
Skop tanah kuburan
...****************...
"Alangkah perhatianya suami Zha, jarang ada suami mau memijat kaki istrinya yang sedang hamil ?" kata buk Minto, saat melihat Zha di pijit kakinya oleh Leon.
" Resiko bu de, punya istri kecil jadi masih ingin di manja, lagian juga, tidak mau di pijat sama siapapun, selain suaminya " jawab Rima dan di senyumi Bu Minto.
" Tapi walaupun kecil, pikiranya dewasa kalau Zha " kata buk Minto lagi.
Rima yang kembali tersenyum.
" Sayang, kak Leon bantu bapak dulu ya, kamu di tunggu Adi dan Mita dulu !" kata Leon sambil mencium kening Zha membuat mata jomblo iri, apa lagi, Aldo dan Ima.
Leon menyuruh Adi dan Mita membawa Zha ke kamar.
" Tuan putri, jangan bikin masalah lagi, nanti aku yang habis di telan suamimu !" kata Mita.
Adi dan Mita asik main PS, di kamar Zha, karena kamar Zha di penuhi fasilitas seperti di hotel.
Mita dan Adi, menali kaki Zha yang sedang baca novel dengan kaki mereka.
" Kenapa sih kalian ?" tanya Zha pada Adi yang sedang menali kaki Zha dengan kakinya dan kaki Mita.
" Diam. . ! kamu tidak maukan saudaramu yang tampan ini di makan Alien kota ?" tanya Adi pada Zha.
Lalu Adi meneruskan PSnya.
Zha yang jenuh, melihat canda tawa Adi dan Mita, diam - diam Zha melepas ikatanya, dan menalikan jadi satu, Mita dan Adi.
' Ceritanya kalian mau dendam denganku ' pikir Zha.
Zha keluar mencari keberadaan Leon, ternyata masih di dapur.
" Kak Leon, Zha lapar !" kata Zha sambil memeluk Leon yang ada di dekat kompor entah sedang apa.
Leon membalikan badan dan mencium istrinya.
" Apa kamu belum makan dari pagi ?" tanya Leon. Zha mengangguk.
" Kenapa tidak ngomong ?" tanya Leon.
" Sebentar ya, kak Leon masak spageti, sebentar lagi matang !?" kata Leon.
Zha yang usil masih memeluk Leon tanpa melepasnya, dan sambil menggelitik Leon membuat Leon menggeliat geli.
__ADS_1
Leon mematikan kompor, dan membalikan badan dan mulai menggelitik Zha.
" Sudah mulai nakal ini, siang - siang, menggoda !" kata Leon, sambil memeluk Zha menggelitiknya dengan tangan dan kumis tipis yang di tempelkan di leher Zha.
" Ha ha ha. . . ! kak Leon geli, ha ha ha Zha nyerah !" membuat Zha tertawa sampai mengeluarkan air mata.
Leon melepaskanya.
" Tidak ayah tidak anak di dalam perut, masih saja usil " kata Zha.
" Kita makan dulu, kasihan yang di dalam sudah protes ?" kata Leon sambil menunjuk perut Zha yang besar sedikit bergerak.
" Dia tahu kak, kalau di kuwatirkan ayahnya !" kata Zha saat merasakan pergerakan di perutnya.
Leon menyuapi Zha dengan kasih sayang.
" Mungkin aku tidak romantis, aku tidak bisa seperti Arief, tapi aku janji akan menjagamu dan menyayangi anak kita walaupun kita tidak pernah mengalami pacaran !" kata Leon sambil membersihkan bibir Zha yang kotor karena saos.
" Ujian terbesarku, awal hidup dengan kak Leon, seperti kuburan, sepi tanpa canda tawa di apartemen !" jelas Zha.
" Maafkan aku sayang, aku dulu belum bisa jujur " kata Leon, sambil memegang tangan Zha dan menciumnya.
Ima datang dari pintu melihat Leon menyuapi Zha.
