
" Vino ini makanan, tapi bagi dua ya, karena kata ibu berasnya habis !" kata Intan, pada putra Norma, yang hanya melihat orang sarapan. sifat Intan seperti Abi, orangnya tidak tegaan.
" Kak, bagai mana rasanya selingkuh ?" tanya Ais, di depan para keluarganya dan Norma.
" Enak, menyenangkan, dan menghilangkan stres, istri jelek cerewet, lupa semua, anak rewel bagaikan angin lalu !" jelas Abi, dengan senyum mengejek.
" Kalau gitu Ais mau coba ah, ayo anak - anak, kita berangkat semua " kata Ais, membuat Abi terkejut.
Bunyi ponsel Ais berbunyi, menyuruh seluruh anaknya masuk mobil duluan, dan mengangkat teleponya di depan Abi.
[" Iya Do "] jawab Ais.
[...]
[" Iya, kata suamiku enak, dan menghilangkan stres, suami nyebelin hilang di pikiran !"] kata Ais, membuat Abi terkejut.
" Ais berangkat kak " Kata Ais sambil mdnyalami Abi.
" Ais biar kak Abi yang mengantarkan kalian " kata Abi, di rundung rasa kuatir sambil mengetuk kaca mobil Ais, Ais ahirnya membukanya.
" Kalau kak Abi ikut, Ais tidak bisa selingkuh, mending kak Abi jemput selingkuhan pakai motor sportnya Ais, kontaknya di atas meja rias, dan jangan lupa, kunci pintu kamar kalau keluar, karena ada benalu " kata Ais, dari jendela mobil dan mulai melajukan mobilnya.
" Oh ya, mas Arman, di ajak kak Abi naik motor sport !" teriak Ais, menghentikan mobilnya yang sudah sampai gerbang.
Arman ke luar rumah, dan mengangguk pada Ais.
" Punya adek masih bodoh, tau istrinya pintar, masih cari masalah, makanya dulu cari istri yang bodoh kayak bakmu, jadi tidak bakal bikin kamu mati kutu !" kata Arman, Reina mendengar dari belakang berkacak pinggang.
" Apa kamu bilang, aku bodoh ?" kata Reina sambil menjewer telinga Arman.
" Aduh, aduh, bukan kamu ma, tapi Abi, " kata Atman
" kamu kira aku tuli " kata Reina, masih memelintir telinga Arman.
Abi menyalakan motornya.
" Abi tunggu, tolong antarkan Vino, dan aku sekalian kerja " kata Norma.
" Ini tidak boleh terjadi, bisa jadi duda muda adik ku, ibu terlantar " gumam Arman Reina mendengar, seketika Reina melepas puntiranya.
" Maaf Abi tidak bisa, kamu pakai ojol saja !" kata Arman yang langsung naik motor sportnya.
" Ternyata aku masih keren kalau naik motor seperti ini ?" kata Arman dengan gaya pedenya.
" Yang keren motornya mas " jawab Abi.
" Bukankah motor seperti ini yang kau impikan dulu Bi ?" tanya Arman dan di angguki Abi.
" Kok bisa Ais beli motor sebagus ini ?" tanya Arman.
" Kok tanya Abi, tanya saja sama Ais " jawab Abi, yang otaknya masih traveling memikirkan istrinya.
__ADS_1
Sedang di mobil, Zha cemberut.
" Kenapa sih anak mama kok cemberut terus ?" tanya Ais pada Zha.
" Apa mama sama ayah mau pisah ?" tanya Zha, Ais lalu menepikan mobilnya.
" Kakak ngomong apa sih ?" tanya Ais pada Zha.
" Kenapa tadi bilang katanya mau selingkuh ?" tanya Zha.
" Tidak sayang, mama hanya menggertak ayah saja, mama tidak mau pisah sama ayah, karena ayah telah memberi bibit unggul seperti kalian !" kata Ais, di senyumi Zha.
" Makasih ma, sudah sabar menghadapi ayah, yang tidak tegaan " kaya Zha dan di angguki Ais.
" Sudah tidak tegaan, baperan, posesif lagi, lihat saja pasti dia bingung cari mama !" kata Ais, sambil megacak rambut Zha.
" Ha ha ha !" tawa Zha dan Ais.
"Ma dada intan sakit !" kata Intan, lalu Ais, memutar tubuhnya ke arah jok belakang dan mengecek Intan duduk di dekat Ega yang masih asik bermain.
" Apa ayah, tidak pernah cek Intan ke dokter " tanya Ais.
