
" Zha, Intan, Ega !" panggil Arif.
Semua tiga anak itu keluar dari kamar.
" Ada apa mas ?" kata Zha, yang sekarang matanya menghitam karena sering menangis.
Arif menariknya dan memeluknya.
" Bereskan pakaian kalian, kita pergi dari sini, keluarga kalian sudah tidak sehat !" kata Arif.
" Tapi mas " kata Intan.
" Ayo dek !" ajak Zha.
" Pergi dari rumah, bukan menyelesaikan masalah, masalah harus di hadapi bukan di hindari, seperti halnya di saat kita perang, jika kita menghindar maka semakin banyak musuh yang mengejar kita !" kata Intan. kata - kata Intan menghentikan langkah Zha
" Intan bertahan, bukan berarti Intan bagagia melihat mama menderita, tapi Intan yakin kalau kak Zha bisa membantu mama " lanjut Intan. Zha memeluk Intan lalu menangis
Semua terdiam.
" Om, hanya ingin memenuhi tanggung jawab, bibi mu tetap nomor satu dalam segala hal !" kata Abi.
" Bantu nenek, untuk memulihkan phikis om mu, dan Zha Rif, jika bibimu, dan anaknya pergi om mu bisa gila !" kata bu Dwi setelah menarik Arief pergi dari hadapan anak - anak.
" Ini demi bibi, dan nenek " kata Arif mengangguk dan pergi.
Sudah seminggu Nadia di sana, tapi selalu berantem dengan Ayu. Walaupun dia anak gurunya, yang salah, di anggap salah oleh Ayu.
" Kak Abi libur, malu sama Nadia tiap malam mintak jatah istri tua hu hu hu !" kata Ais menahan geli.
" Istri muda tidak berguna !" kata Abi, tapi masih mencumbu perut Ais tanpa lapisan, karena daster tidurnya ia sibak ke atas oleh Abi.
" Kak geli !" teriak Ais.
" Mas, mbak !" panggilan itu menghentikan aktifitas ke duanya, lalu memandang ke arah pintu.
Ais yang reflek langsung menutup pahanya yang terekpos.
" Bolehkah, Nadia ikut tidur di sini, mungkin anak mas Abi ingin di elus ayahnya " kata Nadia, sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.
Abi angkat bicara tapi ke duluan Ais.
" Silakan !" kata Ais.
Nadia merasa gagal membuat Ais marah.
" Terima kasih mbak ?" kata Nadia. Ais mengangguk.
" Tapi jangan heran kalau malam dengar suara horor !" kata Abi.
__ADS_1
" Emang ada ?" tanya Nadia. Abi mengangguk.
Abi menurut di atur Ais untuk tidur di tengah memang tangan satunya mengelus perut Nadia yang di lapisi baju, tapi tangan sebelahnya mengobok - obok surabi lempit punya Ais. Nadia tersenyum penuh kemenangan, Nadia mengira, rintihan Ais adalah suara tangis Ais.
Lampu talah di matikan Nadia telah tertidur, tapi ada goyangan di kasurnya, ia mengira Abi akan mendekatinya.
" Emmm kak Abi pelan, Ais tidak bisa menahan rintihan !" bisik Ais.
" Merintihlah, tidak pa pa !" kata Abi.
" Tidak enak sama Nadia !" kata Ais.
" Tapi enak kan, kalau begini !?" kata Abi semakin menggenjot Ais di dekat Nadia.
Nadia meneteskan air mata dalam kegelapan.
' Mas, tidak sungkankah kau dengan ku ' gumam Nadia.
Abi selesai dengan ritualnya dan berguling di dekat Nadia.
" Pakai bajunya kak Abi, malu sama Nadia kalau bangun " kata Ais.
" Takut nanti dirimu salah masukan burung ke sangkar " lanjut Ais.
Abi hanya memakai celana boxernya sedang Ais akan memakai pakaianya, di tarik oleh Abi.
Ais ahirnya pasrah, hanya memakai celana kolornya.
" Sudah tua, harusnya tobat, tidak nafsu yang di besarin !" kata Ais.