" Kenapa ? mau ?" tanya Zha menawari spageti bikinan Leon.
" Kau di kasih hati malah ngelunjak ya !?" bentak Zha dengan mata melotot, membuat orang yang ada di situ memandang Zha.
" Kan ini permintaan baby !" kata Ima.
" Kalau mau ini, kalau tidak pergilah . . .!?" kata Zha sambil menyodorkan satu piring spageti.
" Ya siapa tahu, dengan Ima di suap suami kamu, hidungnya, atau apanya mirip suami kamu " kata Yen yang membela anaknya.
" Tidak ada, hanya anak aku yang mirip suami aku, kalau kamu ingin suap, biar pakai skop tanah kuburan " kata Zha.
Ima terdiam, dia selalu kalah dengan Zha, Ima duduk dan mengambil spagetinya, sedang Leon menenangkan istrinya, dengan terus menyuapinya.
Adi dan Mita merasa kehilangan, mereka langsung lari.
kakinya yang tertali satu sama lain membuatnya terjatuh.
" Ternyata dia lebih pintar dari pada kita " kata Adi.
Adi lari keluar mencari keberadaan Zha tapi tidak ada, malah bertemu Didik. Saat Adi akan kabur lagi Adi di panggil Didik, tapi Dia menceritakan niatnya.
__ADS_1
" Makanya, kalau suruh jaga harus amanat, semoga tidak bertemu, jadi aku bisa lihat Adi jadi santapan ikan lele malam ini " kata Didik pada ponakanya, dan di senyumi oleh Jak bapak Adi.
" Menantu sama mertua sama saja, di tambah anak kayak bunglon dikit - dikit hilang !" gerutu Adi.
Mita mendengar tawa Zha di dapur, lalu memanggil Adi, dan segera menuju dapur.
" Ternyata kamu di sini, ku kira hilang Zha " kata Adi yang melihat Zha masih makan dengan Leon sambil mengelus dada.
" Ada apa ?" tanya Zha.
Mita dan Adi geleng kepala, Mita yang kelelahan karena lari sana sini langsung menenggak minuman yang ada di meja, minumnya Zha.
Setelah selesai makan, Zha keluar melihat luar gabung dengan muda mudi.
Banyak gadis menceritakan pria tampan yang di sawah, dan ada satu yang tahu namanya dan mendapat fotonya.
Cewek itu ternyata Rindu mantan Adi, Zha yang mendengarnya jadi panas.
" Kau ingin bertemu dengan pria itu Ndu ?" tanya Zha.
Rindu mengangguk dengan bahagia.
" Bagai mana kalau pria itu sudah punya istri ?" tanya Zha.
" Jangan mematahkan semangat kita kak, kita bantuin orang tuanya di sawah, kerja mati - matian agar dapat nomor dan fotonya, tapi dia masih cuek, dia itu tidak hanya tampan dan body atletis tapi juga rajin di sawah !" cerita Rindu.
" Apa kak Zha kenal ?" tanya Rindu, dan di angguki Zha.
" Mau aku bantu ?" tanya Zha.
Semua gadis tersenyum bahagia.
" Kak Leon. . . !" teriak Zha.
" Ada yang mau bertemu ?" lanjut Zha.
Leon yang masih duduk santai, langsung menuju ke Zha, takut istrinya perang lagi sama Ima.
Leon yang memakai kaus santai putih, memperlihatkan bentuk tubuhnya, dengan celana pendek selutut.
" Apa sayang !?" kata Leon sambil mencium kaning Zha yang melipat tangan di dada, semua mata gadis menuju dua makluk itu.
" Kak Zha . .!" kata Semua gadis yang kecewa.
" Ada yang mau ketemu ?" kata Zha pada Leon menunjuk dengan mulut yang masih melipat tangan di dada.
__ADS_1
" Kalian. . . !" Leon kaget dengan para gadis yang sering mengejarnya di sawah.