" Pernah dua kali ma, tapi ayah tidak pernah cek makanya Intan " cerita Zha. Ais geleng kepala.
" Ya sudah, Intan jangan sekolah dulu, nanti kita ke dokter, dan mama mau kasih kenal kalian teman baru kalian " kata Ais.
" Teman baru, tidak seperti Vino kan ma ?" tanya Zha.
Ais tidak langsung pulang, tapi pergi menuju, tokonya, di sambut para anak - anak jalanan Ais tersenyum langsung menuju ruang pribadinya.
" Kak Ais, cantik sekali putrinya !" kata seorang gadis cantik bertato, menjawil pipi Intan dan Ega.
" Siapa dulu, anak Abi manyu !" jawab Ega dengan nada lucu.
" Ha ha ha. . !" membuat teman sekomunitasnya yang ada di sana tertawa.
Ega tersenyum.
" Kata ayah, kalau nakal itu anaknya Ais, kalau cantik dan pintar, itu anak ayah " jawab Ega lagi.
" Kasian sekali kamu Ais, yang hamil kamu, yang lahirin kamu, tapi semua mirip ayahnya " kata Edo.
" Nasib Do, hanya buat titipan " kata Ais dengan nada malas.
" Ha ha ha !"
" Tapi yang lebih cantik lagi yang pertama dia punya segalanya dari Abi dan aku. karena bahanya masih banyak waktu pengadonan " kata Ais.
" Ha ha ha. . !" tawa lagi.
" Ternyata masih ada lagi yang lebih besar " kata yang lain.
__ADS_1
" Aku antar anaku, ke dalam dulu, badanya kurang sehat " kata Ais sambil menggandeng Intan.
Seorang ibu mencari buku, dan mengantar anaknya yang ingin gabung bersama anak jalanan yang mendengar kata Abi manyu langsung berdenyut jantungnya.
" Intan di sini dulu ya, ? mama mau metting dulu sama mereka !" kata Ais dengan lembut.
" Mbak Ais !" panggil ibu tadi.
" Iya buk ada apa ?" tanya Ais.
" Saya ingin minta waktunya sebentar ?" tanya bu itu.
Ais mengangguk.
" Silakan duduk buk ?" Ais mempersilakan.
" Perkenalkan mbak, namaku Ayu !" kata ibu tadi.
" Oh ya buk Ayu ?" kata Ais.
" Jadi mbak ini istrinya mas Abi manyu ya ?" tanya Ayu, Ais mengangguk.
" Yang lulusan Alfiyah, dari pondok pesantren hidayatus sholihin ?" tanya Ayu.
" Iya, kok buk Ayu tahu tentang suamiku ?" tanya Ais penasaran.
" jangan panggil buk, sepertinya kita sebaya !" kata Ayu.
" Ya sudah mbak saja biar sopan !" kata Ais.
" Saya istri dari mas Farhan, yang satu angkatan sama mas Abi, dan aku adik kelasnya, siapa yang tidak kenal mas Abi, dulu idola pondok, dan gus Ahmad, sampai pak kiayi, melamar mas Abi untuk putrinya, tapi di tolaknya !" cerita Ayu.
" Tapi mas Abi tidak bisa melanjutkan di jenjang selanjutnya, karena, tidak ada biaya, dan sekarang aku dengar desas, desus, kalau sekarang mas Abi sudah sukses " kata Ayu.
" Ku kira mbak Ayu sendiri yang naksir kak Abi !" kata Ais.
" Bukan cuman aku tapi banyak, dan putri kiayi pun ikut menaksirnya suara indah dalam melantunkan al qur'an, tampan dan lembut, kita terahir bertemu saat dia belum menikah dia juga datang waktu kita menikah !" kata Ayu seperti meremehkan Ais.
" Resiko punya suami tampan !" gumam Ais.
" Terus ada apa mbak Ayu panggil saya, mau bertanya, kabar suami saya, orangnya lagi merana !" kata Ais.
" Tidak mbak, aku hanya, kalau mas Abi ada lowongan pekerjaan, suamiku ingin daftar kerja !" kata Ayu langsung menunduk dengan tatapan tajam Ais.
" Cuman itu, datang saja ke rumah, rumahnya belum pindah " kata Ais.
" Ternyata benar, apa yang di kata orang, mas Abi menolak lamaran putri kiayi, malah dapatnya !" gumamnya yang masih terdengar Ais yang sudah membalikan badanya.
" Perempuan preman !" kata Ais.
" Tidak, tidak mbak !" kata Ayu ke takutan
__ADS_1