ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
kotak pensil


__ADS_3

" Ya cobak bayangkan saja, dia pergi dari rumah dua bulan, dan baru di rumah berapa hari sudah hamil, coba bayangkan ibu - ibu !" kata Lula masih lanjut.


Semua yang melihat Ais datang, hanya diam karena di beri isyarat Ais untuk diam jari telunjuknya di depan bibir.


" Kok bodoh sekali Abi ya ?" kata Ais.


" Emang bodoh, dan saya dengar dari Reza, teman Ais, di sana banyak cowoknya, mungkin tidak hanya satu cowok yang menghamilinya " kata Lula.


" Kok bisa gitu ya ?" tanggapan Ais santai sambil duduk di dekat Lula, membuat Lula sadar siapa yang jawab.


" Ais ! sejak kapan kamu di sini !?" tanya Lula dengan wajah memerah menahan malu.


" Sejak kau buka pidato " kata Ais santai.


" Ha ha ha. . !" tawa semua.


" Makanya Lula, jangan tukang ghibah !" kata Irma istri Reza yang ikut gabung.


" Kau dulu sebar gosip, Ais sudah hamil menikah sama Abi, ternyata Reina menceritakan hal konyol malam pertama Ais, kau sering ghibahin Ais, sampai kau jebak Abi, kau ya memang tidak ada kapoknya, cari masalah dengan Ais " kata Z.


Lula, wajahnya merah padam menagan malu.


" Ais permisi ibu - ibu, silakan di terusin ghibahnya, maaf ganggu " kata Ais lalu pergi dengan senyum.


" Ha ha ha. . Lihat Bi istrimu " tawa dan teriakan Reza pada Abi melihat tingkah konyal vidio yang di kirimkan istrinya.


" Tidak ada hentinya, istrimu itu bikin tingkah konyol !" kata Reza. Abi memijit pelipisnya, " Kenapa kamu Bi ?" tanya Reza yang tahu kegelisahan Abi.


" Aku juga bingung Za, anak yang di kandung Ais anak siapa, ? Kini juga dia berubah tidak seperti Ais yang dulu penuh perhatian !" kata Abi.


" Kau yang sabar Bi, kau selidiki dulu kebenaranya !" kata Reza.


Abi mengangguk. Di pagi hari yang cerah, tapi tidak dengan wajah Ais yang pucat.


" Dek kita ke dokterya ?" tanya Abi. Ais menggeleng.


" Kenapa sih dek kau selalu menghindar, tapi biasanya kau ke dokter sendiri, apa yang kau tutupi dariku ?" tanya Abi.


Ais hanya menggeleng. Ais berusaha kuat dan bangkit, dan ikut sarapan, tapi perutnya tidak bisa menampung apapun.


" Ais hanya ingin masakanya kak Abi !" seketika semua jadi bingung.


" Coba Abi kau yang masak, kasihan siapa tahu, anak kamu hanya mau masakan ayahnya !" kata bu Dwi.


Abi tidak banyak protes, dan bangkit dan memasak apa yang dia bisa, ternyata benar, anak itu hanya mau masakan Abi.


" Manja banget !" kata Abi.


" Kalau tidak iklas ya sudah aku juga bisa memuntahkan lagi " kata Ais. Lalu lari ke kamar.

__ADS_1


" Abi kehamilan itu berbeda - beda, jangan samakan kehamilan yang ini, Ais mandiri seperti ke hamilan anakmu yang lain " kata bu Dwi.


" Huek huek !" Ais memuntahkan makananya dengan sengaja.


Abi lari, dan Ais keluar kamar.


" Maaf, aku menyusahkanmu, aku tidak akan manja lagi " kata Ais lalu pergi mengantar anaknya sekolah. Abi mengacak rambutnya.


" Udah, kamu sukakan kalau dia mandiri ?" kata bu Dwi.


" Ais berubah buk " kata Abi.


" Itu karena kamu kurang tegas, dan bodoh !" kata bu Dwi.


" Aku rindu Ais yang dulu !" kata Abi.


" Ibu juga, aku rindu dengan menantu ibu yang cerewet !" kata bi Dwi sambil berlalu pergi.


" Dek kenapa kamu pulangnya selalu sore sih ?" tanya Abi halus, saat Ais baru masuk kamar.


" Ais hanya tidak ingin merepotkan kak Abi !" jawab Ais.


