
" Mereka, menginginkan kak Abi, karena anak kak Abi yang cerdas, padahal, itu semua berkat dirimu " kata Abi.
" Ya sudah kalau tidak mau dengarin Ais, semoga ini hanya firasat saja, tidak terjadi sesuatu pada kak Abi !" kata Ais.
" Mingkin di mulut ini sudah tidak ada cinta, tapi dalam jiwa, dan diri ini mengungkapkan rasa cinta dan kagumku pada istriku, yang menerimaku dari nol, yang memberiku, seorang anak yang luar biasa " bisik Abi di telinga Ais memeluk erat Ais dari belakang.
" Di saat pelukan itu tidak hangat lagi tapi panas seperti kawah gunung berapi, kau siramilah, dengan air yang meredakan karena jika kau sirami dengan es, maka kulkas di seluruh dunia tidak akan sanggup, ( Jika salah maka ingatkanlah, jangan di diamkan )" itu yang di maksud Abi. Ais mengangguk.
" Ayah, jangan ke pesantren dulu ya ? Zha kangen " rengek Zha pada Abi.
" Tidak bisa sayang, soalnya ini tes terahir, jika sudah ada yang bisa, ayah lepas tangan, mungkin ke sana seminggu sekali, atau srkali " jelas Abi.
" Tidak ada waktukah ayah buat kami ? " rengek Zha pada Abi.
" Besok, ayah janji, tidak akan pergi lagi " kata Abi. Zha bukanya setuju, malah pergi begitu saja dengan derai air mata, sedang Abi geleng ke pala lalu masuk mobil.
Ais mengahampiri anaknya lalu memeluknya.
" Ini tugas ayah nak, kita harus legowo, nanti juga ayah pulang " kata Ais.
" Iya kalau ayah masih ingat pulang !" kata Zha.
Abi berangkat sendirian, karena Ahmad ada halangan.
Hujan begitu deras, saat Abi akan berangkat pulang, sedang Abi sudah berlari di dekat parkiran mobil.
Abi berteduh di teras rumah Nadia, petir menyambar, Abi melihat jam di pergelangan tanganya, sudah menunjukan pukul sepuluh malam.
(" Kak Abi pulang telat di sini hujan deras " )pesan Abi pada Ais.( " Y kak, hati - hati !" )pesan Ais.
(" Anak - anak sudah tidur, tadi rewel tidak ?)" tanya Abi.
(" Sudah, tadi sedikit rewel, karena nunggu, aayahnya !") balas Ais.
Nadia juga habis pulang dari mengajar anak murid, menggantikan abahnya yang masih di luar kota.
__ADS_1
" Minum dulu mas !" kata Nadia memberikan kopi hitam ke pada Abi.
" Tidak usah repot " senyum Abi.
" Tidak menginap saja mas, di gotakan santri pria ?" tanya Nadia.
" Tidak ! Pulang saja, anak dan istri pasti kuatir !" kata Abi.
Abi meminum kopi hitamnya untuk pereda kantuknya. Abi merasakan badanya ada yang aneh, udara dingin tapi tubuhnya terasa panas, hingga Abi membuka kancing kokonya.
" astagfirullah " berkali - kali saat nafsunya tidak bisa ia kuasai, sampai Nadia membawanya ke dalam rumahpun dia menurut saja, seperti orang terhipnotis. Hingga Nadia tanganya mulai nakal menggerayangi tubuh Abi, dan melepas seluruh pakaian yang menempel pada tubuh Abi.
" Tidak ada pria menggoda selain dirimu mas, semua pria tampan hanya murahan, aku rela ku serahlan ke sucianku, asal aku bisa mengandung, anakmu seperti anakmu dari istrimu " gumam Nadia.
Abi mencumbu tubuh Nadia, dengan ganas. Dan menyetubuhinya.
" Kau sangatlah pintar dek, kau rawat tubuhmu hanya untuk aku nikmati, milik kak Abi sampai ngilu, karena sempitnya " kata Abi, yang, ada dalam pikiranya hanya lah Ais.
