ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
Kesalahan Ais


__ADS_3

Semua anak turun, dan Abi menurunkan Ais ke kursi roda.


" Ais haus kak !" kata Ais.


" Biar kak Abi cari minum ya ?" kata Abi.


Mereka memasuki koridor rumah sakit dengan pelan.


" Bapak sabar ya, Ais pasti datang " kata Jay, menggenggam erat tangan pak Idris.


" Ais maafkan bapak nak, Ais, Ais !" kata itu yang terus keluar dari mulut pak Idris dengan mata terpejam.


" Assalamualaikum !" salam dari anak - anak Ais.


" Bapak, ini Ais, bapak !" panggil Ais dengan beelinang air mata.


" A ais kau Ais nak " kata pak Idris, bibirnya mulai membentuk bulan sabit.


Pak Idris, berusaha bangkit, dan Abi membantunya.


" Bapak yakin kau akan datang, bapak percaya pada Abi, dia mampu membimbingmu, dan menghilangkan traumamu " kata pak Idris. Ais mengangguk.


" Maafkan bapak nak maafkan bapak !" tangis pak Idris pecah.


" Ais yang salah pak !" kata Ais.


" Kau bebar, kau tidak salah, jika kau tidak seperti itu, mungkin bapak masih menindasmu " kata pak Idris mengingat masa lalu.


" Bapak, bapak semangat ya, ? bapak pasti sembuh, kita mulai hidup kita sama - sama, jangan bedakan anak Ais, walau anak Ais perempuan !?" kata Ais tapi pak Idris menggeleng.


" Bapak hanya minta, sama kamu, tolong terima seluruh sertifikat itu, itu hak kamu, kakakmu sudah bapak kasih, semua masing- masing berupa satu tancap bangunan, dan semua milikmu, karena yang buat menebus itu uang kamu " kata pak Idris.


" Mau buat apa pak, sedang Ais sekarang punya segalanya ?" tanya Ais.


" Itu jerih payah kamu nak, bapak merasa dosa bapak begitu besar denganmu karena kau tidak mau menerima semua itu, dan bangunan yang di tempati ibu itu punya kamu juga, bapak hanya titip ibu, jika tanah yang didirikan itu saya kasih Norma, bapak takut, di jual, dan ibumu akan tinggal di mana !" kata pak Idris.


" Dan ini perhiasan, yang bapak kumpulkan dari hasil sawah, ini hak mu nak !" kata pak Idris


" Ais iklas kok pak !" kata Ais menolak, tapi Abi memberi isyarat dengan menganggukan kepala, karena melihat pak Idris, sudah sesenggukan.


" Ais terima pak !" kata Ais.

__ADS_1


Seketika nafas pak Idris tersengal.


" Pe lu k ba ba pak, nak, un tuk per tama dan yang ter a hir !" suara pak Idris terputus putus.


Abi membantu Ais berdiri dan pelukan pertama Ais pada pak Idris, dengan air mata bercucuran.


" Ba hiks ba pak, jangan bi hiks bi lang seperti itu, bapak sehat ya hiks hiks, kita mulai hidup dari awal hika, hiks cucu bapak ingin di peluk bapak hiks hiks hiks " kata Ais sambil menangis.


Nafas pak Idris semakin berat, dan pelukanya terlepas, dari tubuh Ais.


" Dek !" Abi menopang tubuh Ais dan mendudukan di kursi Roda.


Mata pak Idris sudah membeliak, tangannya sudah merentangkan.


" Laila ha ilallah, muhammadarosullulah !" bisik Abi di telinga pak Idris hingga berkali kali.


" Ina lilahi wainailaihi rojiun !" kata Abi.


Semua tangis pecah, lalu Jay menghubungi Arif, untuk mengabarkan kakeknya meninggal dan memvawa ibunya ke mari


Abi mengurus ambulan untuk membawa bapak ke rumah duka.


Sesampainya di rumah duka, semua anak Abi berwudlu, dan memegang al kur an masing - masing, sedang yang Zayn, dan Zidan rewel terus.


" Bi Menik coba kau buatkan susu !" suruh Ais.


"Sini Zayn nya Ais pegang !" kata Ais


" Ngerebusnya di mobil saja ya, soalnya ini masih rame " kata Menik. Ais mengangguk, sambil menciumi Zayn, dengan bercucur air mata. walaupun sejahatnya seseorang, menoreh luka, yang sakitnya bagai api neraka tapi jika ke hilangan pasti akan sedih. .


Setiap perbuatan jelek pasti akan ada penyesalan. Seperti yang di alami Ais, kenapa tidak dari dulu ia memaafkan bapaknya, ? kenapa baru dia sudah mau meninggal, mengakui ke salahanya.


Ais masih tergugu, Abi yang masih sibuk, mengurus jenazah, mengahampiri Ais.


" Bang aku samperin, Ais dulu, takut terjadi sesuatu !" kata Abi pada Jay, Jay mengangguk.


" Dek, !" panggil Abi langsung memeluk Ais, yang masih memangku putranya.


" Ais jahat kak, Ais bukan manusia, Ais hanya se ekor srigala, yang tidak pernah memberi ampun pada lawan yang sudah tidak berdaya !" teriak Ais.


" Tenangkan dirimu, dengan cara seperti ini, bapak hilang rasa sakitnya !" kata Abi.

__ADS_1


" Bapak sakit karena Ais kak !" kata Ais.


" Jangan aalahkan dirimu sendiri bapak nanti sedih. Ais harus tahu, bapak masih di sini, masih memperhatikanmu, karena jasadnya masih belum di ke bumikan, jadi jangan menyalahkan dirimu terus, bapak nanti tambah sakit, kita harus bisa memaafkan kesalahan bapak " kata Abi. Ais mengangguk.


" Kak Abi urus jenazah bapak dulu ya, kau jaga baik - baik di sini ?" kata Abi Ais mengangguk.


" Berdoa, dan jangan menangis " kata Abi dan masih di tanggapi dengan anggukan.


Setelah selesai mengurus jenazah, malamnya, Abi berniat, menginap, sampai tujuh malam.


" Rumah bapak sempit kak, " kata Ais.


" makanya, jadi orang jangan nganak terus, dan tambah lagi sok bawa baby sister lagi " semprot Norma.


" Norma jaga adabmu !" bentak Jay.


" Mama, Zha dan adik besok biar pulang dengan om Faris, dan tante Ayu " kata Zha.


" Kenapa nak ?" kata Ais.


" Anakmu merepotkan !" kata Norma.


" Cukup, ini sedang berkabung, jangan kau cari masalah Norma !" bentak bu Naya.


" Bela terus anak pembawa sial itu !" kata Norma sambil pergi menghentakan kakinya.


" Malam ini biar kita tidur di mobil, pasang spring bed, biar di jaga tante Ayu " kata Intan Ais mengangguk, tapi seketika membeliak.


" Apa kalian bawa kasur ?" tanya Ais.


" Atah tadi pagi sudah siapkan semua " kata Intan.


Selama seminggu juga Abi dan Ais menginap di sana tanpa anak - anak.


" Vino baik - baik ya di rumah, nanti bunda bantu cari dokter terbaik untuk kemo therapaht kamu " kata Ais.


" Terima kasih bunda, Vino tidak ada lagi harapan sembuh, karena kanker Vino sudah stadium 4 " kata Vino sambil memeluk Ais.


" Tidak ada yang mampu menahan ketentuan allah, yang terpenting Vino berusaha, kun fayakun " kata Ais Vino mengangguk pasrah.


Setelah itu mereka pulang

__ADS_1


__ADS_2