ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
pernikahan ke dua Abi


__ADS_3

" Kak kita pulang ya ?" tanya Ais setelah Abi selesai makan. Abi menggeleng.


" Kak Abi suami dan ayah yang dzolim, pada kalian !" kata Abi.


" Lebih dzolim kalau kak Abi lama di sini, anak - anak butuh kak Abi, Ais lumpuh, Ais tidak bisa melindungi mereka " kata Ais.


" Kemarin Zha, di kejar, tiga orang preman, untung teman jalananya ada yang lihat, dan mengerahkan pasukanya, dan Intan sekarang sedang sakit, dan selalu ayah yang ia panggil " cerita Ais. Abi meneteskan air mata lagi.


" Ya kak Abi pulang " kata Abi, Ais memeluk Abi. Abi menyambutnya, dan menciuminya.


" Apa rencanamu nak Ais ?" tanya umi Latif saat Abi sedang berpamitan pada abah.


" Ais akan bawa kak Abi ke phisikoater, agar mentalnya kembali semula umi !" kata Ais.


" Kau istri yang cerdas, pantas Abi tidak bisa berpaling darimu. Setelah berpamitan mereka pulang.


" Ayah !" sambut ke tiga putrinya


Abi meraba kening Intan yang panas.


" Kamu panas nak, kita ke dokter ya ?" tanya Abi. Intan menggeleng. " Om Seno sudah ke sini, kata om Seno Intan hanya rindu ayah, " kata Intan.


" Paru - paru Intan, sedkit ada peradangan, paska oprasi itu " kata Ais, pada Abi setelah anak - anak masuk kamar.


" Ayah seperti apa aku ini !" teriak Abi. Ais menenankan Abi.


Setelah dua kali kontrol ke phosikiater, Abi mulai terbit senyumnya, tidak hanya air mata yang jatuh, jika memandang Ais, saat sampai di rumah, sudah banyak tamu menunggu.


Nadia, Ratna umi Kulsum, abah Sukron, dan abah Ridho, Azzam dan Rizky sekeluarga besar Nadia datang, dengan di dampingi abah sukron, kakak dari abah Ridho, pak RT, dan bang Jay, sebagai kades di desa situ .


Setelah di persilakan mereka langsung mengutarakan apa dan tujuan apa datang ke sana sedang bu Dwi menangis.


" Maksud ke datangan kami ke sini mewakili, keluarga adik saya nak Abi dan Ais, kami ingin meminta pertanggung jawaban nak Abi, !" kata abah Sukron sebagai juru bicara.


" Maksudnya pak ?" tanya Ais.


" Nadia hamil " jawab umi Kulsum.


" Selamat !" kata Ais menyalami Nadia.

__ADS_1


" Mbak aku ke sini dengan cara baik, saya ingin anak ini dapat pengakuan, aku janji aku akan menjadi adik madu yang baik !" kata Nadia.


" Terima kasih tapi aku tidak butuh madu, tapi yang aku butuhkan pembantu " kata Ais.


" Abi bisa kau nasehati istrimu ?" bentak umi Kulsum.


" Kulsum duduk !" kata abah Sukron, Kulsum duduk lagi.


" Abah hanya ingin meminta ke ridhoanmu nak Ais, bagai manapun juga anak yang ada dalam kandungan Nadia anak Abi " kata abah Ridho.


" Jika Ais tidak mau, Ais tidak akan rela berbagi suami, dari awal saja, cara Nadia tidak di ridhoi allah, apa lagi saya. jika kak Abi mau tidak masalah, asal dia siap di benci anaknya yang bernasab, dan memperjuangkan anak yang tidak bernasab !" kata Ais.


Abi yang dari tadi diam menarik Ais dalam pelukanya dan menangis lagi.


" Anda semua, tidak tahu bagai mana perjyanganku, menyembuhkan kak Abi trauma, dari perbuatan Nadia, sekarang anda rusak lagi mentalnya !" kata Ais.