" Hijrah itu sulit, di saat kita akan hijrah, setan selalu datang, tapi kak Abi bisa menghalau, karena ada istri yang siap siaga, menampung air, nafsuku, dengan cinta, akan ku jadikan bidadari surgaku sampai ahirat !" kata Abi mencium Ais lalu tertidur.
Nadia sesenggukan di punghung Abi.
" Mau makan apa pagi ini bidadari surgaku ?" tanya Abi halus pada Ais.
" Te !" kata Ais terputus.
" Jangan terserah mama, nanti ayah tidak jadi masakin mama !" kata Intan
" Omlet saja kak !" kata Ais.
Abi mengacungkan jempolnya tanda setuju.
Sedang bu Dwi tersenyum.
" Mas anakmu ingin makan nasi goreng " kata Nadia.
" Punya kaki kan, punya tangan kan ?" tanya bu Dwi pada Nadia. Nadia diam menunduk.
__ADS_1
" Di saat Ais tidak lumpuh, kebutuhan Abi sembilan puluh delapan persen, Ais yang melayani, hingga anak. Abi tidak pernah mau tahu !" kata bi Dwi.
" Baru anak pertama saja sudah manja, mau kau jadikan apa putraku ?, apa akan kau jadikan babu ?" kata bu Dwi. Nadia menunduk meneteskan air mata.
" Buk !" kata Ais mengelus tangan bu Dwi .
" Wahai cucuku, jika kau mencintai seorang pria, cari dulu seluk beluknya, jangan pernah kau jadi pelakor, karena kau tidak hanya menyakiti sesama kaumu, tapi yang paling sakit adalah keluargamu, karena menahan aib !" kata bu Dwi menunjuk anak - anak Abi.
" Ibu sudah " kata Abi menyuruh duduk bu Dwi.
Nadia masuk kamar, Abi akan mengejarnya, karena, rasa tidak enaknya, tapi di tahan oleh lirikan maut Zha.
Ais mendorong kursi rodanya menuju kamar Nadia lalu mengetuknya.
" Tidak usah ganggu aku !" bentak Nadia.
" Ini aku Ais Nadia !" kata Ais. Nadia semakin kecewa karena yang mengejarnya bukan Abi.
" Mbak Ais senangkan kalau aku di maki ibu mertua kita !" teriak Nadia.
" S s s st. . ! jangan teriak buka pintunya, jangan sampai ibu semakin benci padamu, dengan kata kasarmu padaku " kata Ais lirih di balik pintu
Nadia membuka pintu dengan mata sembab.
" Jika kau ingin mengambil hati ibu, maka berbaktilah pada putranya, karena kak Abi lah yang ia ikuti, di hari tuanya !" kata Ais.
" Ibu tidak mau anaknya di rendahkan di depan nya, jika kau ingin sesuatu, bilang saja, jangan alasan anak, karena anak di dalam kandungan tidak pernah salah " kata Ais.
Nadia menunduk.
" Ayo sudah di tunggu di meja makan !" kata Ais.
" Katanya putri kiayi, seorang gus, tapi apa sopan santun kurang, beda dengan Ais yang notabenya hanya seorang preman pasar, tapi dia bisa menghargai orang tua !" kata bu Dwi mengomel.
" Sudah buk, Nadia juga istriku, dan jangan bahas soal ini di depan anak - anak !" kata Abi.
" Maaf buk !" kata Nadia yang baru datang bersama Ais.
Selesai sarapan Ayu menyirami bunga di taman.
" Bagai mana Yu, sudah dapat info ?" tanya Ais pada Ayu saat Nadia tidak ada di rumah.
" Ada mbak, tapi belum akurat !" kata Ayu.
" Dia belum lulus, tujuanya ingin menikah dengan mas Abi karena ingin cari uang untuk wisuda, dan satu lagi yang terpenting !" kata Ayu menjeda.
" Apa Yu ?" tanya Ais.
" Aku dan Menik, sempat menggeledah kamarnya saat dia sedang mandi dan Ayu menemukan, perut palsu mbak !" kata Ayu.
__ADS_1