ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
Risa malu


__ADS_3

" Tidak biasanya mas mu tidur jam segini, sakit mungkin Ris, coba periksa !" kata bu Dwi.


" Mas Abi sudah punya istri buk !" kata Risa.


" Tapikan isteinya belum sehat benar, jadi belum bisa mengurusnya !" kata bu Dwi.


Risa berangkat dengan jalan gontai menuju kamar Abi di lantai atas.


Sedangkan Abi tertidur dengan damai memeluk Ais.


Risa yang baru sampai, jadi malu melihatnya, seonggok pakaian berserakan di lantai, dan Ais yang masih terjaga.


" Ada apa Ris ?" tanya Ais.


" Ti ti dak mbak, siapa tahu mbak Ais butuh bantuan " kata Risa gugup.


" Tidak, nanti kalau, aku butuh bantuan, aku panggil !" kata Ais.


Risa mengangguk paham.


" Kan apa ku bilang buk, Risa malu, mas Abi, sudah menerkam mbak Ais, Risa masuk, mereka masih bergumul di dalam selimut, mas Abi sudah tidur, mbak Ais masih terjaga " kata Risa.


Buk Dwi hanya tersenyum.


" Namanya juga, sudah puasa tiga bulan Ris, biasanya, walaupun nifas, Abi sering mandi keramas, waktu keluar kamar, menunjukan kepuasan, kalau mas Arman tanya, Ais punya cara sendiri memuaskan suami, katanya Abi " cerita Arman.


" Apa ya rahasianya, kalau aku lihat, mas Abi itu, bisa di bilang hyper ***, karena, dulu, aku berkunjung waktu kak Abi sakit di rumah sakit, walau nafasnya ngos ngosan, keluar kamar mandi dengan mbak Ais, dia bilang Biasa dengan santai, setelah itu aku tidak srngaja dengar percakapan mereka, ternyata mas Abi, menerkam mbak Ais di kamar mandi rumah sakit, padahal, nafasnya ngos ngosan karena pernyakit yang di deritanya" kata Risa geleng kepala.


" Kalian bari tahu ternyata ? makanya anaknya Abi banyak, karena dia tidak pernah bisa di tinggal Ais sedikit, di mall, bertemu wanita seksi, sampai di rumah, menerkam Ais, tapi untungnya Ais bisa mengimbangi !" kata bu Dwi.


" Pantas saja, Ais angkat rahim dia tidak pusing atau menyesal !" kata Reina.


" Kalau gitu aku mau belajar dari mbak Ais, biarpun masa nifas, masih bisa memuaskan suami, agar mas Edi tidak main serong lagi !" kata Rita.


" Wajib itu Rit, kamu jiga ma !" kata Arman pada adiknya dan istrinya. Reina hanua tersenyum mengejek.


Abi keluar dengan Ais, dengan rambut basah. Arman yang duduk di sofa, sambul menikmati kopinya, melihat Abi.


" Sudah basah saja Bi jam segini ?" tanya Arman. Abi tersenyum menanggapi Arman.


Esoknya, semua sudah sibuk menyiapkan, yang akan di olah, buat acara akikahan.


" Ris titip mbak mu, mas Abi mau keluar sebentar !" kata Abi.

__ADS_1


Risa mengangguk, Ais yang masih di kamar, sudah selesai mandi, lupa tidak di pamiti Abi.


" Kak Abi !" teriak Ais dari dalam kamar.


Buk Naya, dan pak Idris yang akan ikut membantu akikanya cucunya mendengarkan teriakan Ais.


Risa yang akan lari, tapi di cegah oleh pak Idris.


" Biar bapak saja yang ke sana !" kata pak Idris, Risa mengangguk


" Dek ikuti, nanti kau salah oleh kak Abi, mbak Ais itu ratu !" kat Rita mengingatkan adiknya.


Risa, akan masuk, tapi Abi sudah di depan pintu.


" Siapa yang jaga mbak mu ?" tanya Abi.


" Ayah ibunya kak !" jawab Risa. Abi langsung menjatuhkan barang bawaanya.


" Bodoh, kenapa kau, percaya denganya, aku menelpon kalian ke sini untuk menjaga mbakmu, apakalian tidak iklas ?" tanya Abi.


" Tapi dia. . " kata Rita terputus.


" Orang tuanya, orang tua iblis yang akan memakan anaknya, aku tidak mau, karena ke cerobohanku, Ais harus mengalami sakit lagi, kau tismdak pernah mengalami seperti mas, di tinggal mati suri, oleh orang yang di cintai, karena, keluarganya tidak iklas melihatnya bahagia !" kata Abi.