Perundingan ini tidak memberikan titik temu, karena ke jawaban Ais yang berhasil mematahkan kata - kata para ulama, Ais, di kasih waktu sampai besok untuk berpikir. Dan ahirnya mereka pamit pulang, saat di depan pintu Nadia bertemu Zha, Intan dan juga Ega.


" Hai anak manis ?" sapa Nadia.


" Tante siapa ?" tanya Zha.


" Tidak mungkin, ayah tidak mungkin menyakiti mama !" bentak Zha dengan bercucuran air mata.


" Ayah, ayah jahat, ayah menyakiti mama lagi, ayah kejam !" kata Zha memukul perut Abi.


" Zha dengarin ayah nak ?' teriak Abi.


Bruak,!


pintu kamar Zha di banting. Intan dan Ega yang ada di belakangnya, buang muka pada Abi. Abi mengusap wajahnya prustasi.


" Belum jadi istrimu, sudah merusak mental anak, apa lagi jadi istrimu, kau akan lupa padanya karena hasutanya mulus, bagau sutra " kata Ais.


" Kita berunding dulu dek, mumpung ada bang Jay dan Farhan " kata Abi. Ais mengangguk.


" Jika kak Abi mau menikahi Nadia aku lepaskan seperti perjanjian kita, kak Abi hanga keluar membawa baju yang di pakai, jika kak Abi mempertahankan, tidak perlu aku tapi anaknya, yang bernasab denganya, maka Ais siap, kalau kak Abi bertanggung jawab biaya, anak yang di kandung Nadia hingga tujuh belas tahun !" kata Ais.


" Aku tidak mau ke hilangan Ais dan anak ku dan adek Ais, dia anak bernasab denganku, tidak hanya karena harta semata, karena aku lebih memcintai mereka, dari pada Nadia yang baru datang dalam ke hidupanku, aku selalu ingat pesan adek, khilaf itu sekali, jika ke dua kali bukan kehilafan, tapi ke nikmatan !" kata Abi tegas.

__ADS_1


" Kalau gitu besok kita itu jawabanya " jawab Farhan. Jay mengangguk.


" Ya itu sebelum anak Nadia lahir, kalau sudah lahir apa masih sama ?" tanya Ais.


" Dek apapun yang terjadi jangan pernah tinggalkan kak Abi " kata Abi mencium tangan Ais dengan derai aiar mata.


Ke esokan harinya keluarga Nadia datang lagi, dengan Nadia sudah ber dandan cantik, berkebaya pengantin, tapi salah satu kakaknya tidak ikut, di gantikan dengan tiga orang yang sepertinya aparat dari sana, dan salah satu pengurus pesantren.


" Bagai mana Ais jawabanya ?" tanya abah Ridho.


" Tidak ya tetap tidak !" kata Ais


" Aku siap bertanggung jawab pada anak yang di kandung Nadia, tali tanpa harus menikahinya, aku akan menafkahinya hingga dia kuliah, tanpa harus menikahi Nadia." kata Abi


. Lalu ponsel Abi berbunyi dari nomor tidak di kenal. Abi mengabaikanya, tapi nomor itu mengirim sebuah vidio, di mana teedapat Intan di sekap, dengan nafasnya yang kambuh tanpa membawa inheler.


" Jika kau tidak menikahi adikku, maka jangan salahkan aku jika anakmu aku bunuh, walaupun aku akan masuk penjara, tapi kau akan kehilangan satu nyawa yang kau perjuangkan " ancam Azzam kakak Nadia. Abi dilema.


" Dek !" tangis Abi. Sekeluarga memandang Ais. Setelah berunding begitu pelik dengan penculik Intan, maka Ais mengiyakan, tapi ada beberapa syarat.



Jika kak Abi dengan putrinya jangan pernah di ganggu.



2 . Kak Abi keluar dari rumah tanpa membawa apapun, dan memulai dari nol lagi.


3 . Kak Abi tetap milik Ais dan anaknya.



Jangan berharap harta yang di dapatkan dengan Ais, bisa ikut menikmati



5 Dan seterusnya hingga sepuluh syarat yang di tulis Ais, Nadia meng iyakan, pikirnya mungkin itu hanya gertakan, belaka.


.

__ADS_1


__ADS_2