
" Bukan cuman aku tapi banyak, dan putri kiayi pun ikut menaksirnya suara indah dalam melantunkan al qur'an, tampan dan lembut, kita terahir bertemu saat dia belum menikah dia juga datang waktu kita menikah !" kata Ayu seperti meremehkan Ais.
" Resiko punya suami tampan !" gumam Ais.
" Terus ada apa mbak Ayu panggil saya, mau bertanya, kabar suami saya, orangnya lagi merana !" kata Ais.
" Tidak mbak, aku hanya, kalau mas Abi ada lowongan pekerjaan, suamiku ingin daftar kerja !" kata Ayu langsung menunduk dengan tatapan tajam Ais.
" Cuman itu, datang saja ke rumah, rumahnya belum pindah " kata Ais.
" Ternyata benar, apa yang di kata orang, mas Abi menolak lamaran putri kiayi, malah dapatnya !" gumamnya yang masih terdengar Ais yang sudah membalikan badanya.
" Perempuan preman !" kata Ais.
" Tidak, tidak mbak !" kata Ayu ke takutan
" Preman atau bukan itu tentang hati dan perasaan " kata Ais.
" CINTAILAH PASANGANMU DENGAN KEKURANGANYA, MAKA KELEBIHANYA ADALAH BONUSNYA " kata Ais sambil pergi.
Ayu masih mematung, merasa bersalah dengan kata - katanya.
Suasana sudah sore Ais membawa tiga putrinya pulang, Intan walaupun sakit masih terlihat sumringah.
" Kalian suka ?" tanya Ais, di dalam mobil.
" Suka banget ma, kapan kita ke sini lagi, bisa punya banyak teman, dari pada di rumah sama Vino nakal !" kata Intan.
Deg. . ! hati Ais terasa nyeri.
" Kita bisa ke sini kapan saja !" kata Ais, dengan senyum.
" Terima kasih mama !" kata Intan.
" Iya sayang " jawab Ais.
" Kenapa Intan tidak ngomong sama ayah, kalau dada intan sering sakit ?" tanya Ais.
" Ayah sibuk ma, tambah lagi Vino, mintak di manja ayah, Intan jadi kasihan sama ayah, sampai tidak ada,waktu untuk kita !" kata Intan.
Sesamainya di rumah.
Lula, dan Norma ngobrol bersama di sofa, sedang Abi masih bercanda dengan Vino anak Norma, membuat ke tiga buah hatinya cemberut, setelah menyalami, mereka masuk kamar, Ais menyalami Abi dengan cuek, dan Abi menarik Ais dalam pelukanya.
" Dari mana saja dek ? apa pantas seorang istri pergi tanpa pamit ?" kata Abi di depan dua wanita yang mencintainya, bicara kasar dengan Ais, membuat Ais murka .
" Kak Abi sayang, bukanya tadi pagi aku sudah pamit, bukanya saya yang tanya, apa pantas seorang suami berkata kasar pada istri di depan gundiknya !" jawab Ais membuat mata Abi melebar sempurna.
__ADS_1
" Kak Abi, Aisyah, istri sahnya Abi manyu jadi perempuan terhormat dari pada dua G u n d i k ini !" kata Ais.
" Ais, apa an kamu, kenapa kamu selalu memandang rendah aku ?" tanya Lula.
" Maling tidak akan teriak maling lLula ! " jawab Ais. Lula naik darah mengangkat tanganya.
" Heh, kalau kau berani, aku bisa adukan kamu ke polisi " Ancam Ais.
Lula, langsung menarik tasnya dan melengos pulang.
"dek jawab pertanyaanku tadi ?" tanya Abi.
" Kalau kak Abi percaya padaku, aku akan menjaga, tapi kalau kak Abi sudah tidak percaya, aku juga bisa " jawab Ais.
" Di saat sang suami di coba kesetiaanya, dari situlah sang istri jadi tamengnya, dan pengingat " kata Abi.
" Ais sudah lelah kak, Ais sudah lelah, Ais berusaha tapi yang Ais jaga tidak mau menjaga, malah memasukan pernyakit ke rumahnya !" Kata Ais.
" Ais jiga tahu, surga Ais di bawah telapak kaki kak Abi, tapi kenapa kak Abi tidak bisa menjaga surganya " kata Ais.
" Maksudmu apa dek?" tanya Abi.
