
Selamat. . !
********
Setelah keluar rumah Abi segera menunggangi sepeda motornya.
Sepeda motor Abi melaju dengan kecepatan sedang, sesampainya di lapangan penjual martabak bangkanya sudah siap pulang, karena jam sudah menunjukan hampir setengah malam, namun Abi dengan cepat menahanya.
" Pak pak, tunggu dulu . . ! " panggil Abi pada tukang martabak.
" Ada apa nak, saya sudah mau pulang " kata tukang martabaknya yang hampir mendorong gerobaknya.
" Pak tunggu dulu, masih ada tidak pak martabaknya ?" kata Abi sambil menahan gerobaknya
" Masih dua porsi lagi " kata bapaknya dengan heran.
" Tolong pak bikinin, istri saya kepingin banget " kata Abi dengan kata memelas.
" Ya sudah tunggu di sini " kata bapaknya sambil menurunkan kursi yang dari atas gerobaknya.
Sambil menyiapkan yang akan di buat itu, bapak penjual martabaknya bertanya dengan Abi dengan penasaran.
" Apa istrimu sedang ngidam nak ?" tanya bapaknya.
" Tidak tau pak belum periksa soalnya, emang kenapa pak ?" tanya Abi
" Biasanya kalau cari sesuatu tengah malam begini istrinya lagi ngidam ?" kata bapaknya menjelaskan
" Tidak tahu juga pak soalnya belum periksa juga, hari ini istriku itu terasa aneh pak, biasanya tidak pernah manja, hari ini nyebelin banget " kata Abi menceritakan kejadian hari ini.
" Itu masih mending nak, dulu istri bapak, kepingin soto babat yang dari kota A, perjalanan dua jam naik sepeda motor, itu hamil anak pertama, terus hamil anak kedua pingin rujak cingur, di sini dulu belum ada yang jualan lagi ahirnya pergi juga ke kota asal makanan itu " cerita bapak tukang martabak itu panjang lebar.
" Hah seribet itu pak orang ngidam?" kata Abi sambil tercengang.
" Kamu masih mending nak cumam di sini " kata bapaknya.
__ADS_1
" Kalau tidak di turuti pak ?" tanya Abi.
" Ya pasti marah, takutnya anak kita ngiler " jawab bapaknya.
" Seribet itukah wanita hamil ?" kata Abi.
" Ya seperti itulah, lagian juga tidak tiap hari, itu juga gara - gara perbuatan kita ha ha ha ha !" kata bapak itu sambil tertawa.
" Ha ha ha ha . . . ! " di sambut Abi
" Tapi masih mending nak, kita di siksa waktu dia hamil, ketimbang istri kita melahirkan bertaruh nyawa, makanya banyak para suami, memilih istrinya oprasi caesar untuk melahirkan buah hatinya, karena tidak tega melihat istrinya menderita " penjelasan bapaknya.
" Jadi seperti itu " kata Abi
" Ini nak sudah selesai " kata bapaknya sambil mengulurkan pelastik yang berisi martabak bangkanya.
" Iya pak trima kasih " kata Abi sambil mengulurkan uangnya.
Setelah Abi mendapatkan apa yang di cari, Abi segera pergi mengendarai sepeda motornya untuk pulang. Sesampai di rumah Abi segera mencari keberadaan istrinya, ternyata belum tidur menunggu apa yang dia ingikan, setelah mendapatkanya dan kenyang Ais pun segera tertidur.
*******
Sepeda motor Aispun melaju ke arah pasar, sesampainya Ais di pasar merekapun beli apa yang di butuhkan di warung. namun Tiba - tiba.
" Hai Ais ya ? apa kabar kamu ? " Sapa Reza sahabat Abi " Oh ibu Dwi ?" tanya reza sambil mengulurkan tanganya menyalami ibu Dwi.
" Baik za, apa kabar juga ? kamu kapan datang ?" tanya Ais.
" Baru kemaren, jadi kamu jadi sama Abi ? patah hati dong gue ? " kata Reza samvil bercanda.
" Hai kedengaran istri lu, marah nanti ?" kata Ais memperingatkan.
" Ha ha ha ha bercamca kali " kata Reza
" Gak lucu " kata Ais sambil melanjutkan jalan bersama Mertianya
__ADS_1
Reza adalah teman Abi yang mengenalkan Ais pada Abi, sebenarnya Reza menaruh hati dengan Ais cuman kalah dengan Abi. Ahirnya Reza merantau dan menikah di perantauan.
Bruuugh .
Belum jauh dari Reza Ais tiba - tiba pingsan. Semua orang panik, Reza yang melihatnya langsung menghapirinya dan menggendongnya ke klinik terdekat. Setelah Ais sampai ke klinik Ibu Dwi panik dan menghubungi Abi, Abi pu tidak kalah panik dan segera menyusul istrinya. Sesampainya.
" Bu kenapa dengan Ais, ? " tanya Abi dengan panik.
" Tidak tau Bi, " jawab ibunya tidak kalah panik, " untung tadi ada Reza yang bawa kemari " lanjut bu Dwi.
" Hai Za kapan datang, bagai mana keluarga lu, ikut kesini tidak ?" tanya Abi bertubi tubi, saat melihat Reza.
" Alhamdulikah sehat Bi? kamu sendiri bagai mana ?"
" Ya yang seperti kamu lihat " kata Abi sambil menaikan pundaknya.
Setelah mereka bercengkrama, dokter keluar dari ruangan Ais, semua menghampiri dokterbtersebut dengan wajah panik, pasalnya Ais tidak pernah pingsan sebelumya.
" Bagaimana istri saya dok ? " tanya Abi panik.
" Bagai mana menantu saya dok ? " kata bu Dwi tidak kalah panik.
" Anda suaminya ya ? " sambil menunjuk Abi " Selamat ya pak istri anda Hamil " kata dokter dengan mengulurkan tangan menjabat tangan Abi, dan di sambut Abi dengan bahagia.
Abi pun segera lari memeluk Ais.
" Trima kasih sayang, kau akan memberikan anak untuku " kata Abi dengan menciumi tangan Ais, sedangkan Ais hanya menganggukan kepala.
" Istri anda kehamilanya memasuki 5 minggu, usia kehamilam masih sangat rentan jadi harus di jaga benar - benar, jangan boleh terlalu capek ataupun banyak pikiran , harus di jaga benar ya pak, ini akan saya berikan resep obat agar menjaga kondisinya supaya tetap sehat bla bla bla " penjelasan dari dokter panjang lebar.
Setelah semuanya selesai Abi mengajak Ais pulang, sedangkan Ibunya suruh membawa Reza dan mengambil belanjaan yang di titipkan di warung tadi.
Sesampainya di rumah Abi menyuruh untuk istirahat dan jangan kerja terlalu capek, karena kondisinya masih lemah.
" Sayang sebentar lagi keluarga kita sempurna, kita akan mempunyai anak, kaga dia baik - baik ya ? " kata Abi sambil mengelus perut Ais yang masih datar.
__ADS_1
" Kak jangan lebay lah, geli tahu " jawab Ais sambil memegang tangan Abi yang ada di perutnya.
" Ya sidah kak Abi berangkat dulu ya ?, doakan kakak, semoga rezekinya lumayan " kata Abi sambil mencium kening isteinya.