" Besok lagi jangan seret seperti ini ya, enak yang seperti biasanya " kata Abi.
" Sudah siap dek ?" tanya Abi. Menyetubuhi Nadia dengan brutal, hingga, Nadia pingsan lalu sadar sendirinya, tapi Abi masih merancau kalau itu Ais.
" Kau ke biasaan kak Abi di tinggal tidur " kata Abi.
" Sebegitu cintanya kau sama istrimu, kau menyetubuhiku, bukan iatrimu !" kata Nadia mengeluarkan air mata.
" Kenapa kau tidak agresif kak Abi tidak suka. Kau kalah dek malam ini !" Abi menjatuhkan tubuhnya di dekat Nadia, lalu mengecup pucuk kepala Nadia dan membawa dalam pelukanya.
Saat ayam jago berkokok, Abi merasakan sesak di dadanya dan alangkah terkejutnya, wanita, yang ada dalam pelukanya, bukan Ais dan di lihat sekujur tubuhnya tanpa sehelai benangpun.
" Nadia, apa yang kau lakukan !?" Tanya Abi panik.
" Kau telah merawaniku mas !" teriak Nadia lalu menangis.
" Tidak mungkin ! Tidak mungkin !" kata Abi tidak percaya. Nadia menyingkap selimutnya dan menunjukan darah yang sudah bercampur lendir di kasur. Abi juga melihat alat vitalnya ada darah.
__ADS_1
" Ais !" teriak Abi frustasi sambil mengacak rambutnya.
" Ini pasti jebakan !" kata Abi.
" Tidak mas, ini nyata, hu hu hu hu !" tangis Nadia. Abi memunguti bajunya, dan membawa ke kamar mandi di dalam kamar mandi dia meninju tembok melepas amarahnya .
" Ya allah ampuni hambamu, yang telah veebuat hina ini ya allah, jikalau aku harus di rajam aku iklas !" teriak Abi membuat Nadia panik.
" Mas Abi, kau tidak apa - apa !" teriak Nadia. Abi menahan dadanya semakin sesak, lalu dengan segera memakai pakaianya.
" Adik ! kak Abi, telah meniduri Nadia !" kata Abi di telepon, bagai di sambar petir, tapi masih setia mendengarkanya.
" Tapi kak Abi tidak sadar " kata Abi, lalu menceritakan kronologi ke jadian.
" Kak Abi sudah tidak kuat nafas, kak Abi sesak, jika kak Abi di ambil nyawanya, adek maafkan kak Abi ya ?" kata Abi.
" Kak Abi amankan kopi itu, demi meraih ke adilan adek, ini demi adek kak Abi, pakai pelastik kak, agar tidak terkena sidik jari kak Abi !" kata Ais dengan derai air mata.
Dor. . . .
Dor. . .
Dor. . . Pintu sudah di ketuk kasar oleh orang - orang ramai.
" Hai Abi kau keparat, ternyata ke luguanmu hanya kedok !" teriak Azzam kakak Nadia yang dapat laporan dari Nadia. Tanpa pikir panjang Abi keluar, dan meraih kopi sisa tadi malam walau kondisinya semakin lemah.
Bught. . Bught. . !" k
akak Nadia mengahajar Abi, tapi dengan nafas sesaknya Abi hanya pasrah, sambil menggenggam gelas dan kopi yang ada di dalam pelastik.
" Jangan kak, jangan sakiti mas Abi !" tangis Nadia Abi tersenyum sinis menahan sesak dan sakit di tubuhnya, Nadia di tarik kakak.
" Kau bodoh kau anggap dia malaikat, dia telah merusak masa depanmu !" kata Azzam kakak pertama Nadia Bugh. . ! Prang. . ! Badan Abi terpental jauh dan di depanya, ada empat kaki, tegap gagah memandangnya.
" Jika kau ambil nyawaku, aku
__ADS_1