
.
Zha, Nadia dan Arif satu mobil dengan Abi, yang di kemudi oleh Farhan.
Sedang di belakangnya di iringi Roy dan Jay. di perjalanan hanya ada ke heningan.
Sesampainya di rumah Nadia. abah Ridho menyambut.
" Tumben nak Abi ke sini malam - malam ?" tanya abah Ridho.
Nadia masih menunduk nenutupi wajahnya, yang sembab, habis di pukul Abi dan menangis.
Farhan yang menjawab, perihal ke datanganya ke sana, abah terkejut lalu memandang Nadia dengan penuh kecewa
Umi Kulsum langsung memandang Nadia dan memeluknya sebelum jadi sasaran amarah abahnya.
Abi berdiri.
" Wahai ustadzah Nadia binti Muhamad Ridho, saya Abimanyu menalak talak, talak tiga kamu, maka mulai malam ini dan seterusnya kau bukan tanggung jawabku lagi " kata Abi lantang.
" Mas Abi maafkan aku !" teriak Nadia.
Nadia beringsut duduk di bawah Abi.
" Berikan Nadia satu kesempatan mas Abi " tangis Nadia.
Abi memandang wajah Zha yang ada di ada dekatnya, namun Zha membuang muka, dan memandang ke atas menahan air mata.
" Maaf !" jawab Abi.
" Apa kurangnya aku mas, aku lebih segalanya dari mbak Ais, aku tidak menuntut banyak padamu ?" kata Nadia. Abi memegang dagu Nadia yang ada di pangkuanya agar memandang wajahnya.
" Ya kamu lebih cantik, lebih muda, dan yang paling aku sukai hidungmu lebih menonjol dari pada Ais !" kata Abi sambil mencolek hidung Nadia dengan senyum sinis.
" Dan kamu juga, lebih pintar main drama, lebih bodoh, dan terpenting, lebih rendah, kau jauh lebih sempurna dari pada Ais !" kata Abi sambil melempar wajah Nadia.
" Mas, jangan tinggalkan aku, aku sudah tidak punya masa depan " kata Nadia.
__ADS_1
" Aku akan meraih masa depanku bersama anak istriku, yang selalu setia mrnemaniku dari nol !"
" Dan aku mencitai istriku bukan dari fisik ataupun bafsu, tapi dari allah beda dengan dirimu, jika aku mau denganmu, karena kau punya fisik sempurna, ustadjah Nadia " jelas Abi.
" Mas !" kata Nadia.
" Maaf " kata Abi mengangkat tanganya.
" Bah maaf, aku sudah tidak sanggup, berumah tangga dengan Nadia " kata Abi pada abah.
Abah bukanya menjawab, dia duduk tersungkur di depan Abi, dan menangkupkan tanganya.
" Bah, Abi bukan tuhan yang harus di sembah, dengan abah, bersujud padaku, aku semakin muak, dengan ustadzah Nadia, yang membuat abahnya merendahkan diri di depan muridnya !" kata Abi sambil mengangkat tubuh abah. Abah menggeleng.
" Abah tidak akan berdiri sebelum kau mengabulkan permintaan maaf " kata abah.
" Abah rela, Nadia kau bunuh, abah rela Nadia kau pukul, abah rela Nadia kau buang atau di asingkan " kata abah, membuat umi Kalsum, dan Nadia terkejut.
" Apa yang abah minta dari Abi manusia rendahan yang pernah zina ?" tanya Abi.
" Tolong bebaskan Azzam, abah rela menukar apapun, asal Azzam bebas, abah rela menggantikan paru - paru abah untuk anakmu Intan asal kau bebaskan Azzam " kata abah masih memohon.
" Intan tidak membutuhkan paru - paru, dia akan hidup normal, seperti temanya, karena punya ibu yang kuat, dan kakak yang selalu jadi tameng untuk adiknya !" kata Abi.