" Jika kalian, tidak mau menjaganya, seharusnya bilang, biar Ayu yang stanbuy di sana!" kata Abi yang menohok.


" Kau kembali pada Eko juga, karena bantuan mbakmu Rit, mas hanya minta waktunu sebentar !" kata Abi, Rita tersinggung.


" Aghhhht.. .!" teriak Ais.


" Jangan sentuh aku , jangan sakiti aku, hu hu hu !" tangis Ais.


" Nak Ais ini bapak, bapak, hanya ingin melihat lukamu yang sudah pudar " kata pak Idris, masih mendekat, dan akan meraih punggung Ais yang terbuka, karena Ais hanya berbalut handuk nya.


" Cukup, jangan kau sakiti Ais terus !" bentak Abi.


" Nak Abi !" panggil pak Idris.


Ais yang beringsut ketakutan, langsung memeluk Abi.


" Kak, Abi tolong Ais, aku mohon kak Abi " kata Ais sambil memejamkan mata, mengangkat kakinya de atas kursi roda.


" Ini kak Abi dek " kata Abi.

__ADS_1


" Sudah cukup pak, Ais sekarang istriku, jangan pernah kau sakiti lagi !" bentak Abi dengan mata memerah menahan emosi.


Roy yang baru datang, mendengar teriakan Ais dan bentakan Abi langsung lari ke atas.


"Ba ji ngan, ternyata kau masih hidup tua bangka " kata Roy, meninju pak Idris hingga oleng. bu Naya segera menghampiri.


Roy menyeret, dan membawanya keluar.


" Belum puas kamu menyakiti Ais ?" tunjuk Roy, pada pak Idris.


" Sudah Roy jangan main kekerasan !" larang Abi.


Jay, menghalangi Roy, yang akan menghajar pak Idris.


" Sudah Roy, dia juga ayahku " kata Jay.


" Kakak model apa anda, yang bisa mendukung ke jahatan ayahnya " kata Roy


" Padahal Ais juga, satu darah dengan anda " kata Roy.


Abi keluar, dengan Ais, yang sudah rapih.


" Coba, anda tanya pada adik anda ? dia itu trauma !" jelas Roy.


" Trauma apa ?" tanya Jay.


" abang, abang, kau kakak khan ?" tanya Roy mengejek.


" Maksudmu ?" tanya Jay.


Roy menarik baju di bahu Ais, Ais menangis histeris.


" Sudah hentikan Roy !" Bentak Abi.


" Luka di bahunya, adalah luka mematikan, bukan hanya bahunya yang sakit, tapi hati dan otaknya, hanya karena sebuah keserakahan orang yang di sebut bapak " kata Roy.


" Betapa perihnya seorang remaja, yang di telanjangi di tali di pohon jambu, dan di cambuk dengan rotan, dan bambu, tidak ada yang mendengar tangisanya, orang dengan kejam menyiksanya hanya untuk menyerahkan, ATM hasil kerja kerasnya " kata Roy.


" Rengekan gadis remaja itu, hanya angin lalu, buat orang tua yang tidak punya hati, dia merintih hanya ingin menuju ke jenjang perkuliahan, tapi itu hanya sebuah angan, karena uangnya semua di jarah, dan di siksa bagaikan anjing " kata Roy.


" Hingga, bahunya mengalami ke robekan. setelah mendapatkan pin ATM itu, biadab dan anaknya, meninggalkanya, tidak berdaya, dengan bahu, yang robek, sungguh mengenaskan !"


" Aku menghampirinya, dengan ke adaan panik, ku pakaikan hodieku, ku bawa dia ke klinik, ku hilangkan gengsiku, aku meraung menangis, sedang tubuhku, telah bersimbah darah " kata Roy, pak Idris menangis, mengingat ke bodohanya.

__ADS_1


" Tapi betapa bodohnya aku, tidak membawa dia pergi ke panti asuhan, dengan alasanya, dia takut kalau bapaknya akan cari masalah di sana, mengganggu anak panti dan dia akan tetap bertahan, hanya ingin mendapatkan kasih sayang orang tuanya, seperti ke dua kakak perempuanya "


" Kita berpisah, katena aku harus kuliah, jauh, tapi setahun pertama, aku masih melihatnya, di tahun ke dua juga sama, di tahun ke tiga, aku ingin mengambilnya, aku akan membiayai kuliahnya, tapi semua hanya harapan, aku kehilangan adikku " kata Roy.


__ADS_2