ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
Aku tidak akan menyerah


__ADS_3

Aku tidak akan menyerah


******


Lula, masih terus memandang Ais dan Abi, Reza yang habis mengangkat telepon seketika panik.


" Ada apa Za, kok panik gitu ?" tanya Ais pada sahabatnya.


" Anaku sakit Ais, aku bingung di sini masih rame, tambah lagi ada karyawan baru masih harus trining " jawab Reza tidak enak.


" Keluarga segalanya uang bisa di cari, tapi keluarga yang setia sampai mati mendampingi " jawab Ais.


" Tapi Ais ?" kata Reza terputus.


" Sudah, mumpung bukbos masih baik " kata Abi.


" Tuh " Kata Ais sambil menunjuk ke arah Abi yang mengangkat kunci mobil.


" Terima kasih bro, kau memang selalu sahabat sejatiku tanpa kamu entahlah " kata Reza sambil mengambil kunci mobil yang di lempar Abi.


" Aku tahu anakmu tidak cuman satu, jadi nanti ribet kalau bawa motor " kata Abi.


" Semoga lekas sembuh anakmu Za? " kata Ais pada Reza yang berjalan keluar.


" Terima kasih " jawab Reza sambil berlalu menuju mobil Abi.


Lula yang menonton, jadi tambah greget sama Ais.


" Kita pindah tempat ya ? ke resto yang satunya ?" ajak Abi pada keluarganya.


"Ais menggandeng tangan Abi saat keluar cafe.


' Aku tidak akan menyerah Ais, Abi akan kembali ke pelukanku ' gumam Lula, sambil mengaduk kuah, sampai kuahnya muncrat keluar.


" Auww " Teriak Lula.


" Ha ha ha ha " tawa para pelanggan melihat tingkah Lula.


*******


Setelah sampai di cafe satunya Ais memulai pembicaraan dengan adik - adiknya.


" Bagai mana Ris, Rin ? apa kamu berminat dengan membuka seperti ini ?" tanya Ais.

__ADS_1


" Setiap orang pasti minat mb, dengan hasil yang menggiurkan ?" jawab Risa.


" Tapi modalnya ?" sambung Rita.


" Kalau gitu gi mana kalau kita bagi hasil ?" tanya Ais.


" Maksudnya . . . !? sahut Ato sama Edi bebarengan.


" Gi mana mettingnya di dalam saja biar enak " kata Abi pada adiknya.


" Okelah, " semua setuju dan menuju meja besar.


Semua telah masuk dan berkumpul di meja besar.


" Maksudnya, kaluan igin punya penghasilan tanpa modal kan ?" tanya Ais.


" Ya pastilah mbak ?" jawab Risa.


" Tapi mana bisa mbak ?" tanya Edi.


" Caranya, kami membuka cabang di tempat kalian dan kalian yang menjalankan. dan penghasilanya kita bagi tiga, yang pertama kita ambil modal yang kedua kita bagi dua. gi mana ? tapi di ambil modal yang pertama harus setengahnya, karena kita harus membangun rukonya atau mau ruko sewa ?" tanya Ais.


" Kalau tidak sistim bulanan seperti karyawan ? gi mana ? tapi seluruh penghasilan miliku resiko juga masuk di aku, aku hanya membayar kalian " lanjut Ais.


" Enaknya gini mbak, kalau mbak mampu, bagai mana kalau kita beli tanah se rukonya, nanti kita yang menjalankan. kita bisa bantu dikit dengan menjual tanah sepetak kita buat beli tanah mbak Ais dan mas Abi tinggal bangun ruko ? dan cari tempat yang strategis, karena mbak Ais bisa menyesuaikan temanya ? " usul Edi.


" Iya, karena aku tidak mampu modal awal juga mbak ?" kata Edi.


" Kalau kamu Ris, Ato ?" tanya Ais pada Risa dan Edo.


" Kalau kita inginya sistem bagi hasil juga tapi kita tidak punya apa - apa ?" kata Ato.


" Kalau gitu gini saja, kita sistem bagi hasil tapi hasilnya lebih banyak ke mbak, sampai pelunasan tanah itu, nanti kalau sudah lunas, kita bikin normal ?" kata Ais.


" Baiklah mbak, kita setuju " kata Risa dan Ato bebarengan.


" Kalau gitu kita deal. . . !" Ucap Ais pada kedua pasang adiknya.


" Deal mbak " bebarengan.


" Nanti biar kak Abi yang nyurfai tempatnya ?" kata Ais.


" Aku tidak bisa sendiri lah dek, kau otak dari senua ini ?" kata Abi mengeluh.

__ADS_1


" Nanti kita akan cari waktu untuk menyurvai tempatnya !" kata Ais.


" Dan Risa, Rita kalian harus kursus dulu bikin bakso dan masak yang enak pada mbakmu, biar laris " tegas Abi.


" Kan aku sudah bisa bikin bakso ?" kata Risa dengan sombong.


" Itu dulu, tanpa ada varian seperti sekarang " kata Abi.


Lalu seorang pelayan menunjukan semua menu yang saat ini tengah buming.


" Emang apa bedanya bakso dulu sama sekarang kak Abi, cuman bedanya dulu tidak sebesar ini ?" tanya Risa.


" Coba makan dulu, jangan protes dulu ?" tegas Abi.


Semua mencicipi bakso dengan varian rasa, benar berbeda.


" Bagai mana ?" tnya Abi.


" Iya kak Abi, emang beda - beda ?" kata Risa.


" Nah itu semua namanya sendiri - sendiri " kata Abi.


" ya sudah nanti biar mbakmu yang jelasin di rumah sambil belajar " kata Abi.


" Kalau ngajarin kalian kayaknya tidak susah karena sudah pernah bikin bakso sendiri " kata Ais.


" Karena aku sendiri jarang memegang pembuatan bakso, semenjak mengrekrut karyawan pembuat bakso " jelas Ais.


" Terus kok bisa bikin bakso seenakini ?" puji Ato.


" Ya pakai otak saja, terus aku terapkan pada karyawan, setelah semua paham paling mbak cuman ngecek, rasa, kerapihan, kebersihanya " jelas Ais.


" Jadi mbak Ais tidak pernah berkecimpung lagi pada pembuatan bakso ?" tanya Edi.


Ais menggeleng.


" Mbakmu hanya kakak kasih tugas, ngurus anak sama ngurusin kakak saja " jawab Abi.


" Dasar kak Abi, tetap saja bucinya, sudah anak tiga juga " kata Risa.


" Bucin sama istri srndiri tidak haram, malah di sunahkan " jelas Abi.


" Terus mbak kalau tukang maksanya masih tidak mbak ?" tanya Risa pada Ais.

__ADS_1


" Ya pasti masihlah, emang sikapnya gitu " jawab Ais.


" Ha ha ha ha . . .! tawa semuanya


__ADS_2