" Dia bisa normal, asal kita telaten, dan aku tidak akan mengorbankan hidup orang lain, demi ke egoisan orang tua untuk anaknya !" jelas Abi
" Setiap, ada yang menitipkan pernyakit pasti kan di ambil oleh yang punya, itu yang abah ajarkan dulu pada Abi " jelas Abi.
" Azzam depresi, anak dan istrinya membencinya, setelah mereka tahu, yang di sandra Azzam adalah Intan, adik dari Zhafira, dan putri dari bunda Ais, yang membantunya masuk sekolah teladan "
" Rumah tangga Azzam, terancam hancur, di penjara, dia hanya bisa menangis, dan marah pada dirinya, hingga, sampai di keroyok oleh orang satu sel, karena dia marah - marah tidak jelas kemarin sempat di rawat " cerita abah.
" Abah, abah merasakan kan, bagai mana rasanya keluarga anaknya hancur ?" tanya Abi.
" Itu yang di rasakan ibu Abi, dia juga ikut merasakan betapa hancurnya, hati istri Abi, saat dia harus menerima aku menikah lagi demi menyelamatkan cucunya !" kata Abi.
" Ibu Abi sudah tidak ada yang menyemangati lagi tidak seperti abah yang masih punya umi Kalsum, ibu hanya mengharapkan kasoh sayang dari nmmenantu yang ia sayangi, hingga, sayangnya melebihi aku putra kandungnya sendiri, karena dialah yang selalu merawat ibu di saat dia sakit, tampa imbalan "
__ADS_1
" Sungguh langka menantu seperti Ais yang memprioritaskan mertuanya, ibu yang fisiknya sering drop, apa lagi ahir - ahir ini lihat amplop saja tubuhnya bergetar, takut Ais menggugat cerai Abi!" kata Abi.
" Maafkan abah !" kata Abah. Abi mengangguk.
" Ini sudah jalan yang kuasa abah !" kata Abi.
" Abi tidak bisa janji untuk menguluarkan gus Azzam, ini semua di putuskan istriku, bah !" kata Abi.
" Tapi akan Abi usahakan !" kata Abi.
" Terima kasih nak Abi !" kata Abah.
" Tapi abah, jika memang Ais setuju, abah tinggal siapkan uang dendanya, biasanya tidak gratis untuk mencabut laporanya, walaupun kasusnya belum selesai !" jelas Abi.
" Sudah abah siapkan, uang itu hasil jual srpetak tanah, rencananya akan untuk wisuda Nadia, tapi dia ingin mendapatkan dengan cara instan, malah menghancukan harga diri keluarganya sendiri !" kata abah dengan tatapan benci pada Nadia.
" Aku dapat titipan ustadzah Nadia, ini dari Ais, jangan jual dirimu hanya sebuah, titel. Titel tidak berguna, tanpa di dasari dengan ilmu, maka dari itu berhentilah jadi pelakor, dan ini biaya untuk wisudamu !" kata Abi menyerahkan amplop coklat berisikan uang.
" Mas !" kata Nadia.
" Ais tidak mau ada korban Ais, Ais yang lain !" kata Abi.
Nadia menangis tergugu.
" Saya tidak butuh uang, saya hanya butuh mas Abi tidak ada seorang pria yang mau menerima, wanita kotor seperti ku " kata Nadia.
" Jodoh sudah di gariskan, aku menyayangi ibu, aku tidak mau secepatnya di tinggalkan ibu dan istri tercintaku, karena, mempertahankan wanita yang sama sekali tidak aku cintai " kata Abi. Nadia masih tergugu.
" Sungguh mulia istrimu nak " kata abah pada Abi.
" Tapi aku tanya, sesuatu pada anda ustadzah Nadia ?" kata Abi. Nadia mengangyuk.
" Di mana kau kuburkan anak ku ?" tanya Abi.
Nadia dan umi Kulsum membulatkan matanya.
" A a anak kita !" Nadia terbata.
__ADS_1