku mengusirnya, hanya karena aduan dari kalian !" kata Jay mengingat sepuluh tahun yang lalu.


" Bang Jay, tidak salah, mungkin itu jalan Ais, mempertemukan Ais pada kak Abi yang mau menerima Ais " kata Ais.


" Lalu untuk apa uang sebanyak itu pak ?" tanya Abi ?" tanya Jay.


" Buat menebus gadaian, sawah, dan membeli bangunan, yang di dirikan rumah Siti, dan Norma, yang sisanya buat makan !" kata pak Idris..


" Bukan buat makan lebih tepatnya, untuk buat berfoya, dengan ke dua putrinya !" jawab Roy, pak Idris mengangguk lagi dengan menangis.


Pak Idris langsung berlari, bersujud di kaki Jay.


" Maafkan bapak Jay, maafkan bapak, bapak sadar, bapak di penuhi dosa pada anak bapak. malah yang bapak banggakan, tidak bisa menghargai bapak, maafkan bapak Jay !" kata pak Idris.


" Aku bukan anak bapak, sampai kapanpun !" teriak Ais histeris.


" Seharusnya bukan aku yang bapak sembah, tapi allah, dan Ais sudah mati rasa, aku rasa akupun sama " kata Jay.


" Abi membimbing Ais dengan hati, mental anak yang seharusnya normal, jadi rusak, aku sering menyalahkan Ais karena menjadi seorang preman, tapi aku salah, jika dia tidak seperti itu, mungkin dia tidak makan " kata Jay, membuat hati pak Idris teriris.

__ADS_1


" Tapi bapak, sudah balik nama sertifikat itu semua, atas nama Ais, karena bapak sadar, bapak banyak salah padanya, dan uang itu hasil bapak menjarah Ais "


" Buk, tolong, ambilkan di tas !" suruh pak Idris pada buk Naya.


Buk Naya segera mengambil, dan menyerahkanya pada pak Idris sertifikat yang di maksud.


Pak Idris merangkak, menuju kursi roda Ais dan menyerahkan sertifikat itu.


" Uangnya, nanti nyusul " kata pak Idris.


" Aku tidak butuh, allah memberikan aku lebih, ibu telah menggantinya, dengan seluruh aset milik Ais, anggap saja uangku, untuk bayar ASI yang telah Ais minum, Ais bersyukur, mempunyai mertua yang menyayangi Ais sepenuh hati, tidak seperti orang tua Ais sendiri " kata Ais.


Luka yang mulai di hapus, kini harus tergores lagi karena Roy mengungkitnya, dan banyak, kenyataan pahit, tentang fitnah, yang di lontarkan pada Jay, membuat jay dulu sempat membenci Ais.


" Nak !" panggil pak Idris.


" Aku bukan anakmu !" bentak Ais.


" Itu pantas untukmu dek, " kata Jay sambil menunjuk sertifikat yang sempat di lempar Ais tadi.


bayi malang, yang tidak di akui keluarga.


" Sehina itukah bang aku !" tangis Ais, lalu di rengkuh Jay.


" Abang menutupinya, agar kau menerima orang tua kita, ternyata abang salah, kau adik kakak !" tangis Jay sambil mendekap Ais.


" Tapi kini abang sadar, kau sudah dewasa, abang harus jujur, walaupun ke jujuran memang pahit !" kata Jay.


" Tolong nak terima ini, agar bapak bisa menebus ke salahan bapak ?" mohon pak Idris, di bawah kaki Ais dan Jay.


" Aku bukan anakmu, jangan sebut aku nak !" teriak Ais.


" Kak Abi !" panggil Ais.


" Ya dek ?" jawab Abi.

__ADS_1


" Ajak Ais ke taman, dan perawatan, dan nanti jemput anak - anak sekalian !" kata Ais.


" Ais ingin merilekan pikiran !" sambung Ais, Abi mengangguk dan meninggalkan pak Idris yang masih sesenggukan.


Sedang di kamar bu Dwi.


" Maafkan mas mu, diat idak berniat mengasarimu, dia hanya kuatir !" kata bu Dwi meyakinkan ke dua putrinya, yang menangis, karena kata kasar Abi pagi tadi.


" Mas Abi tidak pernah sekasar itu buk !" kata Risa.


Sedang di kamar, Ais juga sedang memarahi Abi.


" Kau tahu kalau, aku tidak ingin di benci saudaramu, cukup saudaraku saja yang membenciku jadi mintak maaf lah pada ke dua adikmu, dia pasti sakit hati, pasti mereka memaklumi !" kata Ais.


Abi yang masih duduk di depan Ais dan memegang tangan Ais mengangguk, dan berjalan menuju kamar ibunya.


" Maafkan mas Abi, jangan pulang sekarang ya ?" tanya Abi, tapi Rita dan Risa, hanya diam.


" Mas hanya punya kalian, untuk meyakinkan mbakmu, sekarang kalian tahu kan kenapa mas kuatir saat mbakmu dengan bapaknya ?" kata Abi.


Mereka mengangguk.


" Sebagai permintaah maaf mas, mas mau ajak kalian perawatan, VVIP " kata Abi.


Rita dan Risa langsung sumringah dan memeluk Abi.


" Dasar adik matre !" kata Abi menonyor kepala adiknya sata per satu.


" Kapan Edo dan Ato ke sini ?" tanya Abi.


" Hari ini mas !" kata mereka serempak.


" Ya sudah, yok siap !" kata Abi.


" Ibu tidak ikut ?" tanya Abi.

__ADS_1


" Tidak, nanti kalau ibu ikut, nanti ibu dapat berondong lagi " kata bu Dwi tertawa.


__ADS_2