Lalu pergi ke kamar mandi dan menguncinya, kadang kalau Ais di kamar, jarang Ais mengunci kamar mandi.


" Nak bertahanlah, hanya kamu harapan mama !" kata Ais yang menahan rasa sakit di perutnya. Satu jam Ais di kamar mandi ternyata menahan rasa sakit, sampai pingsan di bawah guyuran shower.


" Dek . . ! Dek . . !" panggil Abi sambil menggedor pintu karena panik.


Ais keluar dengan wajah pucat.


" Aku diare, tapi tidak ada yang di keluarkan " kata Ais memberi alasan pada Abi.


" Kita ke rumah sakit ya ?" tanya Abi.


" Besok saja, ini sudah malam lagian juga Ais bisa sendiri !" kata Ais.


" Aku masih suamimu Ais !" kata Abi sambil menyiapkan baju istrinya.


" Tidak usah perhatian, itu bisa membebani kak Abi !" kata Ais dan meraih mukna melaksanakan sholat magrib.


...****************...


" Jangan Vino !" teriak Intan.


" Ini bagus Intan, buat aku saja, nanti kamu beli lagi !" teriak Vino.


" Jangan Vin, ini hadiah dari mama !" teriak Intan lagi.


" Om Abi pasti bolehin !" teriak Vino.

__ADS_1


Abi yang mendengar keributan di kamar anaknya lalu menghampiri.


" Ada apa ini ?" tanya Abi.


Intan langsung beringsut takut memandang ayahnya.


" Ya Vino itu buat kamu " kata Intan sambil bergetar tanganya, dan lari ke pojokan kamar karena takut.


" Huks huks huks !" tangus Intan yang di tahan.


Belum sempat Abi bertanya, Zha masuk.


" Kakak . . huks, huks !" tangis Intan pecah, dan berlari memeluk Zha. sesenggukan membuat Zha bingung.


" Ada apa dek, kan ada ayah ?" tanya Zha tapi Intan masih belum bisa bicara, masih sesenggukan.


Zha melihat, kotak pensil Intan di tangan Vino, sedang Vino hanya tersenyum. Zha menghampiri masih dengan tangan Intan di pinggangnya. Zha merebutnya dan mendorong Vino.


" Zha. . !" panggil Abi yang berlaku kasar pada Vino.


Tapi Zha tidak bergeming, memberikan kotak pensil itu pada Intan dan memeluknya erat.


" Jangan sakiti adiku ayah, pukul kakak, kalau ingin pukul " kata Zha sambil menenggelamkan wajah Intan di dadanya.


" Ayah tidak akan pukul kalian, ayah hanya ingin tahu apa yang terjadi ?" tanya Abi.


" I i ni kotak pensil huks huks dari mama ulang tahun In intan yah !" kata Intan masih sesenggukan.


" Mama tidak pernah merayakan ulang tahun kalian, tapi asal kalian tahu, mama sayang sama kalian, dan mama hanya punya kotak pensil berharga ini untuk Intan di ulang tahun Intan ini, kau tahu, hanya kotak pensil ini yang bisa terwujud di harapan mama, mama berusaha beli ini harus bersusah payah, jadi mama harap anak mama, bisa mencapai harapan yang di inginkan "


" Dan asal Intan tahu, harga kotak pensil ini, dulu hanya lima puluh ribu, mungkin sekarang lima ratus ribu, tapi tidak ada barangnya, ini walaupun di injak, di banting tidak akan pecah seperti mama mempertahankan kalian " kata Ais saat ulang tahun Intan.


" Terima kasih mama " kata Intan.


" Maafkan ayah sayang !" kata Abi.


Tapi Intan masih takut dan masih di dada Zha.


" Tidur dek " kata Zha.


" T tapi kakak, jaga ko huks huks kotak pensil adek " kata Intan, Zha mengangguk.


Ais datang, dan mendapati dua putrinya, tidur siang dengan memeluk satu kotak pensil.


Ais melihat ada yang aneh pada Intan, dalam tidurnya masih sesenggukan, dia mengelus kepala Intan.


" Mama huks huks !" Intan terbangun dan langsung memeluk Ais.


" Jangan pernah tinggalin Intan !" kata Intan.

__ADS_1


Zha ikut bangun dan menjelaskan.


__ADS_2