Ais berlari menuju kamar, dan menutup kasar, Abi mengikuti sambil berlari juga, sampai di kamar Ais langsung masuk ke kamar mandi. langsung mengguyur tubuhnya tanpa melepas baju.
Abi masuk langsung melihat amplop coklat, bertuliskan dari logo rumah rumah sakit.
" Ada apa dengan Ais ?" pikir Abi.
Ais keluar dengan mata sembab, dan tanpa memandang Abi.
" Dek. . !" panggil Abi tapi Ais hanya diam memakai daster dan keluar menuju kamar anak.
Ais memeluk Intan yang begitu pucat.
" Kau harus kuat sayang !" kata Ais.
" Mama sudah order, makanan yang kamu pinta terus minum obat ya ?" tanya Ais, dan di angguki Intan.
Abi melihat dari balik pintu, dengan meneteskan air mata.
" Dia pulang untuk anaknya, bukan untukmu, maka jangan kasari dia, karena se ekor lebah yang hinggap, bila terusik maka dia akan bawa pergi rombonganya, seperti halnya Ais, jika dia sudah tidak nyaman denganmu, maka kau tidak hanya kehilangan istrimu, tapi semua anakmu " kata Arman dari belakang Abi.
" Intan mengidap leokimia mas !" jawab Abi membuat Arman terkejut.
" Maksudmu ?" tanya Arman.
Abi mengulurkan kertas yang di bawanya tadi.
__ADS_1
" Kenapa aku selalu kalah dengan Ais, aku suami dan ayah yang tidak berguna !" kata Abi langsung bersender di tembok sambil menangis.
" Kau jangan menyerah, yakinkanlah Ais, kau masih mencintainya !" Kata Arman.
" Mas, kak Abi ?" kata Ais yang baru keluar dari kamar anak - anaknya melihat Arman dan Abi yang duduk di lantai.
" Ais !" kata Arman yang kaget dengan datangnya Ais.
Ais langsung berlalu pergi menuju depan, sepertinya ada yang di tunggu, saat kemudian melihat ke dapur melihat Norma akan makan bersama anaknya dengan makanan yang di order Ais, membuat Ais mengepalkan tanganya.
" Mbak tolong ambil Vino dari sana !" kata Ais pada Reina.
Reina tahu, kalau Ais sedang tersulut emosi, karena Reina tidak pernah melihat wajah cantik Ais memerah sempurna, seperti naga yang akan menyemburkan laharnya.
Reina segera mengangkat Vino, anak yang sekitar umur empat tahun itu, sempat ada penolakan dari Norma, tapi saat Ais sudah ada di depanya Norma jadi diam.
" A n j i n g. . ! inilah didikan pak Idis !" teriak Ais.
Prang. . ! Ais membanting mangkuk yang berisikan opor ayam.
" Kenapa kau ganggu aku makan, apa salahnya aku makan Ais !" tanya Norma.
" Aku adalah tamu, tamu adalah raja !" bentak Norma.
" Kau hanyalah seokor b a b i yang memangasa tanaman petani !" kata Ais.
Brak.
Norma yang belum siap mendapatkan serangan dari Ais, langsung jatuh ke bangku.
" Mbok, tolong panggilkan Abi sama mas Arman !" kata Reina pada mbok Darmi.
" Baik mbak !" jawab mbok Darmi. Lalu berlari.
Belum sampai Norma bangkit, Ais sudah menarik rambutnya dan mengarahkan wajah Norma ke lantai pada sayur opor tadi.
" Kau pantas makanya seperti ini, kau tidak jauh dari bi nat ang !" teriak Ais.
" Dek cukup, kita bisa beli lagi !" teriak Abi sambil memeluk Ais daro belakang.
" Beli soal gampang, tapi ini masalah harga diri, dulu aku terima Norma aku kau tindas, hanya ingin makan daging ayam harus menunggu sisamu dam bapak, tapi aku tidak akan terima anaku juga harus kau tindas " teriak Ais, yang sudah lepas dari pelukan Abi.
Brak. . !
Ais mendorong Norma hingga pelipisnya, membentur bangku dan tidak sadarkan diri.
" Bangun kamu Norma, tidak usah cari perhatian suamiku !" bentak Ais.
__ADS_1
" Cukup Ais, dia sudah tidak berdaya !" bentak Abi, tapi Ais hanya tersenyum sinis.
" Angakat dia kak bawa ke rumah sakit !" suruh Ais sambil menunjuk Norma dengan senyum yang sulit di artikan.