ISTRI ANTI PELAKOR

ISTRI ANTI PELAKOR
hilangnya dua putri Abi


__ADS_3

" Ais harus kemana lagi aku mencarimu ?" kata Abi frustasi, mengacak rambutnya di dalam mobil karena sudah berulang kali mencari Ais, tapi tidak ada tanda - tandanya, bagaikan hilang di telan bumi. **


" Aku yakin Jay, Abi tidak melakukanya !" kata Arman pada Jay.


" Tapi mana buktinya, kalau dia kelamaan, bisa - bisa Ais masuk ke jalanan " kata Jay.


" Maksudnya ?" tanya Arman.


" Kau tahu, Ais bisa hidup di mana saja, dia bisa di jalanan, di club jiga bosa, dia bisa kembali ke wine Arman " kata Jay membuat mata Arman membulat sempurna.


" Apa Ais salah satu pecandu wine ?" tanya Arman dan di angguki Jay dengan nada lesu.


" Kita harus cari dia Jay!" kata Arman menggoncangkan bahu Jay.


" Tanpa kamu suruh, aku sudah berusaha !" kata Jay.


...****************...


" Hua hua hua. . !" suara tangis Ega di dapur, Zha yang masih di kamar, langsung menghampirinya, Abi menyusul. sedang Lula, sudah berada di sana duluan.


" Yang besar itu mengalah, jangan serakah !" bentak Lula pada Intan, menengahi peetengkaran keduanya, karena es krim buatan Ais yang hanya tinggal satu.


Intan yang sifatnya seperti Abi, hanya turun dari bangku, dan akan pergi menjauh sambil meneteskan air mata, tapi Zha menghampirinya, dan menggandengnya duduk di bangku lagi menghampiri Lula yang masih mengelus kepala Ega.


" Kakak juga mau, kita makan bersama ya ?" kata Zha menengahi ke dua adiknya, membuat Intan tersenyum, saat Ega menyerahkanya untuk makan bersama.


" Yang besar tidak harus mengalah tante, tapi yang besar, harus lebih bijak !" kata Zha sambil melirik Lula.


" Kenapa aku selalu salah di matamu Zha !" bentak Lula.


" Jangan pernah kau bentak putriku, seharusnya kamu mikir, kau jauh dari Ais, Ais lebih sempurna !" kata Abi.


" Anak itu jangan selalu di manjain mas, biar tidak ngelunjak !" kata Lula.


Ega merengek karena kurang es krimnya.


" Nanti kakak belajar bikin es krimnya mamah ya !" kata Zha membuat Abi terharu lalu memeluk putri kecilnya.


" Ayah bangga sama kamu, kau seperti Ais, mandiri " kata Abi sambil memeluk Zha dengan erat.


" Ayah ingat, waktu warung ayah bangkrut dulu, kita makan telor kukus, karena tidak ada minyak, atau bumbu lainya dengan di bumbuin garam oleh mama, dan mama selalu membelahnya jadi tiga, mama pilih makan nasi pakai garam di sudut dapur, yang penting keluarganya kenyang, itu terjadi tidak hanya sehari dua hari dari situ Zha belajar dari mama, walau umur Zha masih empat tahun, tapi Zha sudah ingat, dan Intan masih butuh Asi !"

__ADS_1


" Ayah ingat, itu karena ulah siapa ? karena ulahnya !" kata Zha menunjuk Lula


" Jangan kau ingat masa pahit, karena kita sudah punya segalanya " kata Abi.


" Zha hanya mengingatkan, betapa besar pengorbanan mama "


" Biar ayah buka mata tentang dirinya, kenapa dia tidak rela kalau keluarga kita bahagia ?" kata Zha sambil menatap Lula.


" Mamamu, segalanya bagi ayah, ayah tidak mungkin menghianatinya " janji Abi.


" Uhuk uhuk. . !" Zha tersendat Abi reflek melepaskan.


" Nanti ayah bantu ya !?" kata Abi.


Lula memanyunkan mulutnya.


" Mas mintak uang, aku mau perawatan !" bentak Lula pada Abi yang sedang membantu putrinya sambil menengadahkan tanganya.


" Emang kamu siapa aku ? mintak uang ! Ais saja yang istriku, tidak pernah meminta uang " kata Abi.


" Aku calon istrimu mas !" kata Lula.


" Ini tidak cukup mas !" teriak Lula.


" Kau tahu, itu saja aku hitung hutangmu, nanti pas kamu gajian di resto, akan saya potong, paham !" tekan Abi.


" Huh, baru kaya saja sombong !" kata Lula sambil berlalu pergi.


Di jalan, Lula bertemu dengan Wati tetangganya.


" Apa bener Lul, kamu mau nikah sama Abi, kamu tidak malu apa kalau orang berkata miring padamu, kalau jadi pelakor ?" tanya Wati.


" Kenapa harus malu, demi uang, rasa malu harus di buang, toh nanti jiga hidupku akan terjamin, secara Abi kan sekarang kaya ?" kata Lula dengan enteng.


" Berarti gosip kamu tidur di kamar dengan Abi itu hanya bikinan kamu ?" tanya Wati.


" Ya iyalah, saya jebak dia, ternyata Ais malah kabur, malah kesempatan banget tidak, secara, kalau Abi sadar pasti tidak mau tidur sama aku, Abi kan taat ber agama !" kata Lula.


" E emmm!" jawab Wati.


" Dan aku akan pura - pura hamil nanti "

__ADS_1


" Rahasia ini jangan sampai terbongkar loh secara hanya kamu yang tahu, lagian kamu bongkar juga tidak apa, pasti semua orang tidak percaya dengnmu !" kata Lula.


" Tidak lah, kan kamu sahabat aku " kata Wati merayu, dan berpisah karena Lula sudah sampai rumah.


[" Terima kasih Wati ?"] kata Ais dari sambungan teleponya saat mendapat satu bukti dari Wati, tentang percakapanya.


[" Biasa Ais, kita sesama wanita, harus bisa memahami, aku juga kalau dalam situasi sepertimu, mungkin akan marah " ] kata Wati.


[" Tapi tidak harus gegabah !"] kata Ais.


Wati memang sahabat Lula, tapi Ais berani memberi kocek yang banyak agar Wati mau membantunya.


...****************...


" Bi waktunya jemput anakmu !" kata bu Dwi menyuruh Abi memjemput anaknya sekolah.


" Sebentar buk, Abi istirahat dulu !" kata Abi yang baru masuk rumah merenggangkan tubuhnya di sofa.


" Kalau Ais tidak akan pernah telat, menjemput anaknya !" kata bu Dwi.


" Buk aku Abi, bukan Ais, jangan ibu bandingkan, yang anak ibu, Abi atau Ais " kata Abi dongkol, dan beranjak berdiri masuk ke dalam mobil dan menjemput anaknya.


Sesampainya di sekolahan, Abi menunggu di luar gerbang cukup lama, sambil melihat jam di pergelangan tanganya, satpam sekolah, menghampirinya dan mengetuk kaca mobil, dan bertanya pada Abi dengan sopan.


" Nunggu siapa pak ?" tanya satpam.


" Nunggu putri saya sekolah di sini !" jawab Abi.


" Maaf pak, semua anak sudah pulang semua !" kata satpam membuat Abi kaget.


" Apa anda melihat anak, yang satu umurnya, delapan tahun setengah, dan yang satunya empat tahun lebih ?" tanya Abi.


" Apa anda suaminya mbak Ais ?" tanya satpam di angguki Abi.


" Mereka tadi berjalan ke arah selatan pak, dan saya dengar tadi akan cari mamah gitu !" kata satpam.


" Terima kasih pak. !" kata Abi dan segera menstater mobil ke arah selatan.


[" Bang, Zhafi dan Intan hilang, cari mamahnya "] kata Abi menghubungi Jay.


[" Baik bang. . !"] kata Abi lagi setelah mendengar intruksi dari Jay.

__ADS_1


__